JAKARTA – Nilai kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) merosot tajam pada Selasa (23/6/2026), sehingga menghentikan tren kenaikan selama dua hari terakhir. Faktor utama penurunan ini adalah maraknya aksi ambil untung (profit taking) dan penurunan harga minyak nabati pesaing.
Berdasarkan data penutupan BMD Selasa (23/6/2026), kontrak berjangka CPO untuk periode Juli 2026 berkurang 10 Ringgit Malaysia menjadi 4.600 Ringgit Malaysia per ton. Sementara itu, kontrak berjangka CPO untuk Agustus 2026 merosot 13 Ringgit Malaysia ke level 4.628 Ringgit Malaysia per ton.
Kontrak berjangka CPO untuk September 2026 terkoreksi 14 Ringgit Malaysia menjadi 4.658 Ringgit Malaysia per ton. Di sisi lain, kontrak berjangka CPO untuk Oktober 2026 melemah 17 Ringgit Malaysia ke posisi 4.684 Ringgit Malaysia per ton.
Kontrak berjangka CPO untuk November 2026 tergerus 23 Ringgit Malaysia menjadi 4.706 Ringgit Malaysia per ton. Selain itu, kontrak berjangka CPO untuk Desember 2026 jatuh 21 Ringgit Malaysia menuju 4.733 Ringgit Malaysia per ton.
“Terjadi aksi profit taking setelah reli terakhir. Harga yang sudah tinggi menjadi tekanan bagi pasar karena pembeli mulai membatasi pembelian,” ujar Direktur Pelindung Bestari, Selangor, Paramalingan Supramaniam dikutip dari Bernama sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Di pasar global, harga minyak kedelai (soyoil) di Chicago Board of Trade terpantau stagnan, sementara kontrak aktif di Dalian Commodity Exchange menyusut 0,27%. Kontrak minyak kelapa sawit di bursa yang sama juga turut tertekan dengan penurunan sebesar 0,71%.
Kondisi tersebut memperberat harga CPO karena komoditas-komoditas tersebut saling menggantikan dalam pasar minyak nabati internasional. Meskipun demikian, sektor ekspor memberikan sentimen positif bagi pasar.
Data dari surveyor kargo Intertek Testing Services mencatat bahwa pengapalan produk minyak sawit Malaysia untuk periode 1–20 Juni melonjak 19,1% dibandingkan bulan sebelumnya. Bahkan, badan inspeksi AmSpec Agri Malaysia mencatatkan kenaikan yang lebih tinggi, yakni mencapai 25% secara bulanan.
Di sisi lain, penguatan mata uang ringgit turut membebani harga CPO karena membuat komoditas ini menjadi lebih mahal bagi importir yang menggunakan mata uang asing. Ringgit terpantau terapresiasi sebesar 0,19% terhadap dolar AS.
Berdasarkan indikator teknikal, analis Reuters Wang Tao memperkirakan CPO masih berpeluang menguji titik resistance 4.697 ringgit per ton pada triwulan ketiga. Harga berpotensi mengalami reli lanjutan menuju rentang 4.933–5.226 ringgit jika terdapat daya dorong penguatan kembali.