Ahli Waris Michael Hartono Terima Saham Dwimuria Senilai Rp55 Triliun

Ahli Waris Michael Hartono Terima Saham Dwimuria Senilai Rp55 Triliun
Ahli Waris Michael Hartono (FOTO : NET)

JAKARTA – Babak baru kekayaan keluarga Hartono dimulai setelah kepemilikan saham mendiang Michael Bambang Hartono pada perusahaan holding keluarga diserahkan kepada empat orang ahli warisnya.

Berdasarkan laporan dokumen pemerintah yang dikutip oleh media internasional The Star, porsi 49 persen saham Michael Bambang Hartono di PT Dwimuria Investama Andalan (DIA) saat ini telah dibagikan secara merata kepada empat ahli waris.

Atas pembagian tersebut, setiap ahli waris mengantongi sekitar 12,25 persen saham Dwimuria.

Estimasi nilai kepemilikan itu menyentuh setidaknya US$ 2,93 miliar atau setara Rp 55 triliun untuk tiap orang. Angka tersebut merupakan perkiraan yang didasarkan pada aset serta kepemilikan perusahaan, bukan pembagian warisan dalam bentuk dana tunai.

Michael Bambang Hartono wafat pada 19 Maret 2026 di Singapura dalam usia 86 tahun. Sepanjang hidupnya, Michael bersama adiknya, Robert Budi Hartono, mendirikan imperium bisnis keluarga yang berekspansi jauh melampaui industri rokok.

Salah satu aset terbesar yang dimiliki keluarga tersebut yaitu kepemilikan saham pada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melalui Dwimuria.

Dwimuria Investama Andalan merupakan pemegang saham utama sekitar 54,94 persen di BCA. Sebelum Michael tutup usia, peta kepemilikan Dwimuria terbagi atas Robert Budi Hartono sebesar 51 persen dan Michael Bambang Hartono sebesar 49 persen.

Melalui pembagian warisan ini, porsi 49 persen saham milik Michael di Dwimuria didistribusikan secara seimbang kepada empat ahli waris.

Apabila hanya mengkalkulasi nilai kepemilikan Dwimuria di BCA, porsi bagian Michael pada holding keluarga tersebut bernilai minimal US$ 11,7 miliar atau sekitar Rp 209 triliun merujuk pada nilai per 11 Agustus 2026.

Hal ini menandakan setiap ahli waris memperoleh porsi yang bernilai setara lebih dari US$ 2,9 miliar khusus dari kepemilikan saham tersebut.

Perhitungan nilai tersebut masih belum mencakup portofolio aset dan investasi keluarga Hartono di sektor lainnya.

Gurita bisnis keluarga Hartono membentang di berbagai sektor, mulai dari perbankan, industri rokok, properti dan pusat perbelanjaan, hingga perkebunan serta investasi pada sektor teknologi dan telekomunikasi.

Keluarga Hartono merupakan pemilik PT Djarum yang menjadi salah satu produsen rokok kretek terbesar di Indonesia. Dua bersaudara Hartono tersebut turut merambah sektor keuangan dan membawa BCA menjadi salah satu bank terbesar di Indonesia berdasarkan kapitalisasi pasar.

Pengalihan kepemilikan saham ini merupakan bagian dari proses suksesi kekayaan dalam keluarga Hartono.

Mengutip data Bloomberg Billionaires Index per 11 Agustus 2026, total kekayaan bersih keluarga Hartono mencapai kisaran US$ 28,6 miliar atau sekitar Rp 511 triliun. Jumlah tersebut mengukuhkan posisi keluarga Hartono sebagai keluarga paling tajir di Indonesia.

Skala nilai transfer yang sangat besar ini menjadikannya salah satu proses peralihan kekayaan keluarga konglomerat terbesar di kawasan Asia dalam kurun beberapa tahun terakhir.

Nilai warisan tersebut bahkan melampaui aset sekitar US$ 10 miliar yang ditinggalkan mendiang Wee Cho Yaw, taipan asal Singapura yang merupakan figur penting di United Overseas Bank (UOB).

Peralihan aset keluarga Hartono memperlihatkan bagaimana kekayaan yang dirintis selama beberapa generasi mulai memasuki tahap alih generasi.

Proses transfer kekayaan ini berlangsung secara beriringan dengan perombakan struktur kepemimpinan di sejumlah unit bisnis keluarga Hartono.

Victor Hartono, putra sulung Robert Budi Hartono, saat ini menduduki posisi pimpinan tertinggi di PT Djarum sebagai Chief Executive Officer (CEO). Sebelum menjabat posisi tersebut, Victor menduduki posisi Chief Operating Officer (COO) di perusahaan tersebut.

Profil Kellogg School of Management Northwestern University tahun 2026 juga mencatat nama Victor Hartono sebagai CEO PT Djarum sekaligus President Director Djarum Foundation.

Perubahan kepemimpinan ini menandaskan bahwa suksesi keluarga Hartono tidak cuma berjalan melalui pengalihan kepemilikan aset, melainkan juga lewat pergantian estafet kepemimpinan operasional bisnis.

Di sisi lain, setelah berpulangnya Michael Bambang Hartono, Robert Budi Hartono kini menjadi satu-satunya pemegang saham pengendali terakhir di BCA.

Dengan demikian, mekanisme suksesi pada keluarga Hartono saat ini bergerak melalui dua alur beriringan: penyerahan kepemilikan kepada generasi penerus serta konsolidasi kontrol pada inti bisnis keluarga.

Bagi keluarga Hartono, warisan mendiang Michael Bambang Hartono tidak sekadar pembagian aset semata. Perubahan ini menjadi bagian dari agenda panjang dalam merawat keberlanjutan imperium bisnis yang telah dibangun sejak generasi pendahulu.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index