Emas Melemah, Pasar Fokus pada Proyeksi Suku Bunga Federal Reserve

Emas Melemah, Pasar Fokus pada Proyeksi Suku Bunga Federal Reserve
Ilustrasi: Nilai emas global melemah seiring penguatan dolar AS pada perdagangan Selasa (23/6/2026). (Foto: NET)

JAKARTA – Nilai emas global menyusut pada sesi perdagangan Selasa (23/6/2026) karena dolar Amerika Serikat (AS) melonjak ke posisi tertingginya dalam satu tahun terakhir. Kenaikan dolar ini sejalan dengan meningkatnya prediksi pasar terkait potensi kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve (The Fed).

Penguatan dolar tersebut menggeser dukungan bagi emas yang sebelumnya datang dari penurunan harga minyak mentah di tengah perkembangan dialog damai antara Amerika Serikat dan Iran. Harga emas di pasar spot terpangkas 1,93 persen menuju angka USD 4.110,74 per troy ons.

Penguatan mata uang dolar AS menyebabkan komoditas emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang di luar dolar. “Untuk saat ini, emas dan perak tidak terlalu memperhatikan situasi di Timur Tengah. Saya pikir pasar lebih mencermati pernyataan Federal Reserve pekan lalu,” kata Ahli Strategi Pasar Senior StoneX, Bob Haberkorn, dikutip Reuters sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Indikasi hawkish dari Ketua The Fed, Kevin Warsh, mengenai komitmen meredam inflasi telah memicu investor menaikkan taruhan pada potensi kenaikan suku bunga. Berdasarkan indikator CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember kini mencapai 86 persen, melonjak dari 61 persen sebelum rapat The Fed pekan lalu.

Walaupun emas berfungsi sebagai instrumen pelindung nilai dari inflasi, logam mulia ini cenderung tertekan dalam lingkungan suku bunga tinggi karena tidak memberikan imbal hasil. Dari sisi geopolitik, Amerika Serikat memberikan kelonggaran sanksi kepada Iran selama 60 hari menyusul pembicaraan damai tahap awal, meski gejolak di Lebanon dilaporkan masih berlangsung.

Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan bahwa dialog dengan perwakilan pejabat Iran di Swiss telah membangun landasan menuju perjanjian damai permanen. Sementara itu, arus pelayaran kapal tanker di Selat Hormuz mulai meningkat setelah sempat tersendat akibat eskalasi regional.

Harga minyak mentah jenis Brent merosot lebih dari 1 persen pada perdagangan Selasa. Pasar kini mengantisipasi rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS pada hari Kamis yang menjadi indikator inflasi acuan The Fed untuk arah kebijakan moneter ke depan.

Di pasar logam mulia lainnya, nilai perak spot anjlok 4,9 persen ke angka USD 61,98 per ons. Platinum melemah 1,2 persen menuju harga USD1.657,92 per ons dan paladium merosot 2,6 persen menjadi USD1.232,28 per ons.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index