JAKARTA – Saham PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) mencatatkan kenaikan 0,82% ke level 1.230 dari penutupan sebelumnya mendekati akhir pekan ini. Pergerakan diawali dari harga pembukaan 1.220 hingga menyentuh level tertinggi di 1.240 setelah adanya pengumuman pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Luar Biasa.
Aksi naik saham BBTN sejalan dengan pergerakan positif IHSG yang menyentuh rekor tertinggi baru di bulan Agustus pada level 6.408, meskipun posisi Cadangan Devisa Indonesia periode Juli 2026 susut menjadi US$145,3 miliar dari US$145,6 miliar. Penguatan mata uang Rupiah ke posisi 17.868 per Dolar AS turut menjadi penopang pasar, walau pelaku pasar masih mencermati rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat seperti Nonfarm Payrolls, Tingkat Pengangguran, dan Pendapatan Rata-Rata pada pukul 19:30 WIB yang bakal memengaruhi pergerakan USD/IDR serta sentimen pasar awal pekan depan.
Pihak perseroan mengumumkan rencana penyeleggaraan RUPS Luar Biasa yang akan dilaksanakan pada 4 September 2026 di Jakarta. Adapun pemegang saham yang berhak hadir merupakan mereka yang terdaftar dalam Daftar Pemegang Saham (DPS) per 5 Agustus 2026, dengan agenda tunggal Perubahan Pengurus Perseroan tanpa perincian detail lainnya.
Selain kabar RUPSLB, belum ada informasi terbaru lain selain penyampaian laporan keuangan semester I 2026 pada pertengahan bulan lalu. Pada laporan tersebut, perseroan membukukan pertumbuhan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk menjadi Rp2,40 triliun, meningkat dari pencapaian periode sama tahun lalu sebesar Rp1,70 triliun.
Perolehan EBITDA semester I 2026 juga mengalami kenaikan menjadi Rp3,41 triliun dibanding periode semester I 2025 senilai Rp2,42 triliun. Lebih lanjut, Laba Per Saham dasar berada di angka Rp171 dengan rasio NPL net tercatat sebesar 1,90%.
Secara neraca keuangan, nilai total aset perseroan menggelembung menjadi Rp545,16 triliun pada akhir Juni 2026 dibanding posisi Rp527,79 triliun per 31 Desember 2025. Jumlah ekuitas perseroan pun terkerek naik dari posisi Rp36,21 triliun di akhir tahun sebelumnya menjadi Rp37,55 triliun pada paruh pertama 2026.
Laju penguatan harga saham BBTN tertahan oleh Simple Moving Average (SMA) 200-hari selama tiga hari beruntun. Dalam horizon jangka panjang, pergerakan pergerakan saham ini belum membentuk tren yang berarah pasti lantaran fluktuasinya masih berkisar di sekitar garis SMA 200 sejak Juni 2026, di mana indikator Relative Strength Index (RSI) 14-hari berada di posisi 53,70 yang mencerminkan momentum netral.