Prospek Saham TAPG Tetap Menarik di Tengah Gejolak Harga CPO

Rabu, 29 Juli 2026 | 21:46:12 WIB
Ilustrasi saham tapg (FOTO: NET)

JAKARTA – Prospek kinerja serta harga saham PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) diproyeksikan tetap kokoh hingga penutupan tahun 2026 walaupun sempat menjumpai hambatan operasional pada kuartal pertama. Penurunan tipis pada pendapatan dan laba bersih di awal tahun diperkirakan hanya berlangsung sementara seiring peluang pulihnya produksi Tandan Buah Segar (TBS) pada semester II-2026.

Dukungan dari stabilnya harga minyak kelapa sawit dunia dan tingginya imbal hasil dividen membuat emiten perkebunan ini tetap memiliki daya pikat investasi yang kuat bagi pemodal pasar modal domestik.

Analis Phillip Sekuritas Indonesia Marvin Lievincent menjelaskan bahwa pendapatan TAPG pada kuartal I-2026 mengalami penyusutan 4,9% YoY menjadi Rp 2,5 triliun disebabkan volume penjualan yang lebih rendah. Penyusutan tersebut utamanya didorong oleh produksi CPO perseroan yang terkoreksi 6% YoY menjadi 141.646 ton.

Kendati demikian, lonjakan tajam pada volume penjualan TBS eksternal yang meningkat 101% YoY sanggup menahan tekanan terhadap pendapatan perseroan.

Dari sisi profitabilitas, marjin laba kotor TAPG menyusut tipis dari 34,8% menjadi 34,3% lantaran kenaikan beban pupuk. Peningkatan beban operasional sebesar 2,0% YoY pada akhirnya menekan laba bersih perseroan sebesar 8,1% YoY menjadi Rp 767 miliar.

Marvin menilai pencapaian kinerja keuangan kuartal pertama tersebut masih sesuai dengan estimasi awal yang ditetapkan. "Di tengah tantangan ini, TAPG dengan terampil menavigasi kondisi pasar, menunjukkan ketahanan dan kekuatan operasional," kata Marvin dalam risetnya, (13/7/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Marvin memperkirakan pendapatan TAPG dapat tumbuh dengan laju pertumbuhan tahunan majemuk sebesar 7,0% sepanjang periode 2024–2029. Pertumbuhan itu akan ditopang oleh pemulihan volume produksi serta pemintaan CPO yang stabil.

Dari sisi komoditas, harga CPO Malaysia diprediksi bergerak pada kisaran MYR 3.800–4.300 per ton sepanjang tahun 2026.

"Risiko penurunan dari tingkat tinggi saat ini akan dimitigasi oleh mandat biodiesel B40 Indonesia dan permintaan pangan yang stabil, sementara kenaikan lebih lanjut menuju MYR 4.500 per ton akan menghadapi resistensi akibat perkiraan penumpukan persediaan dan melimpahnya pasokan minyak nabati global di paruh kedua tahun ini," ujar Marvin sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sejalan dengan hal itu, Analis Ciptadana Sekuritas Asia Yasmin Soulisa memprediksi volume produksi TAPG bakal membaik secara signifikan pada kuartal-kuartal berikutnya. Yasmin menerangkan bahwa manajemen perseroan memproyeksikan distribusi produksi akan bergeser lebih tinggi pada semester II-2026 dengan proporsi 48/52.

TAPG menargetkan pertumbuhan produksi TBS sebesar 6% sampai 10% pada tahun ini didukung kondisi cuaca yang kondusif.

Mengenai biaya operasional, TAPG telah mengamankan seluruh kebutuhan pupuk tahun 2026 pada tingkat harga tahun sebelumnya. Namun, potensi kenaikan harga pupuk sebesar 20% hingga 30% pada tahun 2027 tetap menjadi hal penting yang perlu diwaspadai.

Dari sisi ekspansi, alokasi belanja modal TAPG tahun ini diperkirakan mencapai sekitar Rp 920 miliar.

Nominal belanja modal tersebut berada di atas tingkat tahunan biasa yang umumnya berkisar Rp 650 miliar hingga Rp 750 miliar. Peningkatan belanja modal terutama dipicu oleh pembangunan pabrik minyak kelapa sawit baru berkapasitas 45 ton per jam.

Pabrik minyak kelapa sawit baru tersebut ditargetkan rampung pada akhir 2027 atau awal 2028. Sementara itu, sisa belanja modal dialokasikan untuk pemeliharaan rutin dan penanaman kembali.

TAPG menargetkan penanaman kembali sekitar 4.000 hektare setiap tahun demi menjaga profil usia perkebunan yang ideal sebesar 14,6 tahun per akhir Maret 2026.

Di luar aspek operasional, pasar sempat mencermati rencana pengawasan ekspor komoditas melalui Danantara Sumberdaya Indonesia. Yasmin menilai bahwa dampak langsung skema Danantara Sumberdaya Indonesia terhadap TAPG sangat terbatas karena perseroan tidak melakukan kegiatan ekspor secara langsung.

Malahan, rencana penerapan mandatori Biodiesel B50 pada semester II-2026 dinilai sebagai pendorong utama permintaan CPO dalam negeri.

"Mengenai fundamental industri, manajemen tetap optimistis bahwa rencana peluncuran biodiesel B50 pada semester II-2026 akan memperkuat permintaan CPO domestik dan menopang harga, membantu menyerap perkiraan peningkatan produksi minyak kelapa sawit tahun ini," ungkap Yasmin dalam risetnya, (12/6/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Yasmin menambahkan bahwa kondisi keuangan TAPG yang kuat amat mendukung pembagian dividen secara rutin. Pembagian dividen Rp 180 per saham untuk tahun buku 2025 memberikan imbal hasil dividen sekitar 12%.

Pencapaian ini mempertegas posisi TAPG sebagai salah satu saham perkebunan dengan imbal hasil dividen tertinggi di Bursa Efek Indonesia. Aksi pelepasan saham yang sempat terjadi belakangan ini dinilai Yasmin hanya bersifat sementara dan membuka peluang masuk.

Berdasarkan pertimbangan prospek pertumbuhan kinerja serta dividen yang menarik, para analis mempertahankan pandangan positif untuk saham TAPG. Marvin merekomendasikan BUY untuk TAPG dengan target harga Rp 2.050 per saham.

Sementara itu, Yasmin juga mempertahankan rekomendasi buy saham TAPG pada level Rp 1.980 per saham.

Terkini