Saham BBCA Naik Terus, Cek Potensi Cuan Investor Ritel

Selasa, 21 Juli 2026 | 19:44:51 WIB
Ilustrasi grafik saham bbca (Sumber : NET)

JAKARTA – Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melanjutkan penguatannya pada perdagangan Selasa (21/7/2026). Pergerakan ini memicu pertanyaan terkait potensi keuntungan bagi investor ritel dari saham milik Grup Djarum tersebut.

Pada pembukaan perdagangan Selasa (21/7), saham BBCA terangkat 72 poin ke level Rp 6.525. Tren positif ini meneruskan laju kenaikan yang telah berlangsung sejak pekan sebelumnya.

Dalam rentang lima hari perdagangan terakhir, saham bank berkapitalisasi besar ini menguat 400 poin atau 6,53 persen. Walaupun demikian, sejak awal tahun 2026 pergerakannya masih tercatat terkoreksi 1.500 poin atau 18,69 persen.

Kenaikan saham BBCA terjadi seiring melonjaknya minat investor asing pada saham bank milik Grup Djarum ini. Data pasar mencatatkan BBCA sebagai saham dengan nilai pembelian bersih (net buy) asing paling tinggi selama dua hari berturut-turut.

Investor asing membukukan net buy senilai Rp 186,7 miliar pada Kamis (16/7/2026). Angka pembelian asing tersebut meningkat pesat menjadi Rp 698,3 miliar pada Jumat (17/7/2026), sehingga menjadikannya saham yang paling banyak dibeli asing pada hari itu.

Di tengah maraknya aliran dana asing, pasar negosiasi juga diwarnai oleh transaksi crossing saham BBCA bernilai besar. Berdasarkan data BEI pada Jumat (17/7/2026), nilai transaksi crossing saham BBCA menembus sekitar Rp 1,2 triliun.

Transaksi crossing tersebut mencakup 1,9 juta lot saham BBCA pada harga rata-rata Rp 6.400 per saham. Pelaksanaan transaksi menggunakan broker berkode BK atau J.P. Morgan Sekuritas Indonesia.

Broker BK tercatat bertindak sekaligus sebagai pihak pembeli dan penjual dengan nominal transaksi yang setara, yakni sekitar Rp 1,2 triliun.

Selain broker BK, pasar negosiasi merekam pula transaksi saham BBCA lewat broker HP atau Henan Putihrai Sekuritas. Nilai transaksi lewat broker HP menyentuh Rp 492,8 miliar untuk 666 lot pada harga rata-rata Rp 7.400 per saham.

Sementara itu, transaksi via broker lain seperti XL, SQ, YU, DX, ZP, dan AK terpantau bernilai relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan broker BK dan HP.

Kendati harganya terus mendaki, Kiwoom Sekuritas menilai saham BBCA masih menyimpan potensi keuntungan yang menjanjikan. Kiwoom Sekuritas menetapkan rekomendasi buy dengan target harga 12 bulan di angka Rp 8.075 per saham.

Prospek saham ini didukung oleh performa keuangan Bank BCA yang solid pada awal tahun. Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menyampaikan bahwa kinerja BBCA pada kuartal I-2026 memperlihatkan daya tahan di tengah kondisi operasional yang kian menantang.

Pendapatan operasional BBCA mencapai Rp 27,8 triliun atau tumbuh 3,3 persen secara tahunan. Capaian ini didorong oleh kenaikan pendapatan nonbunga menjadi Rp 6,6 triliun, kendati perolehan pendapatan bunga bersih cenderung datar.

Laba bersih BBCA berada di angka Rp 14,7 triliun pada kuartal pertama 2026 atau tumbuh 3,8 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan ini disokong oleh efisiensi beban operasional yang mampu menjaga tingkat profitabilitas secara stabil.

"Meski pertumbuhan kredit melambat dan margin bunga bersih tertekan, fundamental inti BBCA tetap kuat berkat basis dana murah yang solid, struktur biaya yang efisien, serta pendekatan penyaluran kredit yang lebih selektif," tulis Liza dalam riset yang dirilis, Kamis (16/7/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Penyaluran kredit BBCA tercatat sebesar Rp 993,8 triliun atau naik 5,6 persen secara tahunan. Kenaikan disumbang oleh segmen kredit korporasi, komersial, dan UMKM, sedangkan segmen kredit konsumer masih melemah.

Dari sisi pendanaan, perolehan dana murah atau current account saving account (CASA) tumbuh 11,2 persen menjadi Rp 1.089 triliun. Peningkatan ini memperkuat keunggulan biaya dana BBCA di tengah persaingan likuiditas perbankan.

Liza menilai kualitas aset BBCA masih berada dalam kondisi yang terjaga. Rasio kredit bermasalah (gross NPL) berada pada level 1,8 persen, sementara loan at risk (LAR) tercatat sebesar 5,1 persen.

Peluang pemulihan kinerja BBCA dinilai masih terbuka jika pertumbuhan kredit kembali terakselerasi, tekanan margin bunga bersih berkurang, dan kemampuan penghimpunan dana murah tetap terjaga.

"Namun risiko utama BBCA datang dari tekanan margin bunga bersih yang berkepanjangan, pertumbuhan kredit yang lebih lemah serta memburuknya kondisi makroekonomi," jelas Liza sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Terkini