JAKARTA - PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) merasa yakin sanggup meraih hasil yang lebih maksimal sepanjang 2026.
Sejalan dengan naiknya kebutuhan jasa kesehatan, perusahaan laboratorium ini mematok kenaikan pemasukan 3%–5% serta laba bersih 11%–15% lewat penguatan usaha utama, pengembangan jasa kesehatan terkini, serta perluasan jangkauan.
Direktur Prodia Widyahusada dari Sumbernya menyebutkan, kecenderungan naiknya usaha perseroan mulai memperlihatkan perkembangan sejak awal tahun.
Pada kuartal I-2026, PRDA membukukan kenaikan pemasukan 3,8% secara tahunan (yoy), yang menjadi hasil kuartal awal paling baik dalam dua tahun terakhir.
Menurut dari Sumbernya, kecenderungan baik tersebut masih berjalan pada kuartal II-2026.
Namun, perusahaan belum dapat memberikan rinciannya karena laporan keuangan semester I-2026 masih dalam tahapan penyusunan.
Berpatokan pada perkembangan tersebut, Prodia menjaga target kenaikan pemasukan pada rentang 3%–5% sepanjang 2026.
Sementara itu, laba bersih dipatok meningkat sekitar 11%–15%.
"Untuk pendapatan kami menargetkan pertumbuhan di kisaran mid single digit atau sekitar 3%–5%. Sementara laba bersih kami upayakan tumbuh di kisaran low teens," ujar dari Sumbernya.
Guna meraih target tersebut, PRDA mengandalkan empat langkah utama.
Fokus pertama adalah memperkokoh usaha inti lewat optimalisasi jasa laboratorium, menambah bagian pemeriksaan bernilai tinggi contohnya tes esoterik, memperbaiki campuran pelanggan, memperkuat jasa digital, serta melebarkan jangkauan jasa.
Di sisi lain, perusahaan juga terus menciptakan sumber pemasukan baru.
Sepanjang semester I-2026, Prodia telah membuka Autoimmune and Allergy Clinic pada Februari, Stem Cell Clinic pada April lewat kerja sama dengan Prostem, serta Prodia Women's Health Center pada Juni.
"Meski bisnis utama kami tetap laboratorium, kami terus berinovasi mengembangkan bisnis di luar layanan inti, termasuk melalui digitalisasi yang sudah berjalan secara masif," kata dari Sumbernya.
Di samping menyediakan jasa baru, Prodia pun akan memperluas jasa kesehatan yang lebih personal (personalized health services), menambah bagian pemeriksaan dengan margin tinggi, serta memperkokoh kolaborasi dengan rumah sakit, pihak asuransi, sampai pemerintah, termasuk melalui Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) BPJS.
Perusahaan pun meneruskan penguatan transformasi digital serta penerapan prinsip environmental, social, and governance (ESG) sebagai bagian dari persiapan penggunaan aturan akuntansi IFRS yang akan berlaku mulai tahun depan.
Sampai akhir kuartal I-2026, Prodia telah menjalankan 392 gerai yang tersebar di 34 provinsi.
Pada semester II-2026, perusahaan mematok pembukaan dua hingga tiga gerai baru untuk melebarkan jangkauan jasa.
Guna menunjang ekspansi itu, PRDA menyiapkan dana belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 150 miliar hingga Rp 200 miliar sepanjang 2026.
Sampai saat ini, realisasi capex baru menyentuh sekitar Rp 20 miliar.
Dari Sumbernya menjelaskan, alokasi penanaman modal tahun ini lebih kecil dibandingkan tahun-tahun sebelumnya karena sebagian besar proyek transformasi digital telah selesai.
Di tengah potensi naiknya biaya akibat melemahnya nilai tukar rupiah, Prodia memastikan tidak akan menaikkan tarif jasa sampai akhir 2026.
Direktur Prodia Widyahusada dari Sumbernya menyebutkan, perusahaan memilih menanggung kenaikan biaya operasional serta bahan baku supaya tidak memberatkan pelanggan.
"Sampai akhir tahun ini Prodia tidak akan menaikkan harga. Apa pun yang terjadi dengan kenaikan kurs, kami akan menyerapnya sebagai biaya perusahaan. Kami ingin harga layanan tetap terjangkau bagi pasien," tegas dari Sumbernya.