JAKARTA – PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) mencatatkan laba bersih yang bersifat datar dan berada di bawah ekspektasi pada kuartal pertama 2026, dengan pemulihan kinerja secara signifikan diproyeksikan baru akan terjadi pada semester kedua tahun ini setelah rampungnya turnaround terjadwal pabrik amonia.
Hasil kuartal I 2026 ini melanjutkan tekanan yang sudah dirasakan perseroan sejak awal 2025, ketika laba bersih pada periode yang sama tahun lalu tercatat turun 20% menjadi USD8 juta akibat berkurangnya pasokan gas ke pabrik amonia dari pemasok hulu. Kondisi datar di awal 2026 kini datang dari faktor berbeda, yakni antisipasi penghentian operasional terjadwal Banggai Ammonia Plant yang dimulai 6 Mei 2026.
"Pada tahun ini kami akan melaksanakan turnaround terjadwal untuk pabrik amonia pada kuartal II-2026 guna memastikan keselamatan, keandalan, efisiensi, dan keberlanjutan operasional dalam jangka panjang. Dengan pengelolaan keuangan yang prudent, kami juga berhasil memperkuat posisi neraca untuk mendukung peluang pertumbuhan ke depan," ujar Kanishk Laroya, Presiden Direktur dan CEO ESSA, dalam siaran resminya, Jumat (6/3/2026).
Kanishk menambahkan, ESSA kini berada dalam posisi keuangan yang jauh lebih kuat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Perseroan berhasil melunasi seluruh pinjaman lebih awal sehingga kini berstatus bebas utang, dengan posisi kas bersih sebesar USD126 juta, yang memberikan fleksibilitas untuk mendanai ekspansi strategis.
Dari sisi operasional, penghentian sementara Banggai Ammonia Plant oleh anak usaha PT Panca Amara Utama dijadwalkan berlangsung sekitar 5 minggu mulai awal Mei 2026. Perseroan menegaskan penghentian ini merupakan bagian dari komitmen menjaga keandalan fasilitas produksi jangka panjang, meskipun akan berdampak pada penurunan volume produksi amonia selama periode tersebut.
Meski demikian, konteks pasar global justru menguntungkan ESSA ke depan. Harga amonia telah melonjak tajam hingga 50% sejak pecahnya konflik geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu pasokan gas dunia, termasuk penghentian di pabrik MPC Ma'aden Arab Saudi dan gangguan struktural di Trinidad. Indo Premier Sekuritas menaikkan proyeksi laba bersih ESSA untuk 2026 menjadi USD103 juta, naik lebih dari 2 kali lipat dibandingkan realisasi 2025 sebesar USD40 juta.
Momen pemulihan ini sejalan dengan data internal perseroan. Pada kuartal IV 2025, ESSA sudah mendemonstrasikan daya ungkit operasional yang signifikan ketika harga amonia naik 31% secara kuartalan, mendorong laba bersih melonjak 194% secara kuartalan menjadi USD19 juta. Sensitivitas yang tinggi ini—dimana setiap perubahan 1% harga amonia berpengaruh 1,6% terhadap laba bersih—menjadi landasan mengapa analis optimistis terhadap kinerja semester II 2026.
Dari sisi proyek jangka panjang, 2 inisiatif besar terus bergulir. Proyek Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Batang dengan kapasitas 200.000 metrik ton per tahun yang ditargetkan commissioning pada kuartal I 2028 akan menjadi pabrik SAF bersertifikasi ISCC CORSIA pertama di Indonesia. Di sisi lain, proyek Blue Ammonia berbasis teknologi Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS) bersama JOGMEC dan Mitsubishi Corporation ditargetkan beroperasi pada kuartal IV 2028, membidik pasar ekspor Jepang yang telah berkomitmen mengimpor 3 juta ton amonia rendah karbon per tahun pada 2030.