Laba Bank Mandiri Naik 24 Persen, Ini Target Harga Saham BMRI Terbaru

Laba Bank Mandiri Naik 24 Persen, Ini Target Harga Saham BMRI Terbaru
Ilustrasi saham bmri (sumber foto : NET)

JAKARTA – PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) berhasil meraup laba bersih yang solid pada semester I-2026, walaupun panduan margin bunga bersih tahun ini mengalami penurunan. Kondisi ini memicu munculnya rekomendasi beserta target harga terbaru untuk saham BMRI.

Bank Mandiri (BMRI) mencatatkan laba setelah pajak (net profit after tax/NPAT) konsolidasian, tidak termasuk PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), mencapai Rp 30,4 triliun pada semester I-2026 atau tumbuh 24% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Pencapaian tersebut setara dengan 51% dari proyeksi kami untuk setahun penuh 2026 dan 53% dari konsensus analis, sehingga secara umum masih sesuai ekspektasi,” tulis analis MNC Sekuritas, Victoria Venny dalam risetnya, Minggu (26/7/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pada kuartal II-2026, BMRI membukukan NPAT sebesar Rp 15 triliun yang berarti naik 33,5% yoy, namun mengalami penurunan 2,3% dari kuartal sebelumnya (quarter on quarter/qoq).

Laba operasional sebelum pencadangan (pre-provision operating profit/PPOP) milik BMRI melonjak 19,9% yoy menjadi Rp 44,2 triliun. Kenaikan tersebut ditopang oleh pertumbuhan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) sebesar 8% yoy menjadi Rp 47,8 triliun, serta peningkatan pendapatan non-bunga sebesar 14,9% yoy menjadi Rp 22,8 triliun.

Sementara itu, biaya kredit (cost of credit/CoC) mencatatkan perbaikan menjadi 0,61% dari sebelumnya 0,66% pada semester I-2025. “Angka tersebut turun 5 basis poin (bps) secara tahunan,” sebut Victoria sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Beban pencadangan turut mengalami penurunan sebesar 12,5% yoy menjadi Rp 5,1 triliun, sehingga secara konsisten menopang pertumbuhan laba Bank Mandiri (BMRI).

Penyaluran total kredit Bank Mandiri tumbuh 19% yoy atau 4% qoq hingga mencapai Rp 1.677 triliun. Peningkatan ini terutama didorong oleh segmen korporasi yang melonjak 34% yoy dan segmen komersial yang tumbuh 15% yoy.

Di sisi lain, perolehan dana murah (current account saving account/CASA) BMRI yang mencakup giro dan tabungan tumbuh 5,7% yoy menjadi Rp 1.220 triliun. Namun demikian, rasio CASA tercatat melandai menjadi 69,2% dari angka 76,6% pada semester I-2025, yang menunjukkan berkurangnya porsi dana murah terhadap total dana pihak ketiga.

“Manajemen BMRI menurunkan panduan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) untuk estimasi tahun 2026 menjadi 4,3-4,5% dari sebelumnya 4,5-4,7%. Tekanan terhadap NIM diperkirakan berlanjut pada kuartal III-2026, sebelum mulai stabil pada kuartal IV-2026,” ungkap Victoria sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Atas pencapaian ini, MNC Sekuritas memilih untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BMRI dengan target harga berada di level Rp 6.050.

Target harga saham BMRI tersebut mencerminkan rasio price to book value (PBV) sebesar 1,8 kali untuk estimasi tahun 2026 dan 1,7 kali untuk estimasi tahun 2027.

Melihat valuasi saat ini – yakni PBV sebesar 1,6 kali – ditambah potensi imbal hasil dividen mencapai 7-8%, saham BMRI dinilai masih sangat menarik.

Risiko utama yang patut diwaspadai meliputi melambatnya pertumbuhan kredit akibat penurunan permintaan yang berpotensi makin tertekan oleh dinamika geopolitik, serta potensi berlanjutnya penyusutan NIM.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index