Harga Emas Diprediksi Melemah, Simak Proyeksi Pasar untuk Semester Dua

Harga Emas Diprediksi Melemah, Simak Proyeksi Pasar untuk Semester Dua
Ilustrasi: Harga emas global diprediksi melemah pada paruh kedua 2026 sebelum pulih di 2027. (Gambar: NET)

JAKARTA – Nilai komoditas emas global diprediksi masih mengalami tekanan pada paruh kedua 2026, sebelum akhirnya bangkit kembali pada tahun 2027. Harga emas di pasar spot tercatat menyusut 0,22 persen pada sesi perdagangan Selasa (30/6/2026) menuju angka US$ 4.006,70 per troy ounce.

Kepala Riset Komoditas TD Securities, Bart Melek, mengingatkan bahwa nilai emas berisiko merosot hingga ke bawah posisi US$ 3.900 per troy ounce. Meski demikian, penurunan ini dianggap sebagai kesempatan beli taktis karena tren bullish jangka panjang komoditas tersebut masih jauh dari kata usai.

Faktor risiko utama bagi emas dalam periode pendek berasal dari pergerakan harga minyak yang dapat menyulut inflasi. "Dengan gangguan di Selat Hormuz yang menggerus persediaan ke level terendah dalam sejarah, risiko utamanya adalah pasar minyak mentah yang saat ini berada dalam kondisi oversold dapat mengalami rebound tajam," kata Melek, sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Harga minyak Brent diproyeksikan berpeluang melonjak ke rentang US$ 90 hingga US$ 110 per barel. Situasi ini memicu kenaikan ekspektasi inflasi serta memperkokoh kebijakan moneter ketat, yang menambah biaya peluang bagi para pemodal emas.

"Dengan hubungan terbalik antara harga emas terhadap kenaikan harga minyak dan penguatan dolar AS, harga energi yang bertahan tinggi berpotensi mendorong pelemahan lanjutan pada harga emas dalam beberapa bulan mendatang," ungkap Melek, sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Di sisi lain, Head of Base and Precious Metals Strategy J.P. Morgan, Gregory Shearer, memaparkan bahwa perubahan komunikasi The Fed dalam rapat FOMC telah membuat pasar emas kehilangan daya dorong. "The Fed yang hawkish telah mengubah jeda dalam tren bullish struktural emas menjadi pembekuan yang lebih dalam. Selama bayang-bayang kenaikan suku bunga masih menggantung, keterlibatan investor di pasar emas akan sangat terbatas," tuturnya, sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Chief Market Strategist Asia Pacific JP Morgan Asset Management, Tai Hui, juga menilai emas bukan sebagai instrumen lindung nilai geopolitik yang ideal. "Emas tidak dapat menjadi asset lindung nilai dari ketegangan geopolitik," jelasnya, sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Meskipun terdapat risiko penurunan jangka pendek, Melek optimistis harga emas pada waktunya sanggup menembus angka US$ 5.300 per troy ounce di tahun 2027. Hal ini didukung oleh pergeseran kebijakan moneter The Fed serta kekhawatiran terhadap utang pemerintah AS yang mendekati US$ 40 triliun.

"Dengan utang pemerintah AS yang diperkirakan mendekati US$ 40 triliun dan defisit anggaran yang tetap tinggi, kekhawatiran terhadap represi finansial (financial repression) serta pelemahan nilai mata uang (currency debasement) berpotensi kembali mengemuka," imbuh Melek, sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index