JAKARTA – Laba TINS berhasil menembus Rp 1,5 triliun pada kuartal I-2026, angka yang mencapai 595% dari target laba yang telah ditetapkan perusahaan sebesar Rp 252 miliar untuk tahun ini, menjadikan pencapaian ini sebagai yang paling menonjol dalam kinerja keuangan PT Timah Tbk (TINS) sejak lama.
Lonjakan laba ini ditopang oleh pertumbuhan pendapatan yang sangat signifikan. TINS mencatat pendapatan sebesar Rp 5,47 triliun pada kuartal I-2026 atau melonjak 160,5% year on year (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 2,10 triliun.
Perbaikan menyeluruh terlihat pada seluruh lini keuangan perseroan. Laba usaha TINS mencapai Rp 1,88 triliun, meningkat tajam dibandingkan kuartal I-2025 sebesar Rp 148 miliar, sementara EBITDA TINS tercatat sebesar Rp 2,1 triliun atau naik lebih dari 450% yoy dari posisi kuartal I-2025 yakni Rp 348 miliar.
Struktur neraca TINS juga turut menguat. Nilai aset TINS pada kuartal I-2026 naik 11,62% menjadi Rp 15,23 triliun dari Rp 13,64 triliun pada akhir 2025, sementara ekuitas naik 18,4% menjadi Rp 9,96 triliun dari Rp 8,41 triliun seiring dengan dibukukannya laba pada kuartal I-2026.
Kesehatan keuangan perseroan juga tercermin dari sejumlah rasio penting. Kinerja keuangan TINS menunjukkan Quick Ratio sebesar 105,1%, Current Ratio sebesar 276,1%, Debt to Asset Ratio sebesar 6,9%, dan Debt to Equity Ratio sebesar 10,6%.
Direktur Utama Timah Restu Widiyantoro menyebut capaian ini sebagai buah dari strategi efisiensi yang dijalankan secara konsisten. "Pada kuartal I-2026, TINS membukukan kinerja keuangan yang solid, ditopang oleh pencapaian operasional yang signifikan serta konsistensi strategi optimalisasi yang berkelanjutan di seluruh lini bisnis, sehingga perusahaan mampu melampaui target laba yang ditetapkan," ungkap dia dalam keterangan resmi, Jumat (1/5), sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Dari sisi operasional, produksi bijih timah TINS melonjak 96% yoy menjadi 6.312 ton Sn pada kuartal I-2026, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang mencapai 3.225 ton Sn. Peningkatan ini didorong oleh bertambahnya unit operasi, baik Kapal Isap Produksi (KIP), Ponton Isap Produksi (PIP), maupun tambang darat kemitraan, termasuk beroperasinya Kapal Keruk Singkep 1.
Produksi logam timah TINS pun naik 82% yoy menjadi 5.630 metrik ton Sn, sementara penjualan logam timah naik 113% yoy menjadi 6.009 metrik ton pada kuartal I-2026 dibandingkan 2.824 ton pada periode yang sama tahun sebelumnya. Harga jual rata-rata logam timah TINS tercatat sebesar US$ 49.221 per metrik ton pada kuartal I-2026, naik 51% yoy dibandingkan tahun sebelumnya sebesar US$ 32.495 per metrik ton.
Penjualan logam timah TINS pada kuartal I-2026 didominasi oleh pasar ekspor sebesar 97%, sementara penjualan domestik sebesar 3%. Adapun enam negara tujuan ekspor utama meliputi China 48%, India 11%, Korea Selatan 10%, Italia 6%, Singapura 5%, dan Belanda 4%.
Ke depan, TINS optimistis tren kinerja positif akan berlanjut, dengan peningkatan produksi, optimalisasi penambangan darat dan laut, serta tren harga timah global yang masih menguat di tengah ketatnya pasokan sebagai katalis utama.