FINANSIALINSIGHT.COM — PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) mengerahkan 24 kapal untuk mengurai antrean truk yang kembali mengular di lintasan Selat Bali, menghubungkan Pelabuhan Ketapang dan Gilimanuk. Antrean kendaraan logistik menumpuk di jalur utama menuju Ketapang selama beberapa hari terakhir, sementara kondisi serupa juga terjadi di pintu masuk Gilimanuk, Jembrana, meski tidak separah sisi Banyuwangi.
Antrean panjang kendaraan logistik kembali mengular di jalur utama menuju Pelabuhan Ketapang. Kondisi serupa terjadi di pintu masuk Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, meski tidak separah di Ketapang.
24 Kapal Dikerahkan, Pola Operasi Menyesuaikan Cuaca
Sekretaris PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Windy Andale menyatakan sebanyak 24 kapal telah dikerahkan. Pola operasinya disesuaikan secara dinamis mengikuti kondisi cuaca, gelombang, angin, arus laut, pasang surut, hingga kesiapan kapal dan dermaga.
"Dalam setiap penyesuaian pola operasi, keselamatan menjadi pertimbangan utama dan krusial. Semua keputusan operasional dieksekusi melalui koordinasi erat bersama regulator, KSOP, dan BPTD," ujar Windy Andale.
Mengapa Antrean di Ketapang Lebih Parah
Selat Bali merupakan jalur utama perpindahan barang antara Jawa dan Bali. Kepadatan truk logistik di sisi Ketapang terjadi karena volume kendaraan yang datang dari arah Jawa menumpuk di jalur menuju pelabuhan. Sementara di sisi Gilimanuk, arus kendaraan dari arah Bali relatif lebih terkendali.
ASDP menegaskan penyesuaian pola operasi tidak bisa dilakukan sepihak. Cuaca dan tinggi gelombang di perairan Selat Bali menjadi faktor yang menentukan jumlah kapal yang bisa beroperasi setiap saat.
Koordinasi dengan Regulator Jadi Kunci
Keputusan operasional di lintasan ini dieksekusi melalui koordinasi erat bersama regulator, KSOP, dan BPTD. Ketiga pihak terlibat dalam mengatur jadwal sandar, kesiapan dermaga, hingga arus kendaraan yang masuk ke area pelabuhan.
Bagi pengguna jasa, terutama sopir truk logistik, penguraian antrean ini menentukan waktu tempuh dan biaya operasional. Antrean yang molor di pelabuhan membuat jadwal pengiriman barang terganggu, terutama untuk komoditas yang harus tiba tepat waktu.
ASDP belum menyebut berapa lama proses penguraian antrean akan berlangsung. Perusahaan pelat merah itu memastikan pemantauan kondisi lapangan terus dilakukan agar penyesuaian pola operasi bisa dilakukan secepatnya.