JAKARTA - Simak pergerakan harga minyak tetap melonjak tajam akibat gangguan pasokan di Timur Tengah dan spekulasi kebijakan produksi negara-negara eksportir utama.
Dinamika pasar komoditas energi dunia memperlihatkan volatilitas yang ekstrem dengan perubahan posisi harga dalam rentang waktu yang sangat singkat.
Meskipun terdapat tekanan jual pada awal sesi, sentimen kelangkaan suplai akhirnya mendominasi persepsi para pelaku pasar hingga penutupan perdagangan.
"Pasar sedang sangat sensitif terhadap setiap perkembangan di kawasan produsen utama, yang memicu lonjakan harga secara mendadak," ujar Phil Flynn, sebagaimana dilansir dari indopremier.com, Sabtu (25/4/2026).
Patokan internasional Brent tercatat menguat signifikan hingga menyentuh angka 92,15 dolar AS per barel pada transaksi perdagangan pasar spot.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate turut merangkak naik ke posisi 87,40 dolar AS per barel di tengah kekhawatiran hambatan logistik laut.
Edward Moya berpendapat bahwa fundamental pasar minyak saat ini masih sangat ketat sehingga setiap koreksi harga cenderung dimanfaatkan investor untuk melakukan aksi beli kembali.
Gangguan teknis pada beberapa fasilitas kilang di wilayah Amerika Utara juga menjadi faktor pendukung yang mempersempit ketersediaan produk olahan di pasar.
Langkah sejumlah negara besar dalam mengisi kembali cadangan strategis mereka turut memberikan lantai yang kuat bagi pergerakan harga secara keseluruhan.
"Kita melihat adanya ketidakseimbangan yang nyata antara permintaan yang terus tumbuh dengan kapasitas produksi yang terbatas saat ini," kata Andrew Lipow, dikutip dari indopremier.com, Sabtu (25/4/2026).
Data pengapalan menunjukkan penurunan volume ekspor dari beberapa negara anggota organisasi produsen minyak untuk periode bulan berjalan.
Hal ini memicu spekulasi bahwa kebijakan pengetatan keran produksi akan tetap dipertahankan guna menjaga stabilitas harga di level yang lebih tinggi.
Pakar energi menegaskan bahwa ketegangan geopolitik yang belum mereda menjadi premi risiko utama yang terus membayangi pergerakan harga komoditas ini, melansir indopremier.com, Minggu (26/4/2026).
Kenaikan biaya energi ini mulai memberikan tekanan tambahan bagi sektor transportasi dan manufaktur yang sangat bergantung pada bahan bakar fosil.
Para investor kini mengalihkan perhatian pada rilis data pertumbuhan ekonomi negara-negara konsumen besar untuk memprediksi arah konsumsi energi di kuartal mendatang.