Wall Street Naik Berkat Reli Sektor Semikonduktor dan Penurunan Harga Minyak

Jumat, 10 Juli 2026 | 11:20:40 WIB
Ilustrasi: Indeks Nasdaq Composite memimpin penguatan Wall Street dengan kenaikan 1,30 persen pada perdagangan Kamis. (Gambar: NET)

NEW YORK – Indeks-indeks saham Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Kamis (9/7/2026), didorong reli saham semikonduktor dan pelemahan harga minyak di tengah ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

"Indeks Nasdaq Composite memimpin penguatan dengan melonjak 1,30 persen ke level 26.206,89. Sementara itu, indeks S&P 500 naik 0,81 persen menjadi 7.543,64 dan Dow Jones Industrial Average bertambah 139,02 poin atau 0,27 persen ke posisi 52.487,41," sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Sektor semikonduktor memimpin penguatan pasar dengan kenaikan ETF VanEck Semiconductor (SMH) sebesar 2,5 persen. Hal ini didorong oleh kenaikan saham Micron Technology sebesar 4,5 persen dan saham Sandisk yang melesat 7,6 persen.

Bursa Eropa turut mencatatkan penguatan dengan indeks pan-Eropa Stoxx 600 yang ditutup naik 0,8 persen. Para investor terus memantau perkembangan terkini konflik di Timur Tengah.

Kawasan Asia mencatat pergerakan bervariasi dengan indeks Nikkei 225 Jepang menguat 1,4 persen dan Kospi Korea Selatan naik 0,62 persen. Sementara itu, indeks Hang Seng Hong Kong turun 0,5 persen, sedangkan indeks CSI 300 China daratan melonjak 2,5 persen.

Komando Pusat AS menyatakan bahwa Washington kembali melancarkan serangan terhadap Iran untuk hari kedua berturut-turut. Serangan ini terjadi setelah Teheran menyerang kapal-kapal komersial di sekitar Selat Hormuz yang mengganggu lalu lintas pelayaran energi.

Harga minyak justru melemah setelah Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa Iran telah menghubungi Washington untuk mencapai kesepakatan. Qatar dan Pakistan saat ini berupaya memediasi kedua negara tersebut agar kembali ke meja perundingan.

Pernyataan tersebut berbeda dengan sikap Trump sehari sebelumnya yang mengaku tidak lagi tertarik untuk bernegosiasi. Sebelumnya, Trump juga sempat menyebut bahwa gencatan senjata antara AS dan Iran telah berakhir.

Chief Investment Officer Verdence Capital Advisors, Megan Horneman, mengatakan bahwa ketidakpastian geopolitik masih menjadi ancaman bagi pasar.

"Situasi ini sangat inflasioner dan penuh ketidakpastian. Konflik bisa berakhir besok atau justru berkembang menjadi lebih besar. Karena itu, investor perlu memiliki portofolio yang terdiversifikasi secara global," sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Menurutnya, pasar saham akan tetap volatil karena investor mulai terbiasa dengan dinamika konflik yang memanas dan mereda secara bergantian. Horneman juga menilai pasar ekuitas belum sepenuhnya memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga acuan The Fed pada paruh kedua 2026.

"Masalah inflasi kemungkinan akan berlanjut hingga akhir tahun ini, dan bukan hanya dipicu oleh harga minyak," sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Ia menambahkan bahwa meskipun investasi kecerdasan buatan berpotensi menekan inflasi dalam jangka panjang, pertumbuhan ekonomi yang kuat dan konsumsi masyarakat yang tinggi tetap menjadi faktor pendorong inflasi jangka pendek.

Terkini