Dua Emiten Baru, JECX dan BACH Siap Melantai di Bursa Efek Indonesia

Dua Emiten Baru, JECX dan BACH Siap Melantai di Bursa Efek Indonesia
Ilustrasi: JECX dan BACH resmi siap melantai di Bursa Efek Indonesia dengan penawaran saham perdana. (Foto: NET)

JAKARTA – Bursa Efek Indonesia (BEI) akan segera menyambut kehadiran dua emiten baru. PT Nitrasanata Dharma, pengelola jaringan rumah sakit mata JEC Eye Hospitals & Clinics, serta PT Bach Multi Global yang bergerak di bidang infrastruktur telekomunikasi sedang bersiap melakukan penawaran umum perdana saham.

PT Nitrasanata Dharma dengan kode saham JECX menawarkan maksimal sekitar 487,98 juta saham atau 10% dari modal pasca-IPO. Selain itu, JECX juga menawarkan 162,88 juta saham divestasi milik DR. Dr. Waldenius Girsang, SpM(K) yang mewakili 2% dari modal ditempatkan dan disetor.

Harga penawaran saham baru dan divestasi tersebut berada di kisaran Rp 1.200–Rp 1.400. Dengan demikian, JECX berpotensi mengumpulkan dana sebesar Rp 683,17 miliar.

Sementara itu, PT Bach Multi Global dengan kode saham BACH menawarkan maksimal 615 juta saham baru atau setara 15,06% dari modal pasca-IPO. BACH menetapkan harga IPO di rentang Rp 400–Rp 500 per saham, sehingga berpotensi meraih dana segar sebesar Rp 246 miliar–Rp 307,50 miliar.

Terkait penggunaan dana, JECX mengalokasikan Rp 40 miliar untuk pelunasan pokok pinjaman ke PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan Rp 100 miliar ke PT Bank HSBC Indonesia. Dana sebesar Rp 185 miliar juga akan disalurkan kepada perusahaan anak, yaitu PT Nitra Sanata Bali, PT Orbita, dan PT JEC Candi Sejahtera.

Di sisi lain, BACH berencana menggunakan Rp 91,02 miliar dana IPO untuk pembayaran utang kepada PT Bank Permata Tbk. Sebanyak Rp 213,48 miliar sisanya akan digunakan sebagai modal kerja untuk pembelian genset.

Manajemen JECX menyebutkan bahwa kinerja operasional grup menunjukkan pertumbuhan dalam dua tahun terakhir. Pada tahun 2025, JECX membukukan pendapatan sebesar Rp 926,76 miliar atau tumbuh 7,59% dari tahun 2024 yang sebesar Rp 887,71 miliar.

"Peningkatan pendapatan tersebut mencerminkan pertumbuhan aktivitas layanan kesehatan mata yang dilakukan oleh grup perseroan selama periode tersebut," sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Strategi perusahaan dalam mendukung kinerja tersebut meliputi penguatan pemasaran, pengembangan layanan subspesialistik, serta adopsi teknologi medis. Perusahaan meyakini kombinasi faktor tersebut berkontribusi terhadap pertumbuhan volume layanan dan kinerja keuangan secara berkelanjutan.

Sementara itu, BACH melaporkan pendapatan sebesar Rp 1,73 triliun pada tahun 2025, naik 39,66% dari posisi Rp 1,24 triliun pada tahun sebelumnya. Manajemen BACH menjelaskan kenaikan tersebut didorong oleh peningkatan pendapatan segmen penjualan dan penyewaan genset.

Untuk menjaga keberlanjutan, manajemen berupaya memperluas basis pelanggan, meningkatkan kualitas layanan, serta mengoptimalkan utilisasi armada genset. Perusahaan juga berfokus mengembangkan segmen usaha dengan margin yang lebih baik.

Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengungkapkan bahwa investor perlu mencermati belanja modal operator telekomunikasi untuk menilai prospek BACH. Hal ini dikarenakan permintaan genset sangat bergantung pada aktivitas di sektor industri dan pertambangan.

Untuk JECX, faktor yang perlu diperhatikan adalah daya beli masyarakat kelas menengah ke atas serta kebijakan di sektor kesehatan. Nafan menyarankan agar calon investor mengukur harga penawaran menggunakan rasio valuasi seperti P/E dan PBV dibandingkan dengan rata-rata industri.

Investor juga perlu memperhatikan alokasi dana IPO, terutama jika terdapat porsi saham divestasi dari pemegang saham lama. "Perhatikan juga jika ada porsi saham divestasi dari pemegang saham lama yang dijual ke publik, seperti pada skema JECX, karena dana dari porsi divestasi tersebut mengalir ke pemegang saham penjual, bukan masuk ke kas perusahaan untuk ekspansi," sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Terakhir, porsi saham baru yang dilepas ke publik perlu dicermati karena free float yang kecil dapat memengaruhi likuiditas saham. Hal ini berpotensi memicu volatilitas harga yang tinggi pada awal perdagangan di bursa.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index