Saham Karya Pacific Energi Melonjak 65 Persen Setelah Ganti Pemilik

Saham Karya Pacific Energi Melonjak 65 Persen Setelah Ganti Pemilik
Ilustrasi akuisisi saham (FOTO : NET)

JAKARTA – Harga saham PT Karya Pacific Energy Tbk (IATA) melonjak pesat. Pada Rabu (5/8/2026), harga saham IATA ditutup menguat 6,67% di level Rp 96 per saham, yang mencatatkan lonjakan hingga 65,52% hanya dalam rentang lima hari.

Arah pergerakan harga ini berjalan seirama dengan tuntasnya peralihan kepemilikan saham emiten yang sebelumnya bernama MNC Energy Investments. Saat ini, mayoritas saham perusahaan secara resmi dipegang oleh PT Karya Pacific Investama (KPI) dari penguasa sebelumnya, PT MNC Asia Holding Tbk.

Langkah ini menyusul rampungnya transaksi akuisisi saham lewat skema penawaran tender sukarela (voluntary tender offer). Kehadiran KPI sebagai mitra strategis diharapkan mampu memperkokoh permodalan, menopang ekspansi, serta mendorong kinerja berkelanjutan.

Merujuk pada keterbukaan informasi BEI per 30 Juli 2026, MNC Asia Holding telah menyelesaikan pengalihan saham kepada Karya Pacific Investama. Hal tersebut membuat porsi kepemilikan saham MNC Asia menjadi 0% dari sebelumnya 8,81%, sedangkan porsi Karya Pacific Investama melonjak menjadi 59,31% dari semula 50,5%.

Perubahan nama berikut struktur kepemilikan ini telah mengantongi persetujuan rapat umum pemegang saham. Kala itu, manajemen menyatakan bahwa penyesuaian ini dilakukan demi memperkuat identitas serta menyelaraskan visi dan strategi bisnis emiten.

Melihat pada kinerja operasional semester I-2026, pendapatan dan laba bersih emiten tambang batu bara ini justru anjlok dalam. Mengutip laporan keuangan per 30 Juni 2026, perseroan mencatatkan laba bersih periode berjalan sebesar US$ 596.324, anjlok 89,09% secara year on year dibanding rentang yang sama tahun lalu sebesar US$ 5,47 juta.

Sementara itu, laba bersih yang ditujukan bagi pemilik entitas induk berada di angka US$ 961.035, merosot 82,43% dari capaian semester I 2025 yang bernilai US$ 5,47 juta.

Penurunan laba bersih ini dipicu oleh lesunya pendapatan usaha serta membengkaknya beban langsung.

Pendapatan usaha IATA terkoreksi 16,47% secara yoy, dari US$ 39,97 juta pada Juni 2025 menjadi US$ 33,38 juta pada Juni 2026.

Di sisi lain, beban langsung justru naik 4,41% yoy menjadi US$ 21,26 juta. Kombinasi dari merosotnya pendapatan dan membengkaknya beban tersebut memicu laba bruto IATA terkikis 38,17% yoy menjadi US$ 12,12 juta.

Dari lini operasional, perseroan sebenarnya mampu menekan beban penjualan. Pos ini turun tajam 68,67% menjadi US$ 2,32 juta.

Akan tetapi, pangkasan tersebut belum mampu meredam kenaikan pada pos beban lainnya. Beban usaha membengkak 37,22% secara tahunan menjadi US$ 2,90 juta, diikuti beban keuangan yang merangkak naik 12,13% yoy menjadi US$ 2,69 juta.

Tekanan paling berat berasal dari pos kerugian selisih kurs bersih yang melonjak drastis hingga 402,83% YoY menjadi US$ 1,93 juta, dibanding periode sama tahun lalu yang hanya senilai US$ 383.520.

Dari aspek neraca, posisi keuangan IATA per 30 Juni 2026 mengalami penurunan tipis dari posisi akhir 2025. Total aset tercatat senilai US$ 233,19 juta, turun 2,16% dibanding posisi 31 Desember 2025 yang sebesar US$ 238,34 juta, sementara posisi kas dan bank merosot tajam 43,84% menjadi tinggal US$ 1,21 juta.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index