Kinerja Moncer Perbankan Syariah Awal 2026 Capai Laba 17,10 persen

Kinerja Moncer Perbankan Syariah Awal 2026 Capai Laba 17,10 persen
Ilustrasi Teller Bank Syariah Indonesia (BSI) (Foto: kontan.coid)

JAKARTA – Sektor perbankan syariah mencatatkan performa yang luar biasa pada tiga bulan pertama tahun 2026. Kenaikan laba bersih serta penyaluran pembiayaan yang tumbuh dua digit menjadi indikator kuat bahwa industri ini mempunyai peluang ekspansi yang lebar di tengah situasi ekonomi domestik.

Mengacu pada data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), nilai pembiayaan bank umum syariah hingga Maret 2026 mengalami kenaikan 9,82% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 716,40 triliun. Kenaikan ini pun memicu total aset perbankan syariah naik 7,51% hingga menyentuh angka Rp 1,061 triliun.

Dalam hal profitabilitas, PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BSI) tetap mendominasi pasar. Bank dengan kode emiten BRIS tersebut meraih laba bersih Rp 2,20 triliun pada kuartal I-2026, atau melonjak 17,10% yoy jika dibandingkan dengan capaian periode yang sama tahun lalu, yakni Rp 1,87 triliun.

Hasil positif ini didorong oleh penyaluran pembiayaan yang meroket 22,83% menjadi Rp 151,72 triliun, dari posisi Rp 123,52 triliun pada kuartal I-2025. Selain itu, dana pihak ketiga (DPK) di BSI pun turut naik 17,99% yoy menjadi Rp 377 triliun.

Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, menyampaikan bahwa kenaikan laba tersebut disokong oleh pertumbuhan DPK serta dana murah atau current account savings account (CASA) yang termasuk salah satu yang tertinggi di industri perbankan Tanah Air.

“Salah satu penopang utama pertumbuhan dana murah berasal dari tabungan haji. BSI secara agresif menyasar segmen generasi muda untuk mulai menabung haji dan umrah sejak dini," kata Anggoro sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ia berpendapat, skema tersebut efektif meningkatkan pangsa pasar tabungan haji milik BSI. Pada 2023, penguasaan pasar tabungan haji BSI masih di bawah 50%, namun pada 2025 angka tersebut naik menjadi 53,6%. Dalam menjaga tren positif secara jangka panjang, BSI menerapkan strategi “3 on 3”, yakni mengutamakan pertumbuhan dana murah, pembiayaan yang sehat dan berkelanjutan, serta penguatan pendapatan berbasis komisi atau fee-based income.

Di sisi lain, PT Bank Mega Syariah pun melaporkan kenaikan laba yang cukup besar. Bank ini mengantongi laba bersih Rp 62,37 miliar pada kuartal I-2026, atau melesat 51,67% yoy dari posisi tahun sebelumnya sebesar Rp 41,12 miliar.

Kenaikan laba ini beriringan dengan tumbuhnya total pembiayaan sebesar 7,2% yoy menjadi Rp 9,26 triliun. Sementara itu, DPK yang terkumpul mencapai lebih dari Rp 10 triliun sampai akhir Maret 2026.

Corporate Secretary Division Head Bank Mega Syariah, Hanie Dewita, menjelaskan bahwa pencapaian ini adalah buah dari strategi perseroan dalam memperkokoh fondasi bisnis serta menjaga efisiensi kerja.

“Kami terus mengoptimalkan strategi bisnis dengan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan pembiayaan dan pengelolaan biaya dana. Di saat yang sama, kami juga memperkuat layanan kepada nasabah melalui inovasi produk dan sinergi ekosistem,” kata Hanie sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ke depannya, pihak bank akan terus meningkatkan manajemen risiko, menjaga kualitas aset, serta melakukan pengembangan bisnis dengan cara yang selektif dan berkelanjutan.

“Kami optimistis kinerja positif ini dapat terus terjaga hingga akhir tahun,” tutur Hanie sebagaimana dilansir dari berita sumber.

PT Bank BCA Syariah juga melaporkan kenaikan laba bersih 14,5% yoy menjadi Rp 54,18 miliar pada kuartal I-2026, dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar Rp 47,34 miliar.

Performa tersebut didukung oleh total pembiayaan yang berada di angka sekitar Rp 11 triliun atau tumbuh 20,2% secara tahunan. Sementara DPK BCA Syariah berada di angka Rp 15,94 triliun pada Maret 2026, naik 18,4% yoy dibandingkan Maret 2025 yang sebesar Rp 13,46 triliun.

Selanjutnya, Unit Usaha Syariah (UUS) PT CIMB Niaga Tbk., yaitu CIMB Niaga Syariah, tetap bertahan sebagai UUS paling besar di Tanah Air. Laba bersih CIMB Niaga Syariah per Maret 2026 tercatat Rp 483,76 miliar, meningkat 29,3% yoy dari tahun sebelumnya sebesar Rp 374 miliar.

Capaian tersebut didorong oleh penghimpunan DPK yang naik 15% menjadi Rp 45 triliun pada Maret 2026. Meski demikian, total pembiayaan tercatat Rp 52,9 triliun pada kuartal I-2026, atau menurun jika dibandingkan dengan tahun lalu yang sebesar Rp 59,01 triliun.

Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, menyebutkan bahwa CIMB Niaga Syariah terus memantapkan struktur pendanaan lewat peningkatan dana murah berbasis komunitas serta kolaborasi strategis syariah.

"Hal ini guna mendukung pertumbuhan berkelanjutan sekaligus memperluas pengembangan ekosistem keuangan syariah nasional," ucapnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berbeda dengan bank syariah lainnya, PT Bank BTPN Syariah memperlihatkan pertumbuhan laba yang lebih stabil. Pada kuartal I-2026, laba bersih BTPN Syariah naik 2,37% yoy menjadi Rp 317,15 miliar. Sementara, penyaluran pembiayaan meningkat 4% yoy menjadi Rp 10,6 triliun.

Direktur BTPN Syariah, Fachmy Achmad, menuturkan bahwa hasil tersebut menunjukkan efektivitas strategi pendampingan nasabah yang menjadi prioritas utama bank dalam melayani masyarakat inklusi.

“Momentum kuartal pertama menunjukkan bahwa model pendampingan yang kami terapkan berkontribusi pada kualitas pembiayaan. Kami melihat meningkatnya kepercayaan nasabah serta ketahanan usaha mereka, yang pada akhirnya memperkuat kualitas Bank," ujar Fahmy sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ia menimpali bahwa hasil tersebut merupakan buah kolaborasi semua pihak dalam memberdayakan masyarakat inklusi supaya memiliki perilaku unggul yang menjadi faktor utama keberhasilan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index