Lonjakan Laba Samsung di Tengah Penurunan Performa LG Energy Solution

Lonjakan Laba Samsung di Tengah Penurunan Performa LG Energy Solution
Ilustrasi: Laba operasional Samsung Electronics melonjak 19 kali lipat pada kuartal kedua 2026. (Foto: NET)

JAKARTA – Kondisi bisnis dua raksasa teknologi asal Korea Selatan menunjukkan tren yang bertolak belakang pada kuartal kedua tahun ini. Laba operasional Samsung Electronics Co. melonjak signifikan hingga 19 kali lipat, sementara unit bisnis baterai milik LG Group, LG Energy Solution Ltd., justru harus menghadapi penurunan kinerja akibat lesunya permintaan kendaraan listrik global.

Lonjakan keuntungan Samsung didorong oleh tingginya permintaan pasar terhadap produk chip memori untuk pusat data kecerdasan buatan (AI). Perusahaan mencatat laba operasional awal mencapai US$58 miliar atau sekitar 89,4 triliun won (setara Rp1.043 triliun) dalam periode tiga bulan hingga Juni 2026, yang sekaligus melampaui total pencapaian sepanjang tahun sebelumnya.

Pendapatan Samsung juga meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi 171 triliun won, melewati ekspektasi rata-rata para analis sebesar 84,2 triliun won. Meski mencatatkan margin yang kuat dari infrastruktur AI global, harga saham Samsung sempat terkoreksi 3% selama perdagangan pra-pasar di Seoul karena dinamika pasar semikonduktor.

Berbeda dengan Samsung, LG Energy Solution mencatatkan performa di bawah perkiraan pasar dengan laba operasional sebesar US$74 juta atau 113,3 triliun won (setara Rp1,33 triliun) hingga 30 Juni 2026. Penurunan ini disebabkan oleh minimnya minat terhadap kendaraan listrik (EV) di pasar utama seperti Amerika Serikat, yang tidak mampu diimbangi oleh lonjakan permintaan sistem penyimpanan energi.

Tanpa adanya insentif pajak manufaktur dari pemerintah Amerika Serikat, produsen baterai terbesar di Korea Selatan ini bahkan berpotensi mengalami kerugian operasional sebesar 127,7 miar won. Meskipun demikian, pendapatan perusahaan tetap tumbuh hampir 25% menjadi 7,6 triliun won, dan laporan keuangan final dijadwalkan terbit akhir bulan ini.

Kekurangan pasokan chip memori saat ini menjadi hambatan utama dalam pengembangan teknologi AI secara global. Produsen kini memprioritaskan pembuatan memori kelas atas untuk server AI, yang berdampak pada menipisnya volume produksi memori konvensional untuk perangkat modern sehari-hari.

Situasi kelangkaan ini diperkirakan oleh para analis akan bertahan setidaknya hingga tahun 2027. Kondisi tersebut memberikan kekuatan besar bagi Samsung beserta kompetitornya, seperti SK Hynix Inc. dan Micron Technology Inc., dalam menetapkan harga jual di pasar global.

"Permintaan begitu kuat sehingga mereka berusaha mengirimkan lebih banyak produk ke konsumen server mereka, yang biasanya memiliki margin lebih tinggi," sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Menurut data dari firma riset Counterpoint, rata-rata margin laba operasional untuk tiga produsen chip terbesar tersebut diproyeksikan menyentuh angka 75% hingga 80% pada kuartal Juni 2026. Kenaikan harga juga tercatat signifikan, di mana harga jual DRAM melonjak lebih dari 40% dan harga NAND meningkat di atas 50% dibandingkan kuartal sebelumnya.

Meskipun portofolio Samsung sangat luas, pergerakan sahamnya tahun ini tercatat tumbuh 165%, masih tertinggal dari SK Hynix yang melonjak hingga 260% karena fokus penuh pada memori kelas atas AI. Kedua perusahaan ini memegang peran krusial dalam ambisi jangka panjang Korea Selatan untuk memimpin industri kecerdasan buatan global.

Samsung Group dan SK Group kini tengah bersiap membangun masing-masing dua pabrik chip baru di wilayah barat daya Korea Selatan dengan total nilai investasi gabungan mencapai 800 triliun won. Melalui proyek ini, pemerintah Korea Selatan menargetkan kapasitas produksi memori nasional dapat berlipat ganda dalam waktu lima tahun ke depan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index