JAKARTA - Sejumlah emiten sektor perbankan menempuh aksi buyback atau pembelian kembali saham di tengah lesunya harga di pasar. Meski langkah ini tidak mampu mendorong penguatan harga secara signifikan, aksi tersebut berpotensi menahan laju penurunan harga agar tidak semakin dalam.
Aksi buyback terbaru diumumkan oleh PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) dengan nilai maksimal Rp 200 miliar untuk periode 1 Juli hingga 1 September 2026. Manajemen Allo Bank menyatakan bahwa buyback ini bertujuan menjaga stabilitas harga saham agar lebih mencerminkan kinerja perusahaan.
"Sekaligus menjaga kepercayaan para pemangku kepentingan dalam usaha Perseroan mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan," sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Pada perdagangan Kamis (2/7/2026), saham BBHI berada di level Rp 930, yang mencerminkan pelemahan harga sebesar 37,58 persen sejak awal tahun. Sebelumnya, dua emiten perbankan besar, yaitu PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), telah menempuh aksi serupa dengan nilai mencapai triliunan rupiah.
BBCA menjalankan buyback senilai maksimal Rp 5 triliun hingga 11 Maret 2027, sementara BMRI melakukan buyback maksimal Rp 1,17 triliun hingga 20 April 2027. Meskipun nilai buyback tersebut sangat besar, harga saham keduanya belum bergerak ke zona hijau.
Hingga penutupan perdagangan, harga saham BBCA tercatat merosot 28,17 persen secara year-to-date, sedangkan saham BMRI mengalami penurunan 23,53 persen secara year-to-date. Kepala Riset KISI, Muhammad Wafi, menjelaskan bahwa aksi buyback sejatinya lebih berperan sebagai bantalan permintaan dibandingkan sebagai katalis penguatan harga.
Hal ini dikarenakan nilai buyback yang dilakukan oleh pihak bank jauh lebih kecil dibandingkan dengan tekanan arus keluar modal atau outflow dari investor asing. "Fungsinya lebih untuk memperlambat penurunan daripada mendorong reli," sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Walau begitu, Wafi menilai buyback tetap menjadi sentimen positif karena memberikan sinyal kepercayaan diri internal emiten bahwa harga saham saat ini berada di bawah nilai wajarnya. Langkah buyback tersebut juga diambil pada titik valuasi yang tepat karena dapat mengurangi jumlah saham beredar sehingga laba per saham berpotensi meningkat.
Namun, Wafi menekankan bahwa aksi buyback tidak bisa berdiri sendiri untuk memperbaiki kinerja harga saham. Manajemen emiten perlu menunjukkan prospek laba ke depan serta menjaga konsistensi dividen dan transparansi kualitas kredit untuk menarik minat investor.
Secara umum, ruang pemulihan sektor perbankan di semester II-2026 masih terbuka, namun investor tetap harus bersikap selektif. Wafi lebih menyukai bank dengan basis dana murah besar dan fundamental kuat seperti BBCA dan BMRI, sementara BBHI dinilai lebih cocok bagi investor yang mengejar potensi pertumbuhan tinggi dengan risiko lebih besar.