Dolar AS Menguat, Bitcoin Turun ke Level USD 62.932 Hari Ini

Dolar AS Menguat, Bitcoin Turun ke Level USD 62.932 Hari Ini
Ilustrasi: Dolar AS menguat mendorong harga Bitcoin turun ke level USD 62.932 pada Jumat pagi. (Gambar: NET)

JAKARTA – Nilai tukar Bitcoin (BTC) merosot pada perdagangan Jumat (19/6/2026) pagi. Penurunan ini menimbulkan kecemasan bahwa aset kripto dengan kapitalisasi terbesar tersebut berpeluang kembali menguji batas psikologis US$ 60.000, di seiring keperkasaan dolar AS, tingginya imbal hasil obligasi, serta beralihnya atensi pemodal ke sektor kecerdasan buatan (AI).

Data CoinMarketCap pukul 07.30 WIB menunjukkan total kapitalisasi pasar kripto global menyusut 2,2% ke posisi US$ 2,17 triliun. Harga Bitcoin (BTC) hari ini terpangkas 2,53% menuju level US$ 62.932 per koin atau berkisar Rp 1,12 miliar.

Indeks CoinDesk 20 melosot 2,38%, sementara Ethereum ambles 2,34% ke US$ 1.712. Binance (BNB) terpuruk 3,9% ke US$ 578, XRP jatuh 3,43% ke US$ 1,14, Solana (SOL) turun 3,56% menjadi US$ 69,71, serta Dogecoin (DOGE) terpangkas 3,01% ke US$ 0,08.

Pergerakan harga Bitcoin kembali tertekan setelah gagal menembus batas US$ 67.200 di awal pekan. “Pola ini memicu koreksi berkisar 7% serta likuidasi posisi bullish senilai US$ 330 juta, yang sekaligus mempertebal kekhawatiran pasar bahwa mata uang kripto utama ini bisa kembali menguji area US$ 60.000,” sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Pelemahan Bitcoin terjadi saat bursa saham teknologi AS mencatatkan performa kokoh dengan Nasdaq 100 yang bertahan mendekati rekor tertinggi. Analis berpendapat pergerakan tersebut menunjukkan lebarnya jarak antara Bitcoin dengan bursa saham teknologi yang sebelumnya kerap bergerak selaras.

Sentimen positif di bursa saham didorong oleh meredanya tensi geopolitik setelah nota kesepahaman ditandatangani oleh AS dan Iran. Hal ini menekan harga minyak mentah ke level terendah dalam 15 minggu di kisaran US$ 74 per barel, sehingga mereduksi kecemasan terhadap inflasi.

Namun, tekanan pada komoditas digital kian menebal usai Ketua The Fed, Kevin Warsh, berulang kali menegaskan signifikansi dalam memelihara stabilitas harga. Statement tersebut memicu keyakinan bahwa bank sentral AS akan tetap fokus meredam inflasi, sehingga potensi suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama menjadi semakin besar.

Tingkat imbal hasil obligasi AS tenor lima tahun kokoh di level 4,21%, bersamaan dengan menguatnya dolar AS terhadap mata uang utama dunia. Situasi ini kurang menguntungkan untuk instrumen aset tanpa imbal hasil seperti Bitcoin dan emas yang nilainya turun di atas 3%.

Arus perputaran dana investor saat ini mengalir lebih masif ke sektor AI dibandingkan dengan aset kripto. Gairah terhadap industri AI meningkat setelah Presiden Trump mempublikasikan jalinan kerja sama antara Apple dan Intel untuk pengembangan chip di AS.

Sektor AI kini menjadi episentrum perhatian pemodal global pasca-munculnya beragam komitmen investasi jumbo serta rencana IPO anyar di sektor tersebut. “Ada narasi yang pada periode sebelumnya memicu daya tarik investor untuk mengoleksi Bitcoin mulai kehilangan taji, di saat sektor AI menyuguhkan peluang ekspansi yang dinilai jauh lebih menjanjikan,” sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Posisi tawar Bitcoin dalam industri keuangan konvensional saat ini sudah jauh lebih kokoh melalui kehadiran ETF Bitcoin spot dengan dana kelolaan di atas US$ 102 miliar. Pengujian ulang level US$ 60.000 masih mungkin terjadi dalam jangka pendek, dengan tren pergerakan Bitcoin selanjutnya bergantung pada volume permintaan institusional di tengah pergeseran minat pasar ke sektor AI.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index