JAKARTA – Saham PT Bach Multi Global Tbk (BACH) mengawali debutnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan mencatatkan kenaikan hingga menyentuh batas atas auto rejection atas (ARA) saat pembukaan perdagangan, Rabu (8/7/2026).
Saham BACH dibuka di area Rp 550 per saham atau melonjak 108 poin, setara 24,43 persen dibandingkan harga penawaran umum perdana sebesar Rp 442 per saham.
Sejak pukul 09.00 WIB, saham BACH langsung bergerak ke posisi ARA dan terus bertahan hingga pagi ini.
Pada pukul 09.05 WIB, tercatat sebanyak 2,07 juta lot saham ditransaksikan dengan nilai mencapai Rp 114,07 miliar melalui 416 kali transaksi.
Terdapat antrean beli sebesar 1,19 juta lot di harga Rp 550 per saham, yang menunjukkan tingginya minat investor terhadap emiten baru ini.
BACH melepas 615 juta saham baru atau 15,06 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh dengan harga Rp 442 per saham.
Aksi korporasi ini menargetkan perolehan dana sekitar Rp 271,83 miliar bagi perusahaan penyedia genset dan infrastruktur telekomunikasi tersebut.
Semesta Indovest Sekuritas dalam risetnya per 2 Juli 2026 menilai model bisnis BACH yang mengintegrasikan penyediaan genset dengan jasa konstruksi telekomunikasi merupakan keunggulan kompetitif.
Kedua lini usaha ini menciptakan peluang cross-selling karena operator telekomunikasi membutuhkan pasokan listrik yang andal serta layanan pemeliharaan jaringan.
“Model bisnis yang terintegrasi membuka peluang perusahaan menangkap permintaan dari kebutuhan genset, mobile backup power, maintenance site, fiberisasi, hingga pembangunan infrastruktur digital,” tulis Semesta Indovest sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Kinerja keuangan perseroan sepanjang 2025 tercatat tumbuh signifikan dan menopang prospek tersebut.
Pendapatan BACH meningkat 39,7 persen menjadi Rp 1,73 triliun yang utamanya didorong oleh bisnis penjualan dan penyewaan genset.
Laba bersih perseroan melonjak 97,5 persen secara tahunan menjadi Rp 156 miliar.
Margin laba bersih atau net profit margin (NPM) juga membaik menjadi 9 persen dari posisi sebelumnya di 6,3 persen.
Kontributor pendapatan terbesar berasal dari bisnis genset sebesar Rp 978 miliar atau 56,4 persen dari total pendapatan 2025.
Segmen jasa konstruksi dan pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi menyumbang pendapatan sebesar Rp 755 miliar atau 43,6 persen.
Posisi BACH dinilai semakin kuat sejak bergabung dalam ekosistem PT Sarana Menara Nusantara Tbk pada 2023.
Grup tersebut mengoperasikan sekitar 36.049 menara telekomunikasi dan lebih dari 170.500 kilometer jaringan serat optik hingga September 2025.
Keterkaitan dengan ekosistem ini memperluas akses BACH terhadap berbagai proyek infrastruktur telekomunikasi skala nasional.