JAKARTA – Para pelaku pasar di Wall Street mendorong saham turun, sementara imbal hasil obligasi jangka pendek melonjak setelah Federal Reserve memberikan sinyal kenaikan suku bunga. Keputusan ini diambil saat bank sentral mengevaluasi dampak perang Iran terhadap laju inflasi.
Pasar uang kini sepenuhnya memperhitungkan kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober setelah pernyataan Ketua The Fed, Kevin Warsh, mengenai stabilitas harga. Indeks S&P 500 tercatat turun sekitar 1,5 persen, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun naik 16 basis poin menjadi 4,21 persen.
Pejabat The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga tetap tidak berubah dengan pandangan terbelah mengenai kebijakan kenaikan suku bunga tahun ini. Proyeksi terbaru menunjukkan sembilan pejabat memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan, sementara enam di antaranya memproyeksikan minimal dua kali kenaikan.
Sembilan pejabat lainnya memperkirakan tidak ada perubahan atau justru memproyeksikan adanya penurunan suku bunga. "Pesan yang lebih penting datang dari proyeksi suku bunga," kata Bret Kenwell dari eToro sebagaimana dilansir dari sumber berita.
"Pasar sudah bersiap menghadapi suku bunga yang lebih tinggi, tetapi proyeksi The Fed menunjukkan para pembuat kebijakan mungkin bersedia mempertahankan sikap yang lebih hawkish dibandingkan yang diperkirakan investor," ujar Bret Kenwell sebagaimana dilansir dari sumber berita. Dalam pernyataan resminya, para pejabat menekankan bahwa inflasi masih tinggi dan menggambarkan pertumbuhan ekonomi dalam kondisi solid.
Ketua The Fed, Kevin Warsh, menepis kemungkinan adanya peninjauan kembali target inflasi sebesar 2 persen saat menjawab pertanyaan wartawan. "Pertemuan hari ini menegaskan bahwa perubahan sikap The Fed yang lebih hawkish belakangan ini bukan hanya disebabkan oleh kenaikan harga energi," kata Kay Haigh dari Goldman Sachs Asset Management sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Kay Haigh menambahkan bahwa meski harga minyak melemah, setengah dari anggota FOMC memproyeksikan kenaikan suku bunga tahun ini karena kuatnya pasar tenaga kerja dan data inflasi. Sementara itu, Ellen Zentner dari Morgan Stanley Wealth Management menyatakan bahwa langkah The Fed selanjutnya kemungkinan adalah penurunan suku bunga, namun masih membutuhkan waktu hingga inflasi mereda.
Scott Helfstein dari Global X ETFs berpendapat bahwa tekanan inflasi kemungkinan akan melandai dalam beberapa bulan mendatang seiring membaiknya pasokan minyak dari Timur Tengah. "Secara keseluruhan kami tetap berpandangan bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tahun ini, dengan meredanya ketegangan di Timur Tengah dan turunnya harga minyak membantu mengurangi risiko inflasi," kata James McCann dari Edward Jones sebagaimana dilansir dari sumber berita.
"Namun, ambang batas untuk kenaikan suku bunga tampak lebih rendah setelah pertemuan hari ini," ujar James McCann sebagaimana dilansir dari sumber berita. Warsh juga mengumumkan pembentukan satuan tugas untuk meninjau neraca bank sentral senilai US$6,7 triliun sebagai langkah awal perbaikan kebijakan.
Kelompok tersebut nantinya akan memeriksa apakah kebijakan moneter dijalankan melalui instrumen suku bunga atau melalui instrumen neraca keuangan.