IHSG Rebound 16,16 Persen, Analis Soroti Berbagai Isu Kebijakan

IHSG Rebound 16,16 Persen, Analis Soroti Berbagai Isu Kebijakan
Ilustrasi: IHSG rebound 16,16 persen setelah tekanan terburuk dalam 18 tahun terakhir. (Gambar: NET)

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai menunjukkan sinyal kebangkitan setelah sempat mengalami tekanan terburuk dalam 18 tahun terakhir. Kendati demikian, kenaikan tersebut belum dianggap sebagai tanda berakhirnya seluruh tekanan karena pasar masih menunggu kepastian terkait isu struktural dan kebijakan.

IHSG mencatatkan rebound dari posisi 5.317,91 pada intraday 8 Juni 2026 menjadi 6.177,14 pada penutupan 19 Juni 2026, atau melonjak 16,16 persen. Sebelumnya, indeks sempat tertekan hingga turun 38,2 persen sepanjang tahun berjalan.

Analis Indo Premier Sekuritas, Jovent Muliadi dan Axel Azriel, dalam risetnya pada 19 Juni 2026 menyebutkan bahwa penurunan tersebut bahkan melampaui tekanan saat pandemi Covid-19 sebesar 37 persen dan menjadi yang terburuk sejak krisis keuangan global 2008 yang terkoreksi hingga 55 persen. Tekanan tersebut merupakan kombinasi dari peringatan MSCI, penurunan peringkat utang oleh Fitch dan Moody’s, serta ketegangan di Timur Tengah.

Lonjakan harga minyak mentah Brent yang sempat mencapai USD118 per barel turut menekan pasar karena jauh di atas asumsi APBN sebesar USD70 per barel. Kekhawatiran lainnya dipicu oleh kebijakan ekspor satu pintu PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dan skema gross split sektor pertambangan.

Valuasi IHSG pun mengalami penurunan signifikan, dengan rasio P/E turun menjadi 9,8 kali dan P/B menjadi 1,6 kali, jauh di bawah rata-rata 10 tahun. Bahkan dari sisi valuasi, IHSG kini tertinggal dibandingkan dengan India, Malaysia, China, dan Thailand.

Aksi jual oleh investor asing terus berlanjut selama tiga tahun berturut-turut. Hingga Mei 2026, investor asing membukukan jual bersih sebesar Rp64,6 triliun, lebih besar dari masa pandemi yang mencapai Rp61 triliun.

"Arus keluar asing terbesar terjadi pada sektor perbankan sebesar Rp52 triliun, dengan total outflow sejak 2024 mencapai Rp154 triliun," tulis Jovent dan Axel sebagaimana dilansir dari sumber berita. Selain perbankan, tekanan jual asing juga menyasar sektor batu bara, kebutuhan pokok, dan sektor logam.

Pemulihan IHSG dalam sepekan terakhir didorong oleh membaiknya persepsi pasar terhadap isu kebijakan, termasuk kepastian Menteri ESDM mengenai skema royalti dan gross split. Pasar juga mulai merespons positif terhadap rencana peran DSI sebagai perantara serta meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.

Kebijakan kenaikan suku bunga Bank Indonesia sebesar 100 basis poin sepanjang 2026 juga dinilai membantu menjaga stabilitas rupiah. Namun, Indo Premier mengingatkan bahwa ruang fiskal pemerintah tetap terbatas dengan target defisit APBN 2026 sebesar 2,7 persen.

Pasar saat ini masih menunggu keputusan S&P dan MSCI pada akhir Juni untuk menentukan arah pergerakan IHSG. Reformasi struktural pada program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa dianggap krusial demi menjaga kredibilitas fiskal.

Di sisi lain, fundamental perusahaan dinilai tetap solid dengan proyeksi pertumbuhan laba emiten IHSG pada 2026 sebesar 10 persen. Angka ini lebih baik dibandingkan dengan proyeksi pertumbuhan laba di negara berkembang lainnya seperti India, Malaysia, China, dan Thailand.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index