JAKARTA – Minat investor terhadap saham sektor kesehatan menunjukkan tren penguatan pada awal semester II/2026. Momentum ini didorong oleh aksi initial public offering (IPO) sejumlah perusahaan medis serta pergerakan positif saham emiten di bursa.
Gairah pasar semakin meningkat seiring dengan resminya PT Prodia Diagnostic Line Tbk. (PRDL) melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (9/7/2026). Perusahaan ini menyusul jejak PT Esa Medika Mandiri Tbk. (EMMI) dan PT Nitrasanata Dharma Tbk. (JECX) yang lebih dulu masuk ke pasar modal.
Animo pasar terhadap emiten baru ini terlihat dari hasil penawaran umum PRDL yang mencatatkan oversubscribed hingga 709 kali. Lonjakan pemesanan dari investor ritel domestik tersebut diklaim memecahkan rekor tertinggi dalam sejarah IPO di Indonesia.
Direktur Utama Prodia Diagnostic Line, Cristina Sandjaja, menyebut tingginya minat investor membuktikan pasar saham domestik tetap tertarik pada perusahaan dengan fundamental kokoh dan rasio price to earnings yang atraktif. “Pasar saham Indonesia ini masih bergairah dan haus dengan investasi-investasi yang baru. Mereka juga mencari perusahaan yang fundamentalnya bagus,” ujar Cristina sebagaimana dilansir dari sumber berita.
PRDL berencana menggunakan 62% dari dana hasil IPO untuk melunasi utang produktif terkait fasilitas produksi baru. Sisanya akan dialokasikan untuk pembelian mesin penunjang dan modal kerja operasional.
Sementara itu, emiten kesehatan baru lainnya, EMMI, menargetkan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih di level double-digit hingga akhir tahun 2026. Direktur Utama Esa Medika Mandiri, Florian Chris Widjaja, menyatakan ruang pertumbuhan sektor alat kesehatan domestik masih terbuka lebar.
“Kami masih on track untuk pertumbuhan tahun ini. Targetnya [pendapatan dan laba] seharusnya tumbuh double digit dibandingkan capaian tahun lalu,” ujarnya sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Kondisi tersebut selaras dengan performa indeks IDX Healthcare yang mencatat penguatan 1% ke level 1.453,46 pada penutupan perdagangan Rabu (8/7/2026). Penguatan ini terjadi di tengah mayoritas indeks sektoral lain yang berada di zona merah.
Sektor kesehatan diproyeksikan menjadi sektor defensif dengan prospek laba paling atraktif untuk periode 2026–2027. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menjelaskan kinerja emiten medis saat ini didorong oleh faktor struktural berkelanjutan, bukan lagi faktor siklikal seperti pandemi.
“Pendorong utamanya adalah kenaikan belanja kesehatan masyarakat, penuaan penduduk [aging population], perluasan akses hingga modernisasi fasilitas rumah sakit,” ucap Nafan sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menambahkan bahwa pelaku pasar cenderung memburu emiten dengan kepastian pendapatan yang kuat di tengah ketidakpastian makroekonomi. Menurutnya, gairah saham kesehatan didorong oleh kombinasi sentimen pasar dan fundamental.
“Kombinasinya sekitar 60% digerakkan oleh sentimen pasar berupa rotasi sektor defensif dari sektor-sektor yang terdampak evaluasi indeks MSCI dan BI Rate. Sementara itu, 40% sisanya baru disokong oleh faktor fundamental," ucap Wafi sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Prospek industri alat kesehatan domestik dinilai menarik berkat kebijakan ambang batas Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Regulasi ini efektif menciptakan pasar yang pasti serta memacu agenda substitusi produk impor.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo, menyebut prospek sektor kesehatan didukung oleh peningkatan kesadaran medis dan pertumbuhan kelas menengah. Emiten rumah sakit diperkirakan menjadi motor utama pertumbuhan melalui ekspansi kapasitas dan penambahan jumlah pasien.
“Sementara farmasi tetap menarik, didukung pengembangan produk bernilai tambah seperti biologis, vaksin, dan obat bermerek, meskipun masih menghadapi tekanan biaya bahan baku impor,” ucap Azis sebagaimana dilansir dari sumber berita.