Aksi Jual Asing Membatasi Penguatan IHSG yang Berpotensi Uji Level 6.000

Aksi Jual Asing Membatasi Penguatan IHSG yang Berpotensi Uji Level 6.000
Ilustrasi: Investor asing melakukan aksi jual yang membatasi penguatan IHSG menuju level 6.000. (Gambar: NET)

JAKARTA – Sejumlah analis memproyeksikan indeks harga saham gabungan (IHSG) masih memiliki peluang untuk menguat, walaupun penguatannya relatif terbatas. Aksi jual asing yang terus berlanjut sejak awal tahun dinilai menjadi faktor penghambat utama.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, menyatakan bahwa IHSG menunjukkan kecenderungan rebound secara teknikal. Meski demikian, indikator relative strength index (RSI) masih memberikan sinyal negatif.

“Seyogyanya, pergerakan IHSG pada hari ini diperkirakan masih positif sehingga kecenderungan rebound berlanjut,” kata Nafan lewat catatannya, Selasa (7/6/2026), sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Nafan menambahkan bahwa aksi jual investor asing tetap menjadi faktor yang membatasi kenaikan indeks. “Potensi kenaikan kemungkinan berlangsung secara bertahap,” tuturnya, sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Nafan memproyeksikan titik support berada di kisaran 5.848 dan 5.723, dengan resistance pada level 5.972 dan 6.127. Sementara itu, Phintraco Sekuritas memprediksi IHSG bergerak pada rentang support 5.800, pivot 5.900, dan resistance 6.000.

Secara teknikal, IHSG telah ditutup di atas rata-rata pergerakan lima hari (MA5) dan 10 hari (MA10), meskipun masih berada di bawah MA20. Histogram MACD positif terus melebar dan Stochastic RSI menguat di area pivot.

"Sehingga secara teknikal IHSG diperkirakan berpotensi melanjutkan kenaikan dan menguji level 6.000," tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya, Selasa (7/7/2026), sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Kendati demikian, penguatan tersebut belum didukung sepenuhnya oleh aktivitas transaksi. Phintraco Sekuritas mencatat volume dan nilai perdagangan masih cenderung sepi, dengan total volume sekitar 19,6 miliar saham dan nilai transaksi lebih dari Rp9,4 triliun.

Jumlah tersebut masih berada di bawah rata-rata harian yang mencapai lebih dari 41 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp24 triliun. Kondisi ini mencerminkan dominasi investor domestik, sementara pelaku pasar lainnya memilih untuk bersikap wait and see akibat minimnya katalis positif dan maraknya penawaran umum perdana saham (IPO).

"Relatif menurunnya volume dan nilai transaksi akhir-akhir ini diperkirakan karena perdagangan lebih didominasi oleh investor domestik, serta investor yang cenderung wait and see di tengah minimnya katalis positif dan di tengah maraknya IPO," lanjut riset tersebut, sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Selain itu, faktor musim liburan sekolah dan penyelenggaraan Piala Dunia 2026 turut memengaruhi aktivitas perdagangan. Di sisi lain, pasar juga mencermati rencana penyesuaian anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang turun menjadi sekitar Rp174 triliun pada 2027 dari sebelumnya Rp268 triliun.

Phintraco menilai penurunan anggaran tersebut berpotensi mengurangi tekanan terhadap defisit APBN dan menjadi sentimen positif bagi pasar. Analis teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menambahkan bahwa penguatan IHSG masih didominasi volume pembelian meskipun pergerakannya tertahan di area MA20.

"Posisi IHSG saat ini masih berada pada bagian dari wave (b) dari wave [iv] pada skenario hitam," ujar Herditya dalam risetnya, sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Namun, Herditya mengingatkan bahwa IHSG masih memiliki risiko terkoreksi ke kisaran 5.472 hingga 5.540. Investor juga disarankan mencermati skenario alternatif, yaitu apabila IHSG sedang membentuk awal wave [v] dari wave 3 yang membuka peluang berlanjutnya tren penguatan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index