Rupiah Anjlok 8,5 Persen YtD Kebijakan BI dan Geopolitik Jadi Sorotan

Rupiah Anjlok 8,5 Persen YtD Kebijakan BI dan Geopolitik Jadi Sorotan
Ilustrasi nilai tukar (FOTO: NET)

JAKARTA – Tekanan pada nilai tukar rupiah kian berat seiring meningkatnya ketidakpastian kebijakan domestik. Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pelemahan rupiah tidak hanya dipicu sentimen global, tetapi juga kecemasan pasar terhadap keberlanjutan kebijakan moneter di tanah air.

Pada Selasa (28/7), rupiah masih berada di atas tingkat psikologis Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), dengan penurunan sekitar 1% secara month to date (MtD) dan 8,5% sejak awal tahun atau year to date (YtD). Hal tersebut menjadikan mata uang Garuda mengalami pelemahan paling dalam di kawasan.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Jessica Tasijawa menerangkan, meski tensi geopolitik Timur Tengah sempat mereda usai jeda konflik AS dan Iran, ketidakpastian tetap tinggi. Iran menyangkal adanya gencatan senjata resmi dan menegaskan negosiasi dengan AS belum berjalan kembali.

Di sisi lain, perhatian pasar tetap tertuju pada Selat Hormuz yang masih ditutup, sementara aktivitas militer terus berlangsung. Walau harga minyak merosot lebih dari 2% akibat ekspektasi penurunan risiko gangguan pasokan, prospek geopolitik dipandang masih amat belum pasti.

Dari dalam negeri, pemerintah melonggarkan ketentuan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) bagi ekspor ke AS, China, Australia, dan Kanada. Eksportir pertambangan yang memenuhi kriteria kini cuma diwajibkan menaruh minimal 30% dana hasil ekspor di rekening khusus dalam negeri selama tiga bulan, dari aturan lampau yang mewajibkan 100% selama 12 bulan.

"Meski kebijakan ini diperkirakan akan meningkatkan likuiditas eksportir dan menjaga daya saing perdagangan, relaksasi tersebut berpotensi mengurangi likuiditas valas domestik dan melemahkan dukungan struktural terhadap stabilitas Rupiah," tulis Jessica dalam riset Rabu (29/7) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Jessica turut menilai depresiasi tajam mata uang rupiah utamanya dipicu kekhawatiran pasar atas isu pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo.

"Depresiasi rupiah yang tajam terutama didorong oleh kekhawatiran atas isu pengunduran diri Gubernur BI Perry Warjiyo yang meningkatkan ketidakpastian terhadap keberlanjutan kebijakan, kredibilitas institusi, dan tata kelola," ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Tekanan turut terlihat di pasar obligasi. Yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik menjadi 7,39%, sedangkan imbal hasil tenor dua tahun cenderung stabil di 7,11%.

Kondisi ini menandakan para investor masih memprioritaskan obligasi berjangka pendek di tengah tingginya ketidakpastian.

Di samping itu, premi risiko Indonesia juga merangkak naik. Credit Default Swap (CDS) tenor lima tahun melonjak jadi 93 basis poin, angka tertinggi dalam satu bulan terakhir, yang menggambarkan lonjakan persepsi risiko pada aset Indonesia.

Ke depan, Mirae Asset Sekuritas memproyeksikan pelaku pasar bakal tetap mengambil sikap wait and see sampai terdapat kepastian penunjukan Gubernur BI yang baru serta langkah pemerintah menjaga kebijakan.

Permintaan surat utang diperkirakan masih berpusat pada tenor pendek, sedangkan arah pergerakan sentimen pasar sangat bergantung pada kapabilitas pemerintah memastikan transisi kepemimpinan berjalan mulus serta menjaga kepercayaan pada kerangka kebijakan moneter Indonesia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index