JAKARTA – Cara menghitung Price to Earning Ratio (PER) dan PBV saham perlu dipahami oleh setiap investor sebelum mengambil keputusan beli, karena kedua rasio ini menjadi penentu utama apakah sebuah saham layak dibeli, terlalu mahal, atau justru sedang dijual di bawah nilainya.
Price to Earning Ratio atau PER adalah rasio yang membandingkan harga pasar saham dengan laba bersih per lembar saham yang dihasilkan perusahaan dalam satu tahun. Menurut pakar keuangan Eduardus Tandeilin, PER mengindikasikan berapa banyak rupiah dari laba yang bersedia dibayar pasar untuk setiap lembar saham yang dimiliki.
Sementara itu, Price to Book Value atau PBV adalah rasio yang membandingkan harga pasar saham dengan nilai buku per lembar saham perusahaan tersebut. Nilai buku sendiri merupakan total aset perusahaan setelah dikurangi seluruh kewajiban, yang kemudian dibagi jumlah saham beredar untuk mendapatkan angka per lembarnya.
Apa Rumus Price to Earning Ratio dan Bagaimana Cara Menghitungnya?
Rumus PER pada dasarnya sederhana: harga saham per lembar dibagi dengan Earning per Share (EPS). Sedangkan untuk mendapatkan EPS, rumusnya adalah laba bersih perusahaan dibagi jumlah saham yang beredar, dan data ini dapat diperoleh dari laporan keuangan tahunan emiten yang tersedia di situs Bursa Efek Indonesia.
Sebagai contoh, jika sebuah perusahaan mencatat laba bersih Rp1 miliar dengan 1 juta lembar saham beredar, maka EPS-nya adalah Rp1.000. Bila harga saham saat ini adalah Rp5.000, maka nilai PER yang dihasilkan adalah 5x — artinya investor membayar Rp5 untuk setiap Rp1 laba yang dihasilkan perusahaan.
Langkah-Langkah Menghitung PBV Saham Secara Praktis
Sebelum menghitung PBV, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mencari nilai buku per lembar saham (Book Value per Share atau BVPS). Berikut urutan cara menghitung PBV yang bisa diterapkan langsung:
1. Cari Total Ekuitas Perusahaan
Total ekuitas dapat ditemukan di neraca keuangan perusahaan pada bagian ekuitas pemegang saham. Nilai ini mencerminkan selisih antara total aset dan total kewajiban yang dimiliki perusahaan, dan menjadi dasar dari seluruh perhitungan nilai buku yang akan dilakukan selanjutnya.
2. Hitung Book Value per Share (BVPS)
Setelah memperoleh total ekuitas, bagi angka tersebut dengan jumlah seluruh lembar saham yang beredar. Misalnya, perusahaan dengan ekuitas Rp10 triliun dan 5 miliar lembar saham beredar akan menghasilkan BVPS sebesar Rp2.000, yang menjadi pembagi dalam perhitungan rasio PBV selanjutnya.
3. Hitung Rasio PBV
Langkah terakhir adalah membagi harga pasar saham saat ini dengan nilai BVPS yang sudah dihitung. Jika harga saham di pasar adalah Rp3.000 dan BVPS adalah Rp2.000, maka PBV-nya adalah 1,5x — yang berarti pasar bersedia membayar 1,5 kali lipat dari nilai buku perusahaan tersebut.
4. Bandingkan dengan Rata-Rata Industri
Angka PBV tidak bisa dibaca secara terisolasi karena setiap sektor memiliki karakteristik aset yang berbeda. PBV saham sektor perbankan wajar berada di atas 1 karena struktur bisnisnya, berbeda dengan sektor properti atau tambang yang memiliki tolok ukur berbeda berdasarkan kondisi pasar masing-masing.
Bagaimana Cara Membaca dan Menginterpretasikan Nilai PER yang Ideal?
Nilai PER yang ideal bagi kebanyakan value investor adalah di bawah 15x, karena angka di bawah angka tersebut menunjukkan saham masih relatif terjangkau dibandingkan kemampuan labanya. PER di atas 15x tidak selalu berarti buruk, namun memerlukan analisis lebih lanjut terhadap prospek pertumbuhan dan fundamental perusahaan.
Yang perlu diwaspadai adalah PER negatif, yang menandakan perusahaan sedang merugi. Investor juga disarankan tidak membandingkan PER lintas sektor, melainkan hanya antara perusahaan dalam industri yang sama, karena sektor siklikal seperti pertambangan dan teknologi memiliki standar PER yang sangat berbeda satu sama lain.
Perbedaan PER dan PBV: Mana yang Lebih Penting untuk Digunakan?
PER berfokus pada kemampuan perusahaan menghasilkan laba, sehingga lebih relevan untuk menilai saham perusahaan yang sudah profit dan konsisten mencatat keuntungan. Rasio ini sangat berguna sebagai filter awal dalam proses seleksi saham sebelum masuk ke analisis yang lebih mendalam.
PBV, di sisi lain, lebih cocok digunakan untuk perusahaan yang kaya aset nyata seperti perbankan, properti, dan manufaktur berat. Kombinasi keduanya memberikan gambaran valuasi yang lebih menyeluruh — PER menunjukkan harga relatif terhadap laba, sedangkan PBV menunjukkan harga relatif terhadap kekayaan bersih yang sesungguhnya dimiliki perusahaan.
Tips Menggunakan PER dan PBV agar Tidak Salah Beli Saham
Banyak investor pemula terjebak karena hanya mengandalkan 1 rasio dalam menilai saham. Berikut beberapa tips yang perlu diterapkan saat menggunakan PER dan PBV secara bersamaan:
1. Gunakan PER dan PBV Sekaligus
Kombinasi kedua rasio ini memberikan perspektif yang lebih lengkap dibandingkan hanya menggunakan salah satunya. Saham dengan PER rendah tapi PBV sangat tinggi bisa mengindikasikan kualitas aset yang tidak sehat, sehingga perlu dicermati lebih dalam sebelum memutuskan untuk masuk ke posisi beli.
2. Selalu Bandingkan dalam Sektor yang Sama
PER maupun PBV hanya bermakna jika dibandingkan antara perusahaan dalam sektor yang sama. Membandingkan PER saham bank dengan saham teknologi tidak akan menghasilkan kesimpulan yang valid karena standar valuasi dan struktur profitabilitas keduanya sangat berbeda secara mendasar.
3. Perhatikan Tren Historis Rasio
Selain membandingkan secara horizontal dengan sesama emiten, perhatikan juga tren PER dan PBV suatu perusahaan dari tahun ke tahun. Rasio yang terus meningkat bisa mengindikasikan harga saham sudah mulai kelewat mahal meski fundamental perusahaan tidak berubah secara signifikan.
4. Kombinasikan dengan ROE dan Debt to Equity
PER dan PBV akan jauh lebih informatif bila dikombinasikan dengan Return on Equity (ROE) untuk memastikan profitabilitas yang mendasarinya. Perusahaan dengan PBV rendah namun ROE buruk sering kali bukan peluang murah — melainkan tanda adanya masalah fundamental yang lebih serius di dalamnya.
5. Waspada pada PBV di Bawah 1 yang Terlalu Ekstrem
PBV di bawah 1 memang kerap diartikan sebagai saham murah, namun angka yang sangat rendah justru bisa menjadi sinyal bahwa pasar meragukan kelangsungan bisnis perusahaan. Sebelum membeli, periksa laporan arus kas, rasio utang, dan perkembangan terbaru sektor emiten tersebut secara menyeluruh.
Contoh Nyata Perhitungan PER dan PBV pada Saham Indonesia
Untuk memperjelas penerapannya, berikut ilustrasi sederhana. Misalkan suatu emiten perbankan memiliki harga saham Rp4.000, EPS Rp400, dan BVPS Rp2.000. Maka PER-nya adalah 10x dan PBV-nya adalah 2x — artinya saham diperdagangkan 10 kali lipat labanya dan 2 kali lipat nilai bukunya.
Jika rata-rata PER industri perbankan berada di angka 12x dan rata-rata PBV industri di 2,1x, maka saham tersebut secara relatif masih tergolong murah dari sisi PER, dan cukup wajar dari sisi PBV. Kondisi seperti inilah yang sering menjadi pertimbangan investor nilai dalam mengidentifikasi saham yang belum sepenuhnya diapresiasi pasar.
Kesimpulan
Cara menghitung Price to Earning Ratio (PER) dan PBV saham merupakan keterampilan dasar yang wajib dikuasai sebelum masuk ke pasar modal, karena kedua rasio ini menjadi kompas awal dalam menentukan apakah suatu saham layak dibeli atau justru perlu dihindari. PER menilai harga saham terhadap kemampuan labanya, sementara PBV melihat harga relatif terhadap nilai buku perusahaan — keduanya saling melengkapi dan paling efektif bila digunakan bersama. Agar keputusan investasi lebih solid, selalu kombinasikan kedua rasio ini dengan indikator fundamental lain seperti ROE, arus kas, dan kondisi makro industri yang relevan.