WASHINGTON – Federal Reserve pertahankan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75% dalam keputusan yang menjadi salah satu paling terpecah sejak 1992, setelah 4 pejabat menyampaikan perbedaan pendapat dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada Rabu (29/4/2026) waktu setempat.
Perdebatan sengit di tubuh bank sentral AS itu bukan sekadar urusan angka. Pertemuan yang juga digadang-gadang sebagai sesi terakhir Jerome Powell sebagai Ketua The Fed tersebut mencerminkan pergulatan mendalam atas arah kebijakan moneter di tengah inflasi yang belum jinak dan ketidakpastian geopolitik yang terus membayangi.
"Inflasi meningkat, sebagian mencerminkan kenaikan harga energi global baru-baru ini," demikian bunyi pernyataan resmi FOMC pasca-rapat, sebagaimana dilansir dari berbagai sumber, Kamis (30/4/2026).
Karl Schamotta, Kepala Strategi Pasar Corpay di Toronto, berpendapat bahwa nada kebijakan yang konsisten dari The Fed, dipadukan dengan proyeksi pertumbuhan yang lebih rendah dan inflasi lebih tinggi, menunjukkan bahwa bank sentral memandang lonjakan harga energi sebagai tekanan sementara namun tetap menggerus permintaan domestik AS.
Dari 12 suara dalam voting, hasilnya terbelah 8 berbanding 4 — angka perpecahan paling tajam dalam satu rapat FOMC sejak Oktober 1992. Gubernur Stephen Miran mengambil posisi paling berbeda dengan mendukung pemangkasan suku bunga sebesar 0,25 persen, berseberangan dengan mayoritas yang memilih status quo.
Sementara itu, 3 dissenter lain yakni Beth Hammack dari Cleveland Fed, Neel Kashkari dari Minneapolis Fed, dan Lorie Logan dari Dallas Fed, memilih mempertahankan suku bunga namun secara tegas menolak dimasukkannya bahasa yang mengindikasikan bias pelonggaran (easing bias) dalam pernyataan resmi komite. Penolakan ini mencerminkan kekhawatiran serius atas inflasi yang dinilai belum terkendali.
Perubahan bahasa dalam pernyataan kebijakan kali ini juga mencolok. The Fed kini menyebut inflasi berada pada level "tinggi", naik dari frasa sebelumnya yang hanya menyatakan "sedikit tinggi". Pergeseran diksi tersebut dipandang sebagai sinyal bahwa para pejabat mulai mengakui tekanan harga yang makin serius, khususnya yang dipicu lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah.
Konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran terus menambah lapisan ketidakpastian bagi prospek ekonomi. Selat Hormuz yang menjadi jalur distribusi sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas global masih terganggu, mempertahankan harga minyak di level tinggi dan memantik ekspektasi inflasi yang terus merayap naik.
The Fed dalam pernyataannya tetap mempertahankan frasa bahwa keputusan ke depan bergantung pada "besaran dan waktu penyesuaian tambahan". Namun kalimat ini pun tak luput dari perdebatan, karena sebagian pejabat menilai frasa tersebut terlalu dovish mengingat kondisi inflasi saat ini.
Powell dijadwalkan mengakhiri masa jabatannya sebagai Ketua The Fed pada 15 Mei mendatang. Kevin Warsh, calon pengganti yang didukung Presiden Donald Trump, diprakirakan akan membawa pendekatan yang lebih agresif dalam penyesuaian suku bunga jika resmi menjabat, meski Warsh sendiri menegaskan tidak membuat janji apapun kepada Trump terkait arah kebijakan bunga.
Bagi pasar, pesan dari rapat April ini cukup jelas: pemangkasan suku bunga tidak akan datang dalam waktu dekat. Peluang pemangkasan hingga akhir 2026 kini diperkirakan hanya sekitar 28%, jauh menyusut dari ekspektasi awal tahun yang sempat mematok 2 kali penurunan. Pasar tenaga kerja yang masih solid dan inflasi yang bertahan di atas target 2% membuat The Fed tidak punya ruang untuk bergegas.