Dividen BBRI Naik 14 Persen hingga Harga Emas Antam Ambrol

Dividen BBRI Naik 14 Persen hingga Harga Emas Antam Ambrol
Ilustrasi BBRI (sumber foto : NET)

JAKARTA – Sebagai platform rujukan terpercaya di sektor bisnis dan finansial, investor.id senantiasa menjadi panduan utama bagi masyarakat dalam mengambil keputusan investasi. Berikut adalah rincian lima berita paling diminati hingga Jumat (24/7/2026):

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) beserta entitas anak sukses mengantongi laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik senilai Rp 15,5 triliun pada kuartal I-2026, yang menunjukkan lonjakan 14% secara tahunan (year on year/yoy).

BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) mempublikasikan pembaruan terkait performa BBRI pada kuartal I-2026. Menurut pihak broker efek tersebut, pencapaian BBRI 1Q26 sejalan dengan kualitas yang solid, di mana NIM tetap tangguh di tengah tekanan CoF, CoC merosot tajam, serta pertumbuhan berbasis wholesale yang mampu mengimbangi pelemahan konsumer.

Pihak BRIDS menyatakan bahwa PBV BBRI berada di level 1,4x untuk ROE di atas 18% serta dividend yield berkisar antara 10 sampai 12% yang dikategorikan sebagai anomali historis yang signifikan. “Pasar pricing-in skenario bearish yang belum terjadi,” sebut BRIDS sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Nilai logam mulia batangan dari PT Antam Tbk (ANTM) terpantau mengalami kejatuhan drastis pada Jumat, 24 Juli 2026.

Berdasarkan pemantauan pada laman Logam Mulia, harga emas Antam (ANTM) hari ini merosot senilai Rp 35.000 menuju posisi tersebut. Di sisi lain, harga jual kembali atau buyback emas Antam (ANTM) pada hari yang sama terkoreksi jauh lebih dalam.

Masyarakat dapat memantau daftar harga berbagai pecahan emas batangan di luar komponen pajak yang tercatat resmi pada laman Logam Mulia Antam (ANTM) tertanggal Jumat (24/7/2026) melalui tautan yang tersedia di sini.

Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memperlihatkan tren penguatan yang masif menjelang perilisan laporan keuangan periode kuartal II-2026. Lonjakan tersebut mencerminkan tingginya antusiasme serta fokus para investor terhadap prospek operasional sekaligus progres diversifikasi bisnis perseroan.

Sepanjang sesi perdagangan hari Kamis (23/7/2026), saham BUMI ditutup menguat pada posisi Rp 183, atau menanjak 8,9% apabila dikomparasikan dengan penutupan hari sebelumnya di level Rp 168. Instrumen saham tersebut bahkan sempat menyentuh titik tertinggi di angka Rp 196 dengan total volume transaksi menembus kisaran 12,1 miliar saham atau setara dengan Rp 2,2 triliun.

Analis dari Phintraco Sekuritas, yakni Aditya Prayoga, berpandangan bahwa penguatan saham BUMI erat kaitannya dengan ekspektasi pelaku pasar terhadap laporan keuangan kuartal II-2026. Di samping itu, kalangan investor mulai memperhitungkan proyeksi kontribusi dari aset non-batu bara milik perseroan yang telah memasuki fase produksi.

Instrumen saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA secara mengejutkan mengalami koreksi sebesar 3,46% ke level Rp 6.275 saat penutupan perdagangan hari Kamis (23/7/2026). Saham institusi perbankan berskala besar ini terpantau banyak dilepas oleh investor asing.

Pihak CGS International Sekuritas melalui hasil kalkulasi mereka untuk sesi perdagangan Jumat (24/7/2026) memetakan tingkat risiko saham BBCA dengan titik support awal pada level tersebut.

Kendati demikian, potensi bagi saham BBCA untuk kembali berbalik arah dan mengalami penguatan tetap terbuka lebar.

Grup Djarum melalui entitas PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) secara resmi mengumumkan pelaksanaan penawaran tender sukarela (voluntary tender offer/VTO) untuk sebanyak-banyaknya 980.044 saham PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR).

Pihak Protelindo menyatakan kesiapan penuh untuk memborong seluruh saham publik SUPR tersebut pada tingkat harga Rp 45.000 per lembar saham. Dengan skema penawaran tersebut, total nilai keseluruhan transaksi diproyeksikan mencapai Rp 44,1 miliar.

Manajemen Protelindo memberikan penjelasan bahwa terhitung sejak tanggal 20 Mei 2026, pihak perusahaan sasaran yakni SUPR telah mengantongi lampu hijau dari para pemegang saham independen dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) tertanggal 20 Mei 2026 terkait rencana transformasi status perusahaan dari terbuka menjadi tertutup (go private) serta persetujuan penghapusan pencatatan saham dari Bursa Efek Indonesia (delisting).

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index