IHSG Rawan Koreksi 0,92 Persen Menanti Pengumuman Rebalancing MSCI

IHSG Rawan Koreksi 0,92 Persen Menanti Pengumuman Rebalancing MSCI
Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rawan koreksi pada perdagangan Selasa. (Foto: investortrust.id)

JAKARTA – Sejumlah analis memprediksi bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memiliki kerawanan untuk terkoreksi pada sesi perdagangan Selasa (12/5/2026).

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta Utama, menilai bahwa indeks komposit saat ini bergerak dalam kondisi bullish divergence meskipun pola upward bar sudah mulai menampakkan diri.

Nafan menjelaskan bahwa indikator stochastic KD masih menunjukkan sinyal negatif ditambah dengan volume perdagangan yang terpantau mengalami penurunan. Ia menetapkan level support berada pada rentang 6.847-6.715, sementara level resisten berada di kisaran 7.014-7.119.

“Fokus utama pasar hari ini adalah pengumuman quarterly review dari MSCI,” kata Nafan dalam risetnya pada Selasa (12/5) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Nafan turut memaparkan adanya kekhawatiran pasar mengenai potensi keluarnya beberapa saham dengan kapitalisasi pasar besar (big caps), seperti PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dikarenakan masuk dalam daftar High Shareholder Concentration (HSC).

Spekulasi ini memicu ketakutan akan munculnya aliran modal keluar (outflow) asing dalam jumlah yang besar.

Sentimen lain yang memengaruhi pasar adalah ketegangan geopolitik antara Teheran dan Washington. Pada 11 Mei kemarin, Departemen Keuangan AS merilis sanksi baru terhadap 12 individu serta entitas yang dituduh menyokong perdagangan minyak ilegal Iran menuju China.

Di sisi lain, Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, menyampaikan bahwa IHSG hingga saat ini masih menguji zona support penting pada kisaran 6.850 sampai 6.960.

Peluang untuk berbalik menguat (rebound) tetap terbuka selama level tersebut mampu bertahan. Namun, risiko pelemahan yang lebih lanjut akan meningkat jika level tersebut berhasil ditembus.

“Pasar juga menantikan data retail sales Indonesia, inflasi AS, serta rebalancing MSCI,” kata Reza sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Adapun faktor yang menjadi sentimen positif bagi laju indeks hari ini meliputi penguatan di sektor teknologi serta optimisme terhadap performa emiten AI di Amerika Serikat yang memberikan suasana risk-off bagi pasar ekuitas global, termasuk pasar negara berkembang (emerging markets).

Selain itu, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang konsisten di atas level 100, pertumbuhan tahunan penjualan mobil, serta penundaan kenaikan royalti minerba turut menjadi penyangga positif bagi pasar.

Pada sesi perdagangan kemarin, Senin 11 Mei 2026, IHSG berakhir di zona merah setelah merosot 63,78 poin (0,92%) ke level 6.905. Pada saat itu, investor asing secara masif melakukan aksi jual bersih (net sell) mencapai Rp751,15 miliar di seluruh pasar perdagangan saham.

Di pasar reguler, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp659,16 miliar.

Pelepasan saham terbesar oleh investor asing terjadi pada PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan nilai mencapai Rp334,7 miliar. Dampak dari tekanan jual tersebut membuat saham BMRI terkoreksi 8,21% ke posisi Rp4.250/saham.

Pelemahan IHSG kemarin juga diperberat oleh nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang ditutup melemah 0,22% pada level Rp17.412/US$ di pasar spot menurut data Bloomberg.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index