JAKARTA – PT Geoprima Solusi Tbk. (GPSO) Merancang peta jalan bisnis yang baru pada sektor komponen mekanikal serta permesinan (machining) pasca-diambil alih oleh PT PIMSF, yang berada di bawah naungan Tjokro Group. Direktur Utama Geoprima Solusi, Dionysius Tjokro, mengungkapkan bahwa PIMSF telah menyelesaikan proses akuisisi perusahaan pada November 2025.
Berikutnya, bertempat pada 13 Februari 2026, PIMSF melaksanakan Penawaran Tender Wajib atau Mandatory Tender Offer (MTO) kepada masyarakat luas, sehingga secara legalitas bertindak sebagai pemegang saham pengendali (PSP) teranyar dari GPSO. Bergabungnya PIMSF merupakan bagian dari rencana transformasi sekaligus konsolidasi usaha Tjokro Group dalam memperkokoh postur permodalan sekaligus melebarkan sayap bisnis perusahaan.
“PIMSF bersama perseroan memiliki arah bisnis baru untuk menjadi pemain utama dan pemimpin di industri komponen mekanikal dan permesinan dengan melakukan penguasaan sektor hulu hingga hilir,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Dionysius memaparkan, lewat langkah integrasi ini, GPSO diproyeksikan untuk bertransformasi menjadi penyedia solusi mekanikal terintegrasi (one stop solution for mechanical) yang mengendalikan penuh rantai produksi beserta turunannya.
Tjokro Group sendiri diklaim telah memiliki rekam jejak selama lebih dari 57 tahun pada sektor mekanikal, serta memosisikan diri sebagai salah satu pelaku industri utama di sektor tersebut di skala nasional.
Ke depannya, perusahaan bersama dengan PIMSF akan memprioritaskan pengamanan rantai pasok industri solusi komponen mekanikal, mulai dari ranah hulu (upstream) hingga ke hilir (downstream).
Rencana strategis ini diterapkan demi memastikan ketersediaan pasokan bahan baku internal kelompok usaha sekaligus memperluas jangkauan pasar. Di samping itu, penyatuan ini juga ditujukan demi mendongkrak kuantitas pelanggan, mempertebal basis kepercayaan pasar, serta memproduksi barang-barang mekanikal yang memiliki tingkat kerumitan lebih tinggi.
Dionysius menerangkan lebih lanjut bahwa strategi konsolidasi ini diproyeksikan mampu meningkatkan kompetitivitas perusahaan di tengah rivalitas industri yang kian ketat, baik untuk skala domestik maupun di kancah internasional.
Adapun pelaksanaan awal dari target bisnis baru ini dijadwalkan bergulir setelah perusahaan mengantongi restu dari para pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 2 Juni 2026 mendatang, sehubungan dengan aksi korporasi pada fase pertama.
PT Geoprima Solusi Tbk. (GPSO) Membuktikan keseriusannya terhadap penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) di sepanjang tahun 2025 lewat sederet kebijakan penghematan energi, peningkatan inklusivitas pekerja, hingga manajemen risiko berbasis keberlanjutan yang terpadu.
Dionysius Tjokro menyebutkan bahwa perusahaan terus memetakan serta mengendalikan berbagai isu keberlanjutan yang berpotensi memengaruhi ketahanan korporasi maupun operasional harian.
Sepanjang tahun 2025, GPSO membukukan angka penjualan bernilai Rp5,33 miliar dengan total rugi usaha mencapai Rp3,17 miiliar. “Capaian tersebut menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat struktur keuangan sekaligus menyusun strategi pertumbuhan jangka panjang,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Pada pilar lingkungan, GPSO mencatatkan hasil positif berupa penurunan total pemakaian energi sebesar 16,65%. Tidak hanya itu saja, tingkat konsumsi daya listrik di area perkantoran juga mampu ditekan hingga sebesar 32,37% bila dikomparasikan dengan tahun sebelumnya.
Menurut Dionysius, perolehan angka ini merepresentasikan konsistensi korporasi dalam mengimplementasikan kebijakan efisiensi energi secara akurat dan berkelanjutan.
Sedangkan dari pilar sosial, GPSO terus mendorong terciptanya lingkungan kerja yang setara tanpa adanya pemisahan atau diskriminasi. Perusahaan juga berkomitmen untuk mempertahankan proporsi pekerja perempuan demi mewujudkan iklim organisasi yang inklusif serta kompetitif.
Melalui payung program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), GPSO memfokuskan programnya pada sektor pemberdayaan perempuan, dekarbonisasi atau pengurangan emisi, serta penyelarasan terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB).
Fokus utamanya diarahkan pada TPB 5 terkait Kesetaraan Gender, TPB 8 mengenai Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, serta TPB 13 sehubungan dengan Penanganan Perubahan Iklim.
Menatap masa depan, GPSO menangkap peluang ekspansi bisnis melalui penguatan kolaborasi strategis serta penyusunan inisiatif yang rendah emisi. Langkah taktis ini dipandang mampu mendongkrak daya saing bisnis sekaligus menjaga keselarasan antara ekspansi profitabilitas korporasi dan pemenuhan tanggung jawab keberlanjutan.