Pemerintah Indonesia Terbitkan Panda Bonds CNY7 Miliar Laris 2,4 Kali

Pemerintah Indonesia Terbitkan Panda Bonds CNY7 Miliar Laris 2,4 Kali
Ilustrasi Panda Bonds CNY7 (sumber foto : NET)

JAKARTA – Penerbitan Surat Utang Negara (SUN) berjenis Panda Bonds di pasar keuangan China menuai respons yang sangat baik, dengan mencatatkan kelebihan permintaan (oversubscribed) 2,4 kali dari total penerbitan sebesar CNY7 miliar. Hasil tersebut membuktikan besarnya kepercayaan para investor terhadap kondisi fundamental perekonomian Indonesia.

Penerbitan instrumen ini menggunakan valuta asing Chinese Renminbi (CNY) dengan nilai sebesar CNY7 miliar atau setara US$ 1,033 miliar. Nilai total penawaran yang masuk menembus angka CNY17 miliar, atau 2,4 kali lipat lebih tinggi dari jumlah yang ditawarkan, dengan bid-to-cover ratio sebesar 2,4 kali.

Dirjen Pengelolaan dan Pembiayaan Risiko Kemenkeu Suminto menjelaskan bahwa langkah ini menjadi momen perdana pemerintah berhasil menerbitkan SUN berdenominasi Chinese Renminbi. Kebijakan penerbitan ini diposisikan sebagai salah satu strategi negara untuk melakukan diversifikasi pada sumber pembiayaan.

Tingginya antusiasme pasar modal membuat pemerintah berhasil mengamankan beban pendanaan yang efisien melalui penetapan yield yang kompetitif. Seluruh dana yang terkumpul bakal dipergunakan demi menopang kebutuhan pembiayaan APBN Tahun Anggaran 2026.

"Tingginya permintaan investor dan tingkat imbal hasil yang kompetitif mencerminkan kuatnya kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi, maupun kredibilitas pengelolaan fiskal Indonesia," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Apabila diperinci, obligasi ini terbagi menjadi dua kelompok tenor, yakni tenor 3 tahun senilai CNY5,6 miliar dengan yield 1,9% serta tenor 5 tahun sebesar CNY1,4 miliar ber-yield 2,19%. "Transaksi akan diselesaikan (settlement) pada 30 Juli 2026, saat dana hasil penerbitan resmi diterima pemerintah," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pada seri tenor 3 tahun, pemesanan yang masuk mencapai angka CNY12,38 miliar untuk nilai penerbitan CNY5,6 miliar sehingga membukukan bid to cover ratio 2,2 kali. Sementara itu, untuk seri tenor 5 tahun, jumlah penawaran menyentuh CNY4,62 miliar atas penerbitan CNY1,4 miliar dengan bid to cover ratio sebesar 3,3 kali.

Instrumen Panda Bonds yang dirilis pada transaksi ini sukses mengamankan peringkat AAA (Stable) dari lembaga pemeringkat China Lianhe Credit Rating Co Ltd. Adapun Bank of China Limited berperan sebagai lead underwriter dan lead bookrunner, didampingi beberapa konsorsium bank internasional lainnya yang bertindak sebagai joint lead underwriters, joint bookrunners, serta co-managers.

Suminto memaparkan, agenda penerbitan Panda Bonds dilakukan guna mendiversifikasi instrumen pembiayaan sekaligus memperlebar cakupan basis investor. Apalagi, pemerintah Indonesia dan China saat ini telah menjalin kerja sama pada skema transaksi mata uang lokal (local currency transaction/LCT).

"Penerbitan Panda Bonds dalam denominasi Chinese Renminbi (CNY) sangat strategis dalam konteks China sebagai mitra utama perdagangan maupun investasi. Penerbitan Panda Bonds ini juga sinergis dengan local currency transaction antara kedua negara yang tumbuh pesat," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di lokasi terpisah, Chief Economist Bank Danamon Irman Faiz menilai tingginya penawaran Panda Bonds sebesar 2,4 kali merupakan perpaduan antara kepercayaan investor pada kualitas kredit Indonesia dan kondisi likuiditas pasar China yang sangat mendukung. "Oleh karena itu, tingginya permintaan tidak dapat hanya dilihat dari sisi imbal hasil ataupun semata-mata dianggap sebagai bukti kuatnya fundamental Indonesia," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Secara fundamental, Indonesia dinilai masih sangat menarik sebagai sovereign issuer dengan peringkat investment grade, kedisiplinan fiskal yang terjaga, serta rekam jejak pembayaran utang yang baik. Seluruh poin tersebut merupakan fondasi utama dari terciptanya kepercayaan investor.

Di sisi lain, pergerakan dinamika pasar modal China turut memberikan dampak yang teramat besar. "Likuiditas domestik yang memadai di tengah stimulus-stimulus Pemerintah China dan tingkat suku bunga yang relatif rendah, mendorong investor mencari aset dengan imbal hasil lebih tinggi namun tetap memiliki profil risiko yang baik," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dirinya berpandangan bahwa nilai strategis penerbitan ini tidak sekadar diukur dari keberhasilannya saja, melainkan keberadaannya yang sanggup memberikan opsi pembiayaan baru di luar dolar AS dan yen Jepang. Dolar AS memegang peranan sebagai pasar obligasi global terbesar yang sangat likuid, sedangkan yen menyajikan biaya pendanaan kompetitif walau dengan basis investor yang lebih terbatas.

"Dengan masuk ke pasar obligasi onshore China, pemerintah memperoleh fleksibilitas yang lebih besar untuk memilih pasar dan mata uang yang menawarkan cost of funding paling efisien sesuai kondisi pasar pada saat penerbitan, sekaligus memperluas basis investor," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Irman juga menggarisbawahi bahwa efisiensi biaya bukanlah satu-satunya faktor pertimbangan utama. Penerimaan negara mayoritas berbasis rupiah, sedangkan kewajiban pembayaran pokok dan kupon surat utang valas harus dituntaskan dalam valuta asing.

"Oleh karena itu, saya melihat Panda Bonds sebaiknya diposisikan sebagai instrumen diversifikasi mata uang, yaitu melengkapi atau menggantikan sebagian penerbitan global bond dalam dolar AS maupun yen ketika kondisi pasar China lebih menarik, bukan untuk terus meningkatkan porsi utang valas dalam portofolio pemerintah," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dalam jangka panjang, instrumen Panda Bonds berpotensi menjadi opsi pembiayaan yang kian rutin digunakan lantaran sanggup membuka pintu akses ke investor baru. Meski demikian, instrumen ini diprediksi belum akan menggantikan obligasi berdenominasi rupiah sebagai pilar utama pembiayaan negara.

"Panda Bonds lebih tepat dipandang sebagai bagian dari strategi optimalisasi biaya dan risiko, yaitu memperluas pilihan sumber pendanaan, meningkatkan fleksibilitas pembiayaan, dan mengoptimalkan biaya serta risiko utang pemerintah secara keseluruhan," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sementara itu, Peneliti Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menyebut penerbitan ini sebagai langkah vital untuk mengepakan sayap pembiayaan pemerintah. Namun, ia menyarankan agar langkah ini tetap dicermati secara objektif dan bukan cuma dianggap sebagai simbol keberhasilan belaka.

Aspek utama yang wajib diwaspadai adalah risiko pergerakan nilai tukar mata uang asing. Mengingat pembayaran pokok beserta bunga memakai mata uang yuan, penguatan nilai yuan atas rupiah berisiko mendongkrak beban utang secara keseluruhan.

"Memang, nilai Panda Bonds ini masih relatif kecil dibandingkan total utang luar negeri pemerintah yang mencapai sekitar US$217 miliar. Namun, jika penerbitan dalam yuan terus meningkat, eksposur risiko mata uang juga akan bertambah. Pemerintah dapat melakukan lindung nilai atau hedging, tetapi biaya dan likuiditas pasar yuan terhadap rupiah masih belum sebaik pasar dolar terhadap rupiah," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Maka dari itu, penghitungan efisiensi biaya pendanaan tidak boleh sebatas bertumpu pada rendahnya kupon semata, melainkan wajib memperhitungkan komponen risiko nilai tukar.

Tingginya bid to cover sebesar 2,4 kali dengan permintaan mendekati CNY17 miliar memang memberikan sinyal yang cukup positif. Walau begitu, fenomena tersebut tidak bisa secara mutlak ditafsirkan sebagai bentuk kepercayaan penuh pada perekonomian Indonesia.

Menurutnya, pasar obligasi di China memiliki ketersediaan likuiditas yang melimpah dan investor di sana amat memerlukan instrumen investasi berkualitas dengan yield yang menarik. Faktor peringkat utang serta kondisi internal pasar China turut menjadi pendorong tingginya antusiasme tersebut.

"Dengan yield sekitar 1,90% untuk tenor tiga tahun dan 2,19% untuk tenor lima tahun, Panda Bonds memang terlihat kompetitif dibandingkan instrumen lain. Tetapi biaya pendanaan yang sebenarnya harus dihitung secara menyeluruh dengan memasukkan biaya hedging dan potensi perubahan nilai tukar. Dalam kondisi tertentu, biaya total setelah lindung nilai bisa saja mendekati atau bahkan lebih tinggi dibandingkan penerbitan dalam dolar," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berdasarkan kacamata hubungan ekonomi, aksi ini menggambarkan makin eratnya sinergi antara Indonesia dan China di lingkup perdagangan serta keuangan. Walau demikian, pemerintah diingatkan untuk terus memelihara keseimbangan portofolio utang agar diversifikasi ini tidak memicu ketergantungan.

Mengenai keterkaitannya dengan LCT, kedua mekanisme ini memiliki peran terpisah tetapi dapat saling mendukung satu sama lain. Kehadiran Panda Bonds dinilai sanggup memperkokoh ekosistem yuan, meski tidak menjadi jaminan mutlak bagi kesuksesan implementasi LCT.

"Dalam jangka panjang, Panda Bonds dapat menjadi alternatif pembiayaan yang bermanfaat selama tetap menjadi instrumen pelengkap. Kunci utamanya adalah kemampuan pemerintah mengelola risiko nilai tukar, menjaga proporsi utang yuan dalam batas yang sehat, dan memastikan biaya pendanaan setelah hedging tetap kompetitif," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index