Gubernur BI Mundur, Begini Proyeksi Arah Pergerakan IHSG Hari Ini

Gubernur BI Mundur, Begini Proyeksi Arah Pergerakan IHSG Hari Ini
Ilustrasi ihsg (sumber foto : NET)

JAKARTA – Pengunduran diri Perry Warjiyo dari posisi Gubernur Bank Indonesia (BI) diprediksi bakal menjadi sentimen negatif terhadap pergerakan IHSG pada perdagangan Senin (27/7/2026).

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi pada Senin (27/7/2026) menyampaikan pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatannya. Sementara itu, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti ditunjuk menjadi pelaksana tugas (Plt.) Gubernur BI, di mana Destry mengonfirmasi bahwa mundurnya Perry didasari alasan pribadi.

Praktisi Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menyatakan bahwa pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia berpeluang menjadi sentimen negatif buat IHSG pada perdagangan hari ini. Pergerakan IHSG hingga pukul 09.59 WIB pada Senin (27/7/2026) tercatat turun 0,13 persen ke level 6.188,23.

Penyebab utamanya bukan dikarenakan fundamental ekonomi nasional yang berubah mendadak, melainkan lantaran pasar keuangan secara umum menghindari ketidakpastian. Hal ini utamanya berlaku saat terjadi pergantian pimpinan di bank sentral yang memegang peran strategis dalam menentukan arah suku bunga, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengontrol inflasi, dan menjamin stabilitas sistem keuangan.

“Sentimen tersebut muncul di tengah kondisi global yang juga masih penuh tantangan, mulai dari menjelang keputusan suku bunga The Fed (FOMC), tingginya volatilitas pasar global, hingga meningkatnya ketegangan geopolitik yang membuat investor cenderung mengambil sikap wait and see,” ujarnya dalam keterangan resmi pada Senin (27/7/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Meskipun demikian, Hendra menilai dampak negatif tersebut diperkirakan hanya berlangsung dalam jangka pendek.

Penunjukan Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Gubernur Bank Indonesia memberikan sinyal bahwa keberlanjutan kebijakan moneter akan tetap terjaga.

Destry merupakan salah satu perumus kebijakan Bank Indonesia dalam beberapa tahun terakhir sehingga pelaku pasar menilai tidak akan terjadi perubahan kebijakan mendasar selama masa transisi.

“Hal tersebut juga tercermin dari pergerakan rupiah yang masih relatif stabil di kisaran Rp17.953 per dolar Amerika Serikat atau melemah sekitar 0,23%, sehingga menunjukkan bahwa pasar belum bereaksi secara berlebihan terhadap kabar tersebut,” ungkapnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di sisi lain, terdapat sentimen positif yang berpotensi menahan laju tekanan di pasar saham.

Harga minyak mentah Brent yang sempat menyentuh kisaran US$100 per barel kini terkoreksi sekitar 4,5 persen ke kisaran US$ 87 per barel.

Penurunan harga minyak tersebut dapat meredakan kekhawatiran atas kenaikan inflasi global, mengurangi beban kebijakan suku bunga bank sentral, serta menekan risiko lonjakan biaya energi bagi para pelaku usaha.

“Bagi Indonesia yang masih mengimpor minyak, pelemahan harga minyak juga berpotensi memberikan sentimen positif terhadap inflasi domestik, neraca perdagangan, dan stabilitas nilai tukar rupiah,” paparnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Untuk sesi perdagangan Senin hari ini, IHSG diproyeksikan bergerak cenderung melemah dengan rentang support pada level 6.060 dan resistance di level 6.300.

Selama posisi IHSG masih mampu bertahan di atas batas support 6.060, tekanan yang terjadi dipandang sebagai bentuk koreksi wajar atas merespons sentimen pasar.

Namun, jika area tersebut terlampaui disertai lonjakan tekanan jual dan arus modal asing keluar, potensi pelemahan lebih dalam akan kian terbuka.

“Sebaliknya, sentimen positif dari terkoreksinya harga minyak dunia berpotensi membantu meredam tekanan jual sehingga pelemahan IHSG diperkirakan tidak akan terlalu dalam,” tuturnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Bagi para investor, posisi Gubernur Bank Indonesia adalah jabatan yang sangat vital. Sebabnya, setiap keputusan mengenai suku bunga acuan, arah kebijakan nilai tukar, pengendalian inflasi, hingga makroprudensial bakal berdampak pada pergerakan rupiah, pasar obligasi, ataupun IHSG.

Oleh sebab itu, fokus utama investor bukan sekadar pergantian figur pimpinannya, melainkan kepastian terkait kredibilitas, independensi, serta konsistensi kebijakan Bank Indonesia yang tetap terjaga.

Sepanjang proses transisi berjalan lancar dan arah kebijakan moneter tidak bergeser secara signifikan, dampak terhadap pergerakan pasar diperkirakan bersifat sementara.

“Namun, apabila muncul ketidakpastian mengenai arah kebijakan atau independensi bank sentral, volatilitas di pasar keuangan berpotensi meningkat, terutama pada nilai tukar rupiah, obligasi pemerintah, dan saham-saham sektor perbankan,” ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index