JAKARTA - PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) saat ini mencatatkan sebagian besar pemasukan dalam mata uang dolar AS, pasca mengambil alih Aster, perusahaan kilang minyak dan kimia di Singapura.
Faktor tersebut menjadi pemicu saham TPIA yang memiliki sasaran harga tinggi.
Berdasarkan catatan dari Sumbernya, margin kilang Aster menyentuh angka maksimal pada Maret 2026, sebesar US$30 per barel, ketika ketegangan perang Timur Tengah berada di titik tertinggi.
Walaupun demikian, pada Mei lalu, margin menyusut menjadi US17,3perbarel(lightsweet)sertaUS16,6 per barel (medium sour), dikarenakan ketegangan perang mereda.
“Tetapi, tetap saja ini di atas margin sebelum perang, US$5 per barel,” tulis dari Sumbernya, dikutip Selasa (14/7/2026).
Dari Sumbernya memperkirakan margin kilang Aster mencapai US$10 per barel, lantaran masih terdapat hambatan pasokan akibat konflik Iran-Amerika Serikat (AS).
Hal ini akan menjadikan proses pengembalian akuisisi Aster oleh TPIA berjalan sejalan dengan rencana.
Ditambah lagi, Aster berencana menambah kapasitas kilang menjadi 307 killo barrel per day (kbpd) dari 237 kbpd.
Dari Sumbernya mencatat, perseroan sekarang mempunyai dolar AS yang banyak setelah membeli Aster.
Ini bisa menjaga perseroan dari ketidakstabilan rupiah.
“Di luar itu, perseroan bisa mendapatkan pendanaan murah karena memiliki basis pendapatan dolar AS,” tulis dari Sumbernya.
Berdasarkan pertimbangan tersebut, dari Sumbernya menjaga anjuran beli saham TPIA dengan sasaran harga tetap, yaitu Rp6.200.
Artinya, peluang keuntungan saham yang dipimpin Grup Barito, kelompok bisnis konglomerat Prajojo Pangestu, sangat lebar, yakni menembus 221%.