Laba HMSP Tumbuh 7% di 1Q26, Namun GPM Mengecewakan Analis

Kamis, 30 April 2026 | 13:51:33 WIB
Ilustrasi PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP)(https://images.bisnis.com/posts/2025/03/26/1865049/logo_hmsp_1743068302.jpg)

JAKARTA – HMSP catat laba bersih Rp2,06 triliun di 1Q26, naik 7,19% YoY. Namun hasil ini di bawah ekspektasi analis karena peningkatan GPM lebih lemah dari perkiraan.

PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) mempublikasikan laporan keuangan tidak diaudit untuk periode Januari–Maret 2026 pada Rabu (29/4/2026). Meski laba bersih mencatat kenaikan, analis menilai hasil keseluruhan kuartal pertama ini masih berada di bawah konsensus karena perbaikan gross profit margin (GPM) tidak berjalan sesuai proyeksi.

Analis IndoPremier Sekuritas menilai bahwa kinerja HMSP pada 1Q26 tergolong below ekspektasi akibat peningkatan GPM yang lebih lemah dari perkiraan, meskipun efisiensi beban operasional berhasil mendorong pertumbuhan laba bersih secara tahunan.

Dari sisi pendapatan, penjualan bersih HMSP turun 5,50% secara tahunan menjadi Rp27,20 triliun, dari sebelumnya Rp28,78 triliun pada kuartal I 2025. Tekanan terbesar datang dari segmen sigaret kretek tangan (SKT) yang anjlok 20,95% secara tahunan menjadi Rp7,77 triliun, serta sigaret putih mesin (SPM) yang tergerus 22,50% secara tahunan menjadi Rp1,37 triliun.

Segmen yang masih mencatatkan pertumbuhan adalah sigaret kretek mesin (SKM) domestik yang naik 5,37% secara tahunan menjadi Rp16,53 triliun. Lebih mencolok lagi, segmen produk bebas asap melonjak 43,80% secara tahunan menjadi Rp636,64 miliar, mencerminkan transisi bertahap konsumen ke kategori produk tembakau alternatif.

Di sisi biaya, beban pokok penjualan perseroan turun 6,57% secara tahunan menjadi Rp22,20 triliun dari Rp23,76 triliun. Namun penurunan pendapatan yang lebih cepat dibandingkan penurunan beban pokok membuat laba kotor hanya mencapai Rp5,0 triliun—turun tipis 0,44% secara tahunan dan nyaris stagnan dibandingkan Rp5,02 triliun di kuartal I 2025. Inilah yang menjadi penyebab GPM tidak mengalami perbaikan berarti, bertentangan dengan ekspektasi analis yang mengantisipasi penghematan cukai dapat ditransmisikan ke margin lebih kuat.

Perseroan mampu menekan pos beban lainnya secara signifikan, meliputi penurunan beban penjualan, beban umum dan administrasi, serta beban pajak penghasilan dibandingkan periode sebelumnya. Ditambah lonjakan pos penghasilan lain-lain sebesar 16,10% secara tahunan menjadi Rp89,20 miliar, laba bersih akhirnya tumbuh 7,19% secara tahunan menjadi Rp2,06 triliun dari Rp1,92 triliun.

Untuk penjualan ekspor, segmen penjualan kepada pihak berelasi ekspor turun 16,32% secara tahunan menjadi Rp467,46 miliar, sementara penjualan berelasi lokal terkoreksi 6,07% secara tahunan menjadi Rp111,45 miliar. Kondisi ini mencerminkan tekanan permintaan rokok konvensional yang masih berlanjut, baik dari pasar domestik maupun internasional.

Dari sisi neraca, total aset HMSP per Maret 2026 tercatat sebesar Rp51,90 triliun, tumbuh 0,66% sejak akhir 2025. Ekuitas perseroan naik 7,32% menjadi Rp30,43 triliun, sementara total liabilitas menyusut 7,47% menjadi Rp21,48 triliun—mencerminkan kondisi keuangan yang tetap sehat meskipun tekanan pada sisi pendapatan masih terasa.

Ke depan, potensi dividen yang stabil dari HMSP tetap menjadi daya tarik bagi investor defensif, mengingat payout ratio perseroan yang secara historis mendekati 100 persen. Namun dengan GPM yang stagnan dan penurunan volume di segmen-segmen utama, pemulihan margin menjadi kunci yang perlu dicermati pada kuartal-kuartal berikutnya di sepanjang 2026.

Terkini