JAKARTA – Potensi Indonesia untuk turun kelas dari kategori Emerging Markets ke Frontier Markets dalam klasifikasi Morgan Stanley Capital International dinilai tidak memiliki dasar yang kuat. Pengamat pasar modal, Hans Kwee, menyatakan bahwa hasil tahunan MSCI Market Classification Review pada Juni 2026 justru mempertahankan posisi Indonesia di kelompok Emerging Markets.
Syarat utama untuk tetap berada dalam kategori tersebut adalah memiliki setidaknya tiga saham yang memenuhi kriteria MSCI. Kriteria yang dimaksud mencakup ukuran perusahaan, ukuran efek atau saham, serta likuiditas saham yang memadai bagi investor institusi.
Hans menjelaskan bahwa saat ini terdapat 11 saham di pasar modal Indonesia yang telah memenuhi ketiga kriteria tersebut. “Artinya, kalaupun ada beberapa saham Indonesia yang keluar pada penyesuaian Agustus 2026, jumlah saham Indonesia yang berada di atas kriteria tersebut masih lebih dari tiga. Jadi, menyebut Indonesia akan turun ke Frontier Market adalah kurang berdasar,” ujar Hans sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Ia menambahkan bahwa status freeze atau pembekuan yang masih diterapkan MSCI saat ini berkaitan dengan penggunaan data baru hasil reformasi pasar modal. Pihak MSCI memerlukan waktu untuk mengimplementasikan data yang kini dinilai lebih lengkap dan transparan.
“Data HSC dan klasifikasi investor yang meningkat dari sembilan menjadi 39 kategori, serta data kepemilikan saham di atas satu persen, tentu akan mempertajam analisis MSCI,” papar Hans sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Selain itu, kondisi pasar saham nasional dinilai membaik setelah negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang membuka kembali Selat Hormuz. Hal tersebut menyebabkan harga minyak dunia menurun dan mengurangi tekanan terhadap ekonomi Indonesia sebagai negara net importir minyak.
Perubahan struktur pasar minyak dari backwardation menjadi contango juga membantu mengurangi persepsi risiko terhadap pasar modal nasional. “Namun, seiring turunnya harga minyak dunia, risiko terhadap Indonesia ikut menurun sehingga tekanan di pasar saham Indonesia juga berkurang,” pungkas Hans sebagaimana dilansir dari sumber berita.