Indeks Kompas 100 Tertekan, Simak Rekomendasi Saham Blue Chip Pilihan

Indeks Kompas 100 Tertekan, Simak Rekomendasi Saham Blue Chip Pilihan
Ilustrasi: Indeks Kompas 100 mencatat penurunan 39,01% hingga akhir Juni 2026. (Foto: NET)

JAKARTA – Kinerja indeks Kompas 100 terus berada dalam tekanan sepanjang semester I-2026.

Hingga akhir perdagangan Selasa (30/6/2026), indeks tersebut tercatat anjlok 39,01% secara year to date (ytd), yang merupakan penurunan lebih dalam dibandingkan IHSG sebesar 34,74%.

Kendati demikian, prospek indeks Kompas 100 pada semester II-2026 dinilai masih cukup positif dengan potensi pemulihan yang berlangsung secara bertahap.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Brigita Kinari, menyebutkan bahwa koreksi tajam tersebut telah membawa valuasi banyak saham blue chip ke level yang lebih atraktif secara historis.

“Dengan demikian, kami melihat semester kedua lebih sebagai fase bottoming dan akumulasi dibandingkan reli yang berlangsung agresif,” kata Brigita sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, turut mengamini bahwa prospek indeks Kompas 100 pada semester II-2026 berpotensi membaik meskipun volatilitas diperkirakan masih tinggi.

Menurutnya, terdapat peluang re-rating apabila didukung oleh perbaikan sentimen global maupun domestik, seperti percepatan belanja pemerintah dan stabilitas inflasi.

“Secara keseluruhan, saya memperkirakan semester II-2026 akan lebih kondusif dibanding semester pertama, namun pergerakan pasar diperkirakan tetap bersifat selektif dengan fokus utama pada emiten yang memiliki fundamental kuat, profitabilitas yang stabil, serta prospek pertumbuhan laba yang berkelanjutan,” ucap Alrich sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Untuk jangka panjang, emiten dengan fundamental kuat dan valuasi menarik seperti BBCA, BBNI, TLKM, KLBF, MYOR, AMRT, ANTM, dan ASII menjadi pilihan menarik bagi investor.

Sementara itu, Alrich menyarankan strategi wait and see untuk saham BMRI, BBCA, dan TLKM, serta menerapkan strategi sell on strength untuk saham yang telah naik signifikan seperti KLBF dan MYOR karena kondisi IHSG yang masih terlalu volatil.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index