Penjualan SIDO Melemah 19 Persen Kuartal I 2026 Tetap Optimis

Penjualan SIDO Melemah 19 Persen Kuartal I 2026 Tetap Optimis
Ilustrasi PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO) (Foto: lldikti6.id)

JAKARTA – PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO) mencatatkan adanya penurunan performa pada periode kuartal I/2026, yang meliputi lini pendapatan hingga perolehan laba bersih.

Meski demikian, perseroan memandang proyeksi industri herbal di dalam negeri pada tahun ini akan tetap positif selaras dengan tingginya level kesadaran masyarakat terhadap kesehatan serta pemakaian produk berbasis herbal.

Apabila melihat laporan keuangan sampai dengan 31 Maret 2026, pemasukan SIDO berada pada posisi Rp640,5 miliar, atau mengalami penyusutan mencapai 19% jika dibandingkan dengan kurun waktu yang sama di tahun lalu yang sebesar Rp789,105 miliar.

Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk SIDO pun ikut mengalami penurunan dari sebelumnya Rp232,94 miliar pada kuartal I/2025 menjadi Rp147,213 miliar pada kuartal I/2026.

Direktur Utama SIDO, David Hidayat, menjelaskan bahwa merosotnya kinerja pada awal tahun ini sebagian besar dipicu oleh upaya normalisasi stok di tingkat distributor agar kondisi menjadi lebih sehat dan sejalan dengan permintaan riil dari konsumen.

“Selain faktor tersebut, kinerja perseroan juga terdampak normalisasi harga essential oil yang sebelumnya berada pada level tinggi tahun lalu. Pembatasan logistik selama periode lebaran yang berlangsung lebih panjang dibandingkan tahun sebelumnya juga turut memengaruhi distribusi produk,” katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber pada Senin (11/5/2026).

Walaupun begitu, pihak manajemen mempunyai keyakinan bahwa ketertarikan terhadap produk-produk herbal keluaran Sido Muncul masih tetap tinggi. Produk Tolak Angin disebut-sebut masih memimpin pasar herbal di dalam negeri dengan raihan pangsa pasar di kisaran 72%.

Di tengah kendala jangka pendek tersebut, Sido Muncul tetap menaruh optimisme besar terhadap masa depan industri herbal di sepanjang tahun 2026. Perusahaan melihat adanya tren konsumsi herbal di tanah air yang akan terus menanjak.

“Prospek industri herbal tetap positif. Katalis utamanya adalah meningkatnya kesadaran kesehatan, perubahan cuaca, mobilitas masyarakat, dan kuatnya budaya konsumsi herbal di Indonesia,” tuturnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Namun demikian, masih terdapat sejumlah hambatan yang membayangi sektor herbal pada tahun ini. Hal tersebut meliputi daya beli masyarakat yang kini kian selektif sampai dengan kenaikan pada beban operasional seperti biaya pembungkus, energi, logistik, serta adanya fluktuasi secara global.

Dalam rangka memperkuat capaian kinerja tahun ini, Sido Muncul telah menyusun sejumlah taktik. Perusahaan akan memperkuat pasar domestik melalui peluncuran saluran edukasi herbal yang diberi nama Sido HerbalPedia. Kanal ini memiliki tujuan untuk menumbuhkan kesadaran, kepercayaan, serta keterlibatan para konsumen terhadap khasiat dari herbal Indonesia.

Tidak hanya itu, Sido Muncul juga terus mendalami riset secara ilmiah terhadap produk-produknya. Selain berfokus pada pasar lokal, perseroan juga membidik langkah ekspansi global, terutama pada kawasan Asean dan Afrika yang dinilai memiliki potensi pertumbuhan pasar herbal yang cukup signifikan.

Dari sisi efisiensi, Sido Muncul akan menerapkan optimalisasi pada berbagai lini, mulai dari proses produksi, kemasan, pengaturan pihak pemasok, belanja iklan dan promosi, hingga pada rantai pasok.

Senada dengan hal itu, pemilik merek herbal Kutus-Kutus, Fazli Hasniel Sugiharto, berpendapat bahwa tren wellness yang berbasis herbal mulai berkembang melalui komunitas keluarga serta kalangan ibu muda.

Dalam pandangannya, kemajuan pada bisnis herbal sangat bergantung pada relasi personal serta metode pendekatan terhadap komunitas. Keberadaan komunitas wellness berbasis herbal tersebut dinilai sebagai sinyal positif atas meningkatnya minat masyarakat terhadap produk herbal lokal.

“Dengan dukungan kekayaan biodiversitas Indonesia dan tren hidup sehat yang terus berkembang, industri herbal nasional diproyeksikan memiliki potensi pertumbuhan yang besar dalam beberapa tahun mendatang,” ungkapnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa industri kimia, farmasi, serta obat tradisional termasuk herbal mengalami pertumbuhan sebesar 8,35% di sepanjang tahun 2025. Selain itu, aktivitas ekspor tanaman obat, aromatik, serta rempah dari Tanah Air juga meningkat dari kisaran US$222,8 juta pada tahun 2012 menjadi US$291,8 juta pada tahun 2023.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar sebelumnya mengutarakan bahwa peluang bagi kemajuan industri herbal nasional masih sangat terbuka. Ia menjelaskan bahwa pasar obat asli Indonesia memiliki potensi untuk menembus angka Rp350 triliun setiap tahunnya.

Akan tetapi, sampai dengan tahun 2025 realisasi dari nilai ekonomi pada sektor tersebut baru menyentuh hampir Rp2 triliun. Kondisi ini memberikan indikasi bahwa ruang untuk ekspansi industri herbal dan wellness domestik masih sangat luas, baik untuk pemenuhan konsumsi di dalam negeri maupun bagi keperluan ekspor.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index