JAKARTA – Nilai emas mengalami penurunan dalam beberapa waktu belakangan ini di tengah pergeseran sentimen pasar internasional. Pengamat menganggap kemerosotan tersebut sesungguhnya menciptakan momentum akumulasi bagi para penanam modal jangka panjang.
Nilai emas hari ini terpantau melorot sebesar 0,39% menuju level US$ 4.094,88 per ons troi. Sementara itu, pada Selasa (24/6/2026), nilai emas ditutup jatuh sedalam 1,94% ke angka US$ 4.110,11 per ons troi.
Chief Operating Officer sekaligus Senior Portfolio Manager KraneShares Mount Lucas Managed Futures Index Strategy ETF (KMLM) Jerry Prior mengungkapkan, penyusutan nilai emas saat ini tidak merusak tren besar yang tetap menyokong penguatan jangka panjang logam mulia tersebut. “Dengan repricing emas saat ini, ini mungkin level masuk yang cukup bagus,” ujar Prior dikutip dari Kitco News sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Prior menegaskan bahwa isu de-dolarisasi global tetap menjadi elemen struktural yang menyokong tingkat permintaan emas. Menurut pandangannya, kian banyak negara yang memangkas ketergantungan pada mata uang dolar AS maupun surat utang pemerintah Amerika Serikat (AS).
“Ada tema de-dolarisasi jangka panjang yang bersifat struktural dan akan bertahan,” katanya sebagaimana dilansir dari sumber berita. Prior memaparkan bahwa beban berat pada pergerakan emas beberapa minggu terakhir disebabkan oleh aksi lepas aset oleh investor spekulatif, sovereign buyer, hingga pengelolaan dana berbasis sistematis.
Pergeseran proyeksi kebijakan suku bunga The Fed serta meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah ikut andil dalam menekan harga. Meski begitu, Prior menganggap mayoritas tekanan tersebut telah diantisipasi oleh harga saat ini, walau gejolak jangka pendek masih berpotensi terjadi.
Ia menggarisbawahi bahwa emas tetap memegang peran sebagai aset defensif dalam portofolio investasi di tengah ketidakpastian ekonomi dan fluktuasi inflasi. “Emas adalah aset defensif dalam portofolio,” ujarnya sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Prior memprediksi laju inflasi global akan terus bertahan di atas posisi sebelum masa pandemi akibat pergeseran rantai pasokan dan tren reshoring. Melalui proyeksinya, nilai emas dinilai masih memiliki ruang untuk menguat menuju rentang US$ 4.500 per ons pada penutupan tahun, disokong aksi beli bank sentral dan tren de-dolarisasi.
“Emas masih dalam tren naik jangka panjang. Koreksi ini lebih seperti reset dalam siklus bullish,” katanya sebagaimana dilansir dari sumber berita.