Selain DSSA, Ini Deretan Saham yang Ketiban Rezeki Tren Data Center AI

Selain DSSA, Ini Deretan Saham yang Ketiban Rezeki Tren Data Center AI
Ilustrasi emiten material (FOTO : NET)

JAKARTA – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) serta ekspansi pembangunan pusat data (data center) tidak cuma memberikan keuntungan bagi entitas pengelola data center semata.

Analis Mandiri Sekuritas Robin Sutanto dan Danif Nouval Esfandiari menilai bahwa pembangunan sarana pendukung AI turut memberikan peluang bagi perusahaan penyedia daya listrik, pendingin, perpipaan, hingga bahan baku pendukung.

Dalam laporan riset bertajuk AI Picks & Shovels: Mapping Out the Spillovers yang terbit pada 31 Agustus 2026, mereka mengungkapkan bahwa sebagian korporasi material telah merasakan imbas langsung dari proyek infrastruktur AI. Di sisi lain, beberapa emiten lainnya berpeluang meraih manfaat secara tidak langsung.

Menurut pemetaan Mandiri Sekuritas, data center berbasis AI memerlukan kelengkapan sarana yang berbeda dibandingkan dengan data center konvensional. Tingkat konsumsi arus listrik menjadi salah satu pembeda yang amat signifikan.

Perangkat server AI mengoperasikan banyak GPU secara simultan sehingga daya yang dibutuhkan jauh lebih besar. Contohnya, konsumsi daya satu rak server biasa berada di rentang 10 kilowatt (kW), sementara rak server AI berkepadatan tinggi mampu menembus kisaran 200 kW.

Tingginya pemakaian listrik tersebut selaras dengan tingkat suhu panas yang dihasilkan oleh server. Oleh karena itu, sistem pendingin berbasis udara biasa dinilai kian tidak memadai untuk mengatasi rak server dengan kepadatan tinggi.

Para penyedia sarana AI lantas beralih menerapkan teknologi liquid cooling atau sistem pendingin cairan. Metode yang dipakai di antaranya direct-to-chip cooling yang memanfaatkan selang dan saluran pipa guna menghubungkan cip server menuju unit distribusi pendingin.

Dinamika tersebut dinilai mendatangkan peluang bagi entitas usaha yang bergelut di lini produk material, terutama perpipaan serta fasilitas pendukung data center.

Dua emiten yang dicatat Mandiri Sekuritas berpotensi memetik untung dari tren ini adalah PT Avia Avian Tbk (AVIA) dan PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP).

Bagi AVIA, kesempatan hadir lewat lini distribusi barang yang meliputi produk pipa air. Divisi distribusi ini menyumbang sekitar 20 persen terhadap total pendapatan AVIA, walaupun marginnya lebih tipis ketimbang bisnis cat.

Sementara itu, kaitan ISSP dengan pembangunan data center terhitung lebih langsung. Produk pipa baja milik perseroan telah dimanfaatkan untuk keperluan rak dan struktur bangunan pusat data.

Namun demikian, ISSP masih menghadapi kendala berupa tingkat utilitas pabrik yang tergolong rendah. Oleh sebab itu, melonjaknya permintaan dari proyek data center perlu dibarengi peningkatan utilitas agar memberi dampak lebih optimal terhadap performa perseroan.

Di samping emiten sektor material, maraknya pembangunan data center turut menjadi dorongan positif bagi deretan perusahaan teknologi serta telekomunikasi.

Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas berpandangan bahwa PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menjadi salah satu emiten yang paling dilirik pasar terkait topik data center.

DSSA memiliki lini bisnis infrastruktur digital yang terus dipacu pengembangannya. Perseroan pun tengah membangun sarana hyperscale SMX01 di Jakarta bekerja sama dengan LG lewat nilai investasi mendekati US$ 300 juta.

Fasilitas tersebut dirancang memakai spesifikasi standar Tier IV serta teknologi liquid cooling. SMX01 diproyeksikan beroperasi pada kuartal IV-2026 dengan kapasitas awal 18 megawatt (MW) yang dapat ditingkatkan sampai 60 MW.

Sukarno juga mengamati bahwa PT Indosat Tbk (ISAT) mempunyai peluang menarik lewat pengembangan data center serta AI Factory bersama mitra strategisnya.

Meningkatnya kebutuhan komputasi AI yang diperkirakan terus melonjak dinilai dapat menjadi pendorong bagi kemajuan unit usaha tersebut. Posisi ISAT pun disokong oleh ketersediaan kas yang kuat sehingga memberikan ruang luas untuk berekspansi.

Di sisi lain, imbas pembangunan data center terhadap PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dinilai masih cukup terbatas jika ditinjau dari porsi kontribusinya pada keseluruhan pendapatan. Kendati demikian, potensi pertumbuhan bisnis pusat data tetap menjadi pendorong yang layak diperhatikan.

Dampak positif dari maraknya proyek data center juga berpeluang menjangkau sektor konstruksi. Bertambahnya kuantitas proyek pusat data akan menciptakan permintaan pembuatan fasilitas, sehingga mampu memberikan manfaat secara tidak langsung untuk emiten konstruksi.

Dari sektor kawasan industri, kebutuhan lahan bagi fasilitas data center turut menjadi pendorong. Kiwoom Sekuritas menilai PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) berpeluang meraih manfaat lantaran kawasan industri yang dikelolanya sanggup menopang pengembangan klaster data center.

Perusahaan penyedia sarana jaringan seperti PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL), PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA), dan PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR) juga berpotensi meraih keuntungan tidak langsung.

Pembangunan data center memerlukan dukungan jaringan, serat optik, serta kenaikan kapasitas lalu lintas data. Pertumbuhan kebutuhan tersebut berpotensi menggenjot pemanfaatan sarana jaringan yang dioperasikan oleh korporasi-korporasi tersebut.

Untuk sektor kawasan industri, Mandiri Sekuritas mempertahankan rekomendasi netral, dengan saham pilihan (top picks) BEST dan DMAS.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index