NEW YORK – Dolar AS menguat terhadap mata uang utama dunia setelah Federal Reserve memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%-3,75%, sementara ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang tak kunjung mereda terus mendorong arus modal ke aset aman berdenominasi dolar.
Keputusan The Fed tersebut merupakan yang ketiga kali berturut-turut dalam mempertahankan suku bunga di level yang sama. Ini sekaligus menjadi pertemuan terakhir Jerome Powell sebagai Ketua Federal Reserve sebelum Kevin Warsh diprakirakan menggantikannya, menambah lapisan ketidakpastian tersendiri bagi pasar keuangan global.
"Nada kebijakan yang konsisten, dipadukan dengan proyeksi terbaru yang menunjukkan pertumbuhan lebih rendah, lapangan kerja lebih lemah, dan inflasi lebih tinggi dibanding Desember, menjadi sinyal paling jelas bahwa the Fed di bawah Chairman Jerome Powell melihat harga energi yang tinggi sebagai faktor sementara, tapi merusak permintaan di ekonomi Amerika," ujar Karl Schamotta, Kepala Strategi Pasar Corpay, Toronto, sebagaimana dilansir dari berbagai sumber, Kamis (30/4/2026).
Joseph Trevisani, analis FX Street, New York, berpendapat bahwa keputusan The Fed kali ini merupakan sebuah "hawkish hold". Menurutnya, meski proyeksi pemangkasan suku bunga sebanyak 1 kali pada 2026 tidak berubah, imbal hasil US Treasury saat ini berada lebih tinggi dibanding 2 hingga 3 bulan lalu, kondisi yang secara langsung menjadi penopang kuat bagi dolar AS.
Indeks Dolar AS (Indeks DXY), tolok ukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang 6 mata uang utama, diperdagangkan di dekat zona 99,00 pasca pengumuman keputusan The Fed. Sebelumnya, DXY sempat bergerak di kisaran 98,66 dengan mencatatkan kenaikan 0,27% dalam sehari, diperkuat oleh harga energi yang masih bertahan tinggi dan data ekonomi AS yang solid.
Di sisi geopolitik, konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran belum menunjukkan tanda-tanda pendinginan. Iran kembali menyita kapal di Selat Hormuz, jalur distribusi energi global yang menanggung sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia. Situasi ini terus membebani sentimen pasar dan mendorong permintaan terhadap aset safe-haven, termasuk dolar AS.
Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) melonjak ke kisaran USD106,95 per barel, sementara minyak Brent tercatat di USD108,23 per barel, naik 2,75%. Lonjakan harga energi ini memantik kekhawatiran inflasi yang lebih luas, sekaligus meredam ekspektasi pasar terhadap kemungkinan pemangkasan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.
Suara dalam voting FOMC terbilang paling terpecah sejak Oktober 1992, yakni 8 berbanding 4. Gubernur Stephen Miran menjadi satu-satunya yang mendorong pemangkasan suku bunga seperempat poin persentase. Sementara itu, Beth Hammack, Neel Kashkari, dan Lorie Logan memilih mempertahankan suku bunga namun menolak dimasukkannya bias pelonggaran dalam pernyataan resmi komite.
Di pasar valuta asing, euro melemah 0,5% ke posisi USD1,148, sementara dolar melonjak 0,92% menjadi 0,792 terhadap franc Swiss. Yen Jepang tergelincir 0,43% ke level 159,7 per dolar, semakin mendekati ambang psikologis 160 yang kerap dipandang sebagai zona intervensi otoritas moneter Tokyo. Poundsterling juga terkoreksi 0,46% ke USD1,3292.
Pasar kini memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga oleh The Fed hanya sekitar 28% hingga akhir 2026. Angka ini turun drastis dari ekspektasi sebelumnya yang mematok 2 kali pemangkasan, seiring memanasnya risiko inflasi yang dipicu konflik energi di Timur Tengah. Survei Reuters terhadap para ekonom menunjukkan mayoritas memprakirakan The Fed masih akan menahan suku bunga setidaknya hingga akhir September 2026.