JAKARTA – Harga minyak mentah meroket lebih dari 6% pada 30 April 2026. Brent tembus USD118 per barel akibat kebuntuan negosiasi AS-Iran dan blokade Selat Hormuz yang kian memperketat pasokan energi global.
Penutupan perdagangan Rabu (29/4/2026) waktu setempat atau Kamis (30/4/2026) pagi WIB menjadi sesi penguatan paling agresif dalam beberapa pekan terakhir. Minyak mentah Brent bahkan sempat menyentuh level USD120 per barel untuk pertama kalinya sejak Juni 2022 sebelum akhirnya ditutup di kisaran USD118,03.
"Jika Trump siap memperpanjang blokade, gangguan pasokan akan semakin memburuk dan terus mendorong harga minyak lebih tinggi," ujar Yang An, Analis Haitong Futures, sebagaimana dilansir dari berbagai sumber, Kamis (30/4/2026).
Yang An berpendapat, mandeknya negosiasi antara Washington dan Teheran telah mengubah situasi dari konflik sementara menjadi tekanan pasokan struktural yang sulit diatasi dalam waktu dekat.
Minyak mentah berjangka Brent untuk kontrak pengiriman Juni naik USD6,77 atau 6,1% dan ditutup di posisi USD118,03 per barel—level tertinggi sejak 31 Maret 2026. Di sisi lain, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk kontrak pengiriman Juni melonjak USD6,95 atau 7% ke posisi USD106,88 per barel, tertinggi sejak 7 April 2026.
Kenaikan tajam ini tidak berdiri sendiri. Presiden AS Donald Trump menegaskan blokade angkatan laut terhadap Iran tidak akan dicabut sebelum Teheran menyetujui kesepakatan nuklir—sebuah pernyataan yang langsung membakar sentimen pasar energi.
Selat Hormuz, yang sebelum konflik mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair global, masih secara efektif terblokir. Nilai pasokan minyak mentah yang hilang sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari 2026 diperkirakan telah melampaui USD50 miliar hingga pertengahan April 2026.
Seorang pejabat Gedung Putih menyebut Trump telah menginstruksikan perusahaan minyak AS untuk mencari cara meredam dampak blokade yang berpotensi berlangsung berbulan-bulan. Sikap keras ini memperkuat ekspektasi pasar bahwa gangguan pasokan tidak akan segera berakhir.
Di sisi fundamental domestik, data pemerintah AS memperlihatkan penurunan stok minyak mentah dan bahan bakar yang lebih besar dari perkiraan para analis. Kondisi ini menjadi katalis tambahan yang menopang kenaikan harga.
Produk olahan minyak turut terdampak. Minyak solar ultra-rendah sulfur Amerika melambung 8,3% menjadi USD3,1404 per galon. Sementara futures bensin melonjak 3,8% ke posisi USD2,4620 per galon, dan futures gasoil Eropa melejit 9,2% menjadi USD967,75 per metrik ton.
Bank Dunia memperingatkan harga energi global berpotensi melonjak hingga 24% pada 2026, bahkan dalam skenario gangguan pasokan yang mulai mereda pada Mei. Selama blokade bertahan dan dialog damai tetap jalan di tempat, tekanan terhadap pasar minyak mentah global dipastikan masih akan berlanjut.