Prodia Diagnostic Line Siap Melantai di Bursa Efek Indonesia Juli

Prodia Diagnostic Line Siap Melantai di Bursa Efek Indonesia Juli
Ilustrasi: PT Prodia Diagnostic Line siap melakukan IPO di Bursa Efek Indonesia pada Juli 2026. (Foto: NET)

JAKARTA – PT Prodia Diagnostic Line (PRDL) akan melakukan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia pada 9 Juli 2026. Aksi korporasi ini diharapkan menjadi momentum bagi perseroan untuk memperkokoh struktur keuangan serta mendorong ekspansi bisnis ke depan.

President Director PT Prodia Diagnostic Line, Cristina Sandjaja, menjelaskan bahwa rencana IPO ini mengacu pada pengalaman positif entitas dalam grup Prodia yang telah terlebih dahulu menjadi perusahaan terbuka. “Pertimbangan utama IPO ini mengacu pada manfaat yang telah diperoleh PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) sejak menjadi perusahaan terbuka. Dengan menjadi perusahaan publik, kami ingin meningkatkan kualitas tata kelola sebagai bagian dari penguatan fundamental bisnis,” katanya sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Terkait penggunaan dana, PRDL akan mengalokasikan sekitar Rp35,7 miliar untuk melunasi sebagian fasilitas kredit yang hingga Desember 2025 tercatat sebesar Rp94,3 miliar. Pelunasan utang tersebut diproyeksikan menurunkan liabilitas jangka pendek sebesar 62,50% dan liabilitas jangka panjang sebesar 35,52%.

Selain itu, beban bunga perseroan diperkirakan menyusut hingga 81,45% atau sekitar Rp1,9 miliar, yang diharapkan dapat meningkatkan profitabilitas perusahaan. Dana hasil IPO juga akan dialokasikan sekitar 28,92% untuk belanja modal, seperti pembelian mesin, peralatan kalibrasi, kendaraan operasional, dan pengembangan perangkat lunak.

Investasi ini bertujuan untuk memperkuat layanan purna jual, memperluas jangkauan kalibrasi, serta meningkatkan efisiensi operasional melalui integrasi data dan otomatisasi. Selain itu, perseroan melakukan relayout fasilitas produksi dan penambahan Air Handling Unit untuk mendukung pengembangan produk biomolekuler.

“Investasi pada sistem software juga menjadi fokus untuk integrasi data, otomatisasi proses, serta mendukung pengambilan keputusan bisnis yang lebih akurat,” tambah Cristina sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Ke depan, strategi pertumbuhan PRDL difokuskan pada peningkatan penjualan melalui ekspansi jaringan distribusi dan percepatan peluncuran produk baru. Perseroan juga akan memperkuat sinergi dengan PRDA, tidak hanya sebagai pemasok reagen dan alat laboratorium, melainkan juga sebagai mitra pengembangan produk diagnostik.

“Pertumbuhan laba akan didorong melalui efisiensi operasional dan peningkatan nilai TKDN, sehingga perseroan tetap kompetitif sebagai mitra strategis bagi pelaku global maupun lokal,” tambah Cristina sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Dalam 2-3 tahun ke depan, PRDL menargetkan pertumbuhan pendapatan dan laba di atas 20% per tahun, melampaui rata-rata pertumbuhan industri alat kesehatan yang berada di angka 7,5%. Untuk mencapai target tersebut, perseroan akan memperluas portofolio produk mulai dari instrumen diagnostik, reagen biomolekuler, hingga layanan kalibrasi.

Saat ini, PRDL telah memiliki basis pelanggan yang kuat dengan lebih dari 70% fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia menggunakan produknya. Dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) rata-rata di atas 70%, perseroan optimistis dapat mempertahankan posisinya sebagai pemain kunci dalam industri alat kesehatan diagnostik nasional.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index