JAKARTA – Nilai tukar rupiah diproyeksikan akan terus bergerak menguat pada sesi transaksi hari ini, Jumat (26/6/2026), setelah menutup perdagangan sebelumnya dengan kenaikan tipis meski masih berada di kisaran level Rp18.000.
Pada sesi perdagangan Kamis (25/6/2026), mata uang rupiah ditutup menguat sebesar 0,05 persen atau naik 9 poin ke posisi Rp17.943 per dolar AS. Pada saat yang sama, Indeks dolar AS (DXY) terpantau melemah 0,10 persen ke level 101,51.
Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menerangkan bahwa indikator pasar yang memengaruhi pergerakan rupiah saat ini masih berfokus pada dinamika konflik Timur Tengah antara pihak AS dan Iran.
Informasi terbaru menyebutkan bahwa kesepakatan pada awal pekan lalu untuk mengakhiri bentrokan AS-Israel yang diinisiasi pada 28 Februari telah memulihkan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Dampaknya, harga minyak mentah dunia konsisten merosot tajam sepanjang minggu ini. Ibrahim menjabarkan bahwa setidaknya terdapat 20 juta barel minyak yang telah dialirkan dari Selat Hormuz dalam kurun waktu 24 jam terakhir.
"Namun penurunan harga minyak ini belum meredam ekspektasi pasar terhadap kebijakan ketat Federal Reserve karena bank sentral AS menunjukkan perpecahan di dewan dengan delapan dari 19 anggota memperkirakan kenaikan suku bunga menjelang akhir tahun 2026, sementara mayoritas memperkirakan suku bunga akan tetap stabil," kata Ibrahim, Kamis (25/6/2026), sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Ibrahim berpendapat bahwa perhatian pelaku pasar saat ini tertuju pada publikasi data inflasi acuan Fed yaitu Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti (PCE), pertumbuhan PDB kuartal pertama 2026, serta data klaim pengangguran mingguan.
Dari sisi domestik, Ibrahim memaparkan bahwa tingkat ketergantungan impor minyak bumi Indonesia dari Timur Tengah kini tersisa di level 20 persen.
Pemerintah telah menjalankan strategi pengalihan sumber pasokan dengan membidik negara-negara di kawasan Afrika seperti Nigeria dan Gabon.
Selain itu, pasokan energi nasional juga diperkuat melalui komitmen pengadaan dari AS serta Venezuela dengan mekanisme Agreement on Reciprocal Tariff (ART).
"Oleh karena itu, pemerintah meyakini kondisi perekonomian Indonesia 2026 masih terjaga dengan baik. Apalagi, kinerja ekonomi Indonesia pada kuartal pertama mencatatkan pertumbuhan yang impresif sebesar 5,61%," jelas Ibrahim, sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Ketahanan ekonomi makro dalam negeri juga ditunjukkan dengan cadangan devisa sebesar US$144,9 miliar pada akhir Mei 2026, realisasi investasi Rp498,8 triliun pada kuartal I/2026, serta PMI Manufaktur yang bertahan di area ekspansi marjinal pada posisi 50.
Di balik raihan positif tersebut, Ibrahim memberikan catatan mengenai performa neraca perdagangan yang meskipun surplus selama 72 bulan berturut-turut, namun trennya kian mengecil.
Berdasarkan berbagai sentimen yang berkembang, Ibrahim memproyeksikan rupiah akan meneruskan tren penguatannya pada perdagangan Jumat (26/6/2026).
"Untuk perdagangan besok [Jumat], mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp17.940 sampai Rp.17.990 per dolar AS," pungkas Ibrahim, sebagaimana dilansir dari sumber berita.