Harga Komoditas Pertanian Global Naik ke Puncak Sejak 2023

Kamis, 30 April 2026 | 13:50:54 WIB
Ilustrasi Laba Agrikultural (https://navi.com/blog/wp-content/uploads/2022/08/41.-An-Overview-of-Agricultural-Income-Tax-in-India.jpg)

JAKARTA – Harga komoditas pertanian global melesat ke level tertinggi sejak 2023 akibat konflik Timur Tengah dan cuaca ekstrem yang memukul produksi pangan dunia.

Tekanan dari 2 sisi sekaligus—ketegangan geopolitik dan anomali iklim—membuat pasar komoditas bergejolak lebih kencang dari perkiraan banyak analis. Indeks Harga Pangan yang dirilis Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) mencatat rata-rata 128,5 poin pada Maret 2026, naik 2,4% dibandingkan bulan sebelumnya dan 1% lebih tinggi secara tahunan.

"Pilihan-pilihan itu akan memengaruhi hasil panen di masa depan dan membentuk pasokan pangan serta harga komoditas untuk sisa tahun ini dan sepanjang tahun berikutnya," ujar Máximo Torero, Kepala Ekonom FAO, sebagaimana dikutip dari laman resmi FAO, Sabtu (4/4/2026).

Torero juga memperingatkan bahwa apabila konflik berlangsung lebih dari 40 hari dengan biaya input tinggi dan margin yang tipis, para petani akan dihadapkan pada pilihan sulit antara mengurangi penggunaan pupuk, mempersempit lahan tanam, atau beralih ke komoditas yang lebih hemat biaya.

Kenaikan harga gandum menjadi salah satu yang paling mencolok pada periode ini. Indeks Harga Sereal FAO tercatat naik 1,5% secara bulanan, dipicu lonjakan harga gandum internasional sebesar 4,3%. Dua faktor produksi menjadi penyebab utama: kekeringan yang melanda kawasan pertanian di Amerika Serikat dan ekspektasi pengurangan luas tanam di Australia akibat mahalnya harga pupuk.

Sementara itu, subkelompok minyak nabati mencatatkan kenaikan yang bahkan lebih tajam. Indeks Harga Minyak Nabati FAO melonjak 5,1% dibanding Februari 2026 dan kini berada 13,2% di atas level tahun sebelumnya. Kenaikan ini terjadi seiring meningkatnya permintaan bahan bakar nabati yang dipicu oleh harga minyak mentah yang tetap tinggi akibat ketegangan di Timur Tengah—mendorong harga minyak sawit menyentuh titik tertinggi sejak pertengahan 2022.

Komoditas gula justru mencatatkan kenaikan paling ekstrem di antara kelompok pangan lainnya. Indeks Harga Gula FAO melonjak 7,2% sepanjang Maret 2026, tertinggi sejak Oktober 2025. Lonjakan ini dipicu oleh kebijakan Brasil sebagai eksportir utama gula, yang mengalihkan lebih banyak tebu untuk produksi etanol guna mengimbangi harga minyak mentah internasional.

Di sektor serealia, konflik geopolitik juga memperumit prospek rantai pasokan. Jalur Selat Hormuz yang ditutup sejak 28 Februari 2026 merupakan rute vital bagi sekitar 30% perdagangan minyak mentah global, 20% gas alam cair, dan 40% pupuk urea dunia. Sementara itu, ketegangan baru di Laut Hitam turut mengancam jalur distribusi 20-30% gandum dan jagung dunia.

Ancaman dari sisi cuaca tak kalah serius. El Nino diproyeksikan muncul antara Juli 2026 hingga Juli 2027 setelah La Nina mereda. Berdasarkan riset Tim Ekonom Bank Mandiri, setiap kenaikan suhu 1 derajat Celsius diperkirakan bakal menekan produksi beras sebesar 3,2%, jagung 7,4%, dan gandum 5%.

Di tengah gejolak ini, pasokan beras justru menunjukkan tren berbeda. Indeks Harga Beras FAO turun 3,0% pada Maret 2026, dipengaruhi oleh musim panen yang bertepatan, lemahnya permintaan impor dari sejumlah negara, serta depresiasi mata uang lokal terhadap dolar AS. FAO bahkan memperkirakan produksi beras global akan mencetak rekor tertinggi berkat kontribusi dari Bangladesh, Brasil, China, India, dan Indonesia.

Meski demikian, FAO mengingatkan bahwa rasio cadangan serealia dunia terhadap konsumsi pada akhir musim 2025/26 diproyeksikan sebesar 32,2%—tingkat yang masih dianggap aman. Namun peringatan tetap dilayangkan: meningkatnya konflik, kenaikan harga energi, dan tingginya harga pupuk tetap menjadi ketidakpastian utama yang sewaktu-waktu bisa mengguncang rantai pasokan pangan global.

Terkini