Bitcoin Terpuruk ke USD 60.991, Sentimen Suku Bunga Bebani Pasar Kripto

Bitcoin Terpuruk ke USD 60.991, Sentimen Suku Bunga Bebani Pasar Kripto
Ilustrasi: Bitcoin terpuruk ke posisi US$ 60.991 di tengah penguatan dolar AS dan prediksi kenaikan suku bunga The Fed. (Gambar: NET)

JAKARTA – Nilai Bitcoin (BTC) merosot pada perdagangan hari ini, Kamis (25/6/2026), setelah sempat terjerembap di bawah angka psikologis US$ 60.000. Penguatan dolar AS serta meningkatnya prediksi kenaikan suku bunga The Fed memicu gelombang pelepasan di pasar kripto dan menarik sebagian besar aset digital ke zona negatif.

Berdasarkan data CoinMarketCap pada pukul 07.10 WIB, total nilai pasar kripto global menyusut 2,17 persen menjadi US$ 2,1 triliun. Secara spesifik, nilai Bitcoin (BTC) terpangkas 2,8 persen ke posisi US$ 60.991 per koin atau berkisar Rp 1,09 miliar.

Indeks CoinDesk 20 yang menggambarkan kinerja 20 aset kripto terbesar mencatat penurunan 2,34 persen. Ethereum anjlok 2,91 persen ke angka US$ 1.620, Binance (BNB) menyusut 2,43 persen ke US$ 564, XRP tertekan 3,23 persen ke US$ 1,07, Dogecoin (DOGE) turun 3,39 persen ke US$ 0,07, dan Solana (SOL) terpangkas 2,35 persen menjadi US$ 68,1.

Disadur dari Tradingview, nilai Bitcoin kembali terpuruk dan sempat jatuh di bawah angka psikologis US$ 60.000, yang merupakan titik terendah sejak akhir 2024. Penurunan tersebut terjadi di tengah menguatnya dolar AS dan meningkatnya prediksi kenaikan suku bunga The Fed.

Tekanan terhadap Bitcoin mencuat setelah pasar semakin meyakini bahwa bank sentral AS masih memiliki peluang untuk menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang. Pandangan agresif dari Ketua The Fed Kevin Warsh membuat para pemodal mulai mengurangi porsi pada aset berisiko dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih menarik di tengah tren kenaikan imbal hasil.

Tidak hanya Bitcoin, instrumen lindung nilai seperti emas dan perak juga menderita tekanan yang berat. Nilai emas jatuh di bawah US$ 4.000 per ons troi untuk pertama kalinya dalam tujuh bulan terakhir, sementara perak terlempar di bawah US$ 60 per ons, titik terendah sejak akhir 2025.

Pengamat menilai penurunan serempak ini merefleksikan hilangnya pesona debasement trade, yaitu strategi investasi yang selama beberapa tahun terakhir bersandar pada emas, perak, dan Bitcoin sebagai instrumen pelindung nilai dari inflasi serta penurunan nilai mata uang. Keperkasaan dolar AS menjadi faktor utama yang memberatkan pasar, dengan indeks dolar AS tercatat menanjak sekitar 2,8 persen sepanjang bulan ini.

Penguatan dolar AS menjadikan emas dan perak lebih mahal bagi para pemodal global. Di saat yang sama, kenaikan prediksi suku bunga memperbesar opportunity cost untuk menggenggam aset yang tidak menawarkan imbal hasil seperti logam mulia dan kripto.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index