JAKARTA – Mayoritas pergerakan saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) berada di zona hijau pada pekan periode 20-24 Juli 2026. Perdagangan Jumat (24/7/2026) mencatat saham ITMG ditutup menguat 0,41 persen ke level Rp 24.500.
Perdagangan saham Indo Tambangraya mencatatkan volume 1,32 juta saham, frekuensi 2.397 kali, serta nilai transaksi Rp 32,46 miliar. Sementara itu, akumulasi net buy investor asing pada saham ini mencapai Rp 14,78 miliar.
Lompatan sebesar 9,62 persen berhasil dicatatkan oleh saham Indo Tambangraya Megah dalam kurun satu bulan terakhir.
Meskipun begitu, nilai rasio price to book value (PBV) ITMG tercatat masih di bawah 1, yakni tepatnya 0,85. Berdasarkan data aplikasi Stockbit, nilai buku per saham ITMG berada di kisaran Rp 28.800.
Di sisi lain, price earning ratio (PER) annualized ITMG berada di angka 7,51 kali.
Ketidakpastian kebijakan yang masih diperhitungkan pasar membuat valuasi saham batu bara belum mencerminkan kondisi fundamentalnya. Walau demikian, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) tetap menjadi saham jagoan BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) dengan target harga ITMG dipatok pada Rp 34.000.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan dan Kafi Ananta memproyeksikan harga batu bara tidak akan anjlok meskipun kembali normal di semester II-2026.
Percepatan pemenuhan kewajiban pasar domestik serta strategi pembeli dalam menjaga persediaan diperkirakan menahan risiko penurunan harga batu bara.
Data mingguan terbaru menunjukkan Indonesian Coal Index 3 (ICI3) berada di angka US$ 84 per ton, sedangkan ICI4 di tingkat US$ 64,6 per ton. Kedua indeks harga tersebut sempat memuncak pada Juni 2026 sebelum akhirnya mengalami penurunan moderat beberapa pekan terakhir.
Sementara itu, tingkat ketatnya keseimbangan pasokan dan permintaan selama lima bulan pada 2026 belum sampai menyentuh skala guncangan moderat.
“Revisi naik dalam rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) berpotensi membuka tambahan pasokan pada semester II-2026,” tulis Erindra dan Kafi dalam risetnya, Rabu (22/7/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Variabel paling penting berada pada persetujuan revisi RKAB yang diajukan awal Juli dan diperkirakan terbit dalam 1-1,5 bulan.
Risiko mengenai Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) diprediksi mereda, walaupun komitmen pembeli untuk kontrak 2027 masih menyisakan ketidakpastian.
Peningkatan pendapatan perusahaan batu bara secara kuartalan (quarter on quarter/qoq) diperkirakan BRI Danareksa Sekuritas terjadi pada kuartal II-2026. Peningkatan produksi, volume penjualan, serta harga ekspor menjadi penopang utama kenaikan tersebut.
“Tetapi, kenaikan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) batu bara kemungkinan tertinggal dibandingkan peningkatan harga indeks acuan karena porsi penjualan DMO (domestic market obligation) yang lebih besar,” jelas Erindra sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Manfaat dari pertumbuhan pendapatan diproyeksikan sebagian besar terimbangi oleh peningkatan biaya. Lonjakan harga high speed diesel (HSD) domestik sebesar 35-40 persen qoq menjadi salah satu pemicu utamanya.
HSD sendiri merupakan bahan bakar diesel yang dipakai secara luas untuk operasional pertambangan, seperti alat berat dan angkutan batu bara.
Sektor batu bara tetap dipertahankan pada pandangan overweight oleh BRI Danareksa Sekuritas, tetapi pandangan taktis 3 bulan disesuaikan menjadi netral.
Isu DSI yang mencuat membuat sektor batu bara belum pulih sepenuhnya dan kini diperdagangkan pada price to earnings ratio (PER) 6,1 kali. Angka tersebut mengindikasikan bahwa valuasi saham batu bara masih memperhitungkan faktor ketidakpastian kebijakan.
Normalisasi harga komoditas serta risiko kinerja kuartal II-2026 diperkirakan membatasi kenaikan harga saham sektor batu bara dalam jangka pendek.
“Kami tetap menyukai emiten yang memiliki katalis spesifik perusahaan, dukungan dividen, dan ruang aman dari sisi valuasi,” ungkap Erindra sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Rekomendasi beli diberikan BRI Danareksa Sekuritas untuk saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) sebagai pilihan utama sektor batu bara.
Target harga untuk saham AADI dipasang pada Rp 12.400, sedangkan saham ITMG ditetapkan sebesar Rp 34.000.
“Titik masuk yang lebih menarik berpotensi muncul setelah publikasi kinerja kuartal II-2026. Namun, itu bergantung pada persetujuan revisi RKAB, berkurangnya risiko implementasi DSI, dan berlanjutnya pemulihan volume produksi pada semester II-2026,” pungkasnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.