JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) konsisten melanjutkan tren penurunan pada sesi perdagangan Kamis (18/6/2026) akibat himpitan sentimen internasional dan domestik. Pada penutupan perdagangan kemarin, indeks terpangkas 0,78 persen menuju posisi 6.172,34.
Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, memaparkan bahwa pelemahan IHSG didorong oleh kebijakan hawkish The Fed, penantian keputusan MSCI, hingga tekanan pada nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp 17.800 per dolar AS. "IHSG sempat turun cukup dalam seiring sikap hawkish The Fed, antisipasi MSCI review dan tekanan pada rupiah yang sempat berada di kisaran Rp 17.800 per dolar AS," sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Bank Indonesia turut memicu kontraksi pasar setelah mengerek suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur. Langkah moneter tersebut diperkirakan memperlebar ruang tekanan bagi lantai bursa saham dalam jangka pendek.
Secara teknikal, Wafi menegaskan bahwa IHSG masih terjebak dalam jalur penurunan tanpa indikasi pembalikan arah. “Secara teknikal masih downtrend, dengan support di 6.170 dan resistance di 6.400. Belum ada sinyal reversal, sehingga breakout ke atas masih membutuhkan katalis yang kuat,” sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Menghadapi perdagangan Jumat (19/6/2026), pergerakan IHSG akan sangat bergantung pada rilis evaluasi MSCI dan dampak lanjutan kebijakan suku bunga Bank Indonesia. Jika hasil evaluasi MSCI positif, terdapat peluang untuk rebound, namun jika hasilnya kurang memuaskan, indeks berisiko melemah ke rentang 6.000–6.100.
Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, berpandangan bahwa peluang bagi IHSG untuk menguat dalam waktu dekat masih sempit. Indeks diproyeksikan bergerak pada area support 6.058 dan 5.917, dengan resistance di level 6.287 dan 6.516.
Para pelaku investasi diimbau untuk tetap waspada menghadapi dinamika pasar yang dipengaruhi oleh berbagai sentimen domestik maupun luar negeri.