Pasar Asia Merosot Tajam Dampak Minyak Naik dan Obligasi Tinggi

Pasar Asia Merosot Tajam Dampak Minyak Naik dan Obligasi Tinggi
Ilustrasi saham asia (FOTO : NET)

JAKARTA – Saham-saham di kawasan Asia mengalami penurunan drastis pada hari Rabu, dengan pasar Jepang dan Korea Selatan mencatat penurunan terdalam akibat lonjakan harga minyak yang mendorong kenaikan imbal hasil obligasi global serta memicu kembali kekhawatiran terkait kebijakan moneter ketat dari bank-bank sentral.

Perdagangan di Wall Street ditutup sedikit melemah semalam dipicu oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah yang menekan pergerakan ekuitas.

Kontrak futures untuk indeks S&P 500 dan Nasdaq juga mencatatkan penurunan pada perdagangan sesi Asia pukul 13:47.

Indeks Nikkei 225 di Jepang merosot 3%, sedangkan indeks TOPIX melemah 2,5% akibat tekanan hebat pada saham-saham sektor teknologi.

Pasar saham Jepang turut tertekan oleh kuatnya spekulasi mengenai rencana kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan pada bulan ini.

Sehari sebelumnya, Gubernur BOJ Kazuo Ueda menyatakan bahwa bank sentral akan terus mempertimbangkan kenaikan suku bunga dan menilai apakah perkembangan ekonomi dan harga tetap konsisten dengan prospeknya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pernyataan tersebut mengemuka setelah Departemen Keuangan AS menyampaikan bahwa Menteri Keuangan Scott Bessent telah melangsungkan pertemuan dengan Ueda serta menyerukan tindakan moneter yang "tegas" guna mengatasi pelemahan mata uang yen sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Indeks KOSPI di Korea Selatan terperosok 4%, menyeret saham-saham berkapitalisasi besar seperti Samsung Electronics yang merosot lebih dari 4% dan SK Hynix yang juga melemah lebih dari 4%.

Kondisi pelemahan ini terjadi menyusul kenaikan harga futures minyak mentah Brent pada hari Rabu hingga mendekati level $96 per barel, melanjutkan tren penguatan setelah sempat menyentuh posisi tertinggi dalam lima minggu terakhir.

Kenaikan harga minyak bumi terbaru ini memicu kekhawatiran bahwa gangguan pasokan energi yang berkepanjangan dapat memicu lonjakan inflasi, memperrumit langkah bank sentral, serta meningkatkan tekanan terhadap obligasi pemerintah.

Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun melesat ke angka 4,804% yang merupakan level tertinggi sejak Januari 2025, sementara imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun menyentuh 3% sehingga memperberat beban saham sektor teknologi dan pertumbuhan di kawasan Asia.

Pelaku pasar turut memperhitungkan peningkatan probabilitas kenaikan suku bunga Federal Reserve pada bulan ini, di mana ekspektasi ketatnya kebijakan moneter semakin memperkuat posisi dolar AS.

Indeks Shanghai Composite di China serta indeks blue-chip Shanghai Shenzhen CSI 300 masing-masing terkorosi 1%, sementara indeks Hang Seng di Hong Kong menyusut 0,5%.

Para investor turut mencermati berbagai perkembangan indikator ekonomi serta arah kebijakan moneter di tingkat regional.

Berdasarkan data Biro Statistik Australia, perekonomian Australia mencatatkan pertumbuhan sebesar 0,4% pada kuartal kedua secara kuartalan, sehingga tingkat pertumbuhan tahunannya mencapai 2,1%.

Capaian tersebut mencerminkan ekspansi ekonomi yang masih berlangsung di tengah bayang-bayang kekhawatiran penyerapan permintaan yang melambat serta tingginya biaya pinjaman.

Indeks S&P/ASX 200 di Australia ditutup melemah 1%, seiring data ekonomi tersebut yang kian memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan oleh Reserve Bank of Australia di tahun ini.

Di Selandia Baru, Reserve Bank menaikkan suku bunga kas resminya sebesar 25 basis poin menjadi 2,75% sebagai langkah kenaikan kedua secara berturut-turut demi meredam tingkat inflasi.

Kebijakan ini diambil di tengah kesiapan pasar menghadapi pengetatan moneter lanjutan seiring meningkatnya kembali tekanan harga energi.

Indeks NZX 50 Selandia Baru menguat dan ditutup naik 1%.

Sementara itu di kawasan lain, indeks Nifty 50 India terkoreksi 0,9%, sedangkan Straits Times Index di Singapura berhasil menguat tipis 0,2%.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index