JAKARTA – Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan Selasa, 23 Juni 2026 waktu setempat. Investor terlihat meninggalkan saham-saham teknologi dan kecerdasan buatan, sementara dana mulai mengalir ke sektor keuangan serta saham defensif.
Indeks Dow Jones Industrial Average naik 148,01 poin atau 0,29 persen ke level 51.712,71. Sebaliknya, indeks S&P 500 turun 27,79 poin atau 0,37 persen menjadi 7.472,79, sementara Nasdaq Composite merosot 351,33 poin atau 1,32 persen ke 26.166,60.
Pergerakan tersebut mencerminkan rotasi sektor yang cukup tajam di Wall Street. Saham-saham yang menjadi motor reli pasar, terutama sektor semikonduktor dan kecerdasan buatan, tertekan akibat kekhawatiran terhadap valuasi dan pengembalian investasi dari belanja infrastruktur yang membesar.
Nvidia turun 2,6 persen ke US$121,50 per saham dan AMD anjlok 4,8 persen menjadi US$154,20. Sementara itu, Broadcom terkoreksi 3,9 persen ke USD1.620.
Tekanan juga menjalar ke saham teknologi besar lainnya seperti Tesla yang turun 2,35 persen menjadi USD 178,90. Meta Platforms melemah 1,1 persen, Alphabet turun 0,4 persen, dan Amazon terkoreksi 0,45 persen.
Ross Mayfield, Investment Strategy Analyst Baird, menyatakan koreksi tersebut dipengaruhi oleh konsentrasi arus dana yang sebelumnya terlalu besar ke sektor kecerdasan buatan. “Perdagangan sejauh ini sangat terkonsentrasi dan didorong oleh arus dana, yang membuatnya rentan terhadap pergeseran sentimen yang relatif kecil. Ini tampaknya tidak terkait erat dengan fundamental AI itu sendiri, melainkan karena konsentrasi yang padat dan arus masuk modal yang kuat,” kata Ross sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Di tengah tekanan pada sektor teknologi, investor justru memburu saham-saham yang diuntungkan oleh prospek suku bunga tinggi. JPMorgan Chase naik 0,75 persen ke USD198,50 per saham, yang turut membantu menopang Dow Jones agar tetap berada di zona hijau.
Rotasi ini terjadi seiring meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve masih berpeluang menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun. Pasar memperkirakan peluang sekitar 60 persen untuk kenaikan suku bunga pada 2026 akibat kekhawatiran bahwa inflasi belum sepenuhnya terkendali.
Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan komitmen bank sentral terhadap stabilitas harga dan menyoroti inflasi yang masih berada di atas target 2 persen. Ekspektasi kebijakan moneter ketat tercermin pada pasar obligasi, dengan yield Treasury tenor dua tahun di level 4,78 persen dan tenor 10 tahun di sekitar 4,45 persen.
Kondisi tersebut mengurangi daya tarik saham teknologi yang selama ini memperoleh manfaat dari lingkungan suku bunga rendah. Kiran Ganesh, Managing Director dan Global Head of Investment Communications UBS Group, mengatakan perusahaan yang bergantung pada pendanaan utang berpotensi menghadapi tekanan lebih besar jika biaya pinjaman terus meningkat.
“Seiring merangkaknya biaya pinjaman, korporasi yang mengandalkan pengeluaran berbasis utang kemungkinan besar akan tertekan. Jika perusahaan perlu terus menarik utang sebelum menghasilkan imbal hasil, investor akan mulai mempertanyakan keberlanjutannya,” ujarnya sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Investor saat ini bersikap hati-hati menjelang rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat pada 25 Juni 2026. Konsensus pasar memperkirakan inflasi PCE tahunan naik menjadi 4,1 persen, dengan inflasi inti diproyeksikan berada di level 3,3 persen.
Di pasar lain, indeks dolar AS menguat 0,35 persen ke level 105,65 karena permintaan aset safe haven. Harga minyak dunia melanjutkan pelemahan, di mana Brent turun 1,2 persen ke USD78,10 per barel dan WTI melemah 1,15 persen ke USD75,32 per barel.